Warga Buddha Myanmar umumnya memiliki gambaran buruk tentang Islam dan Rohingya yang dianggap ancaman

Pendemo pendukung Aung San Suu Kyi
Warga Buddha Myanmar punya pandangan sendiri terkait krisis kemanusiaan Rohingya baru-baru ini.

Sejumlah pendukung pemimpin de facto Aung San Suu Kyi meluangkan waktu khusus untuk menyimak pidato mantan aktivis demokrasi Myanmar itu.

Hari itu, Selasa (19/4), warga memberikan dukungan pada Suu Kyi yang tengah jadi sorotan internasional akibat kekerasan di negara bagian Rakhine.

Mereka mengenakan kaos bergambar wanita 72 tahun itu, bahkan muncul kampanye mengganti foto profil Facebook dengan gambar Suu Kyi saat dipenjara junta militer.

Demo pendukung Suu Kyi

PNS 57 tahun, Khin Maung Maung, menyalahkan media internasional atas pemberitaan krisis Rohingya. Menurut Maung, media "memberikan informasi yang salah" terkait krisis di Rakhine.

Ia menuduh media internasional berfokus pada kelompok minoritas seperti Rohingya yang dianggap Myanmar sebagai imigran ilegal 'Bengali', tapi "mengabaikan penderitaan Buddha Rakhine", sebagai agama mayoritas.

Kebanyakan warga Myanmar berpendapat bahwa operasi militer di Rakhine adalah untuk "menangkal serangan militan", bukan pembersihan etnis.

Namun, sejak 25 Agustus, Al-Jazeera mencatat terdapat 420 ribu pengungsi Rohingya yang lari dari Myanmar untuk masuk Bangladesh. Sejumlah kekerasan atau serangan langsung militer Myanmar dilaporkan mengarah ke rombongan pengungsi.

Seorang bekas penduduk Rakhine, Tin Win, percaya bahwa isu kenaikan populasi Muslim di sana merupakan ancaman untuk Myanmar.

Warga Myanmar, Tin Win, berpendapat tentang Rohingya. Mirip dengan pendapat mainstream Buddha nasionalis
Pekerja di perusahaan air itu pernah tinggal di Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine, selama lebih dari dua tahun.

Ia menggambarkan populasi Buddha terancam oleh Muslim.

"Mereka berkembang. Mereka menghasilkan begitu banyak anak, begitu banyak anak", ujarnya, dikutip CNN.

Tin tidak mempermasalahkan kamp isolasi bagi sekitar 120.000 orang Rohingya. Dimana mereka dipaksa tinggal di tempat yang ditentukan Myanmar dengan alasan keamanan.

Ia juga mengaku tak pernah mengunjungi kamp Rohingya, karena diberitahu "mereka terlalu berbahaya bagi orang luar".

"Mereka bisa pergi dari kamp, bukan masalah, mereka datang ke rumah sakit umum, mereka bisa datang berbelanja di pasar", kata Tin tentang aktivitas Rohingya di kamp.

Sekitar 90% populasi Myanmar adalah pemeluk agama Buddha, sementara gagasan Islam ancaman bagi Buddhisme telah lazim, menurut laporan International Crisis Group.

Gagasan ini sering muncul dalam publikasi massal, bahkan muncul lewat ceramah tokoh biksu populer.

Selain Rohingya, Myanmar juga dihuni komunitas Muslim lain. Tahun lalu, sejumlah tindakan intoleran dilakukan kalangan Buddha radikal, seperti serangan terhadap masjid dan penutupan madrasah secara paksa.

Desember lalu, Suu Kyi mengklaim permasalahan Rakhine lebih rumit dari yang diketahui dan mengakui adanya masalah penyusutan populasi Buddha di Rakhine.

Menurutnya, konflik tidak hanya soal etnis minoritas Rohingya, tapi ada isu-isu sensitif dari etnis Buddha di Rakhine yang merasa khawatir dengan eksistensinya.

"Bukan hanya Muslim yang khawatir. Warga Rakhine juga khawatir mengenai fakta bahwa persentase populasi mereka terus menyusut. Tentunya kita tak bisa mengabaikan fakta bahwa hubungan kedua komunitas tidaklah baik dan kami mencoba memperbaikinya", kata Suu Kyi dalam sebuah wawancara dengan media Singapura. (CNN/Al-Jazeera/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.