5 perwira polisi Myanmar dilaporkan tewas

Negara bagian Rakhine/Arakan jadi lokasi pelanggaran HAM terhadap Rohingya
Sekelompok pemuda Rohingya bersenjatakan parang melakukan serangan mendadak terhadap 24 pos polisi dan 1 basis tentara perbatasan Myanmar di negara bagian Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh.

Peristiwa ini terjadi pada Jum'at dini hari.

Menurut sumber pemerintah, sebanyak 5 polisi tewas bersama 7 orang penyerang.

Myanmar mengklaim pasukannya memberi perlawanan balik dan menewaskan "para teroris", sebutan bagi semua milisi perlawanan Rohingya yang terlibat kekerasan dengan pasukan Myanmar.

Pemerintah juga menuduh para penyerang telah memiliki senjata api.

Belum ada laporan kelompok mana yang mengorganisasikan serangan. Namun peristiwa ini dikhawatirkan memunculkan operasi militer yang melanggar HAM.

April lalu sempat muncul sebuah gerakan bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), yang dipimpin oleh Atta Ullah. Mengklaim serangan di perbatasan.

Fokusnya saat ini adalah membela hak-hak warga Rohingya, yang menghadapi penganiayaan dari mayoritas dan pemerintah.

"Kami akan merebut hak-hak kami. Kami akan bertarung melawan pemerintah militer yang kejam", tegasnya.


Myanmar menuduh ARSA disokong dari Arab Saudi, dimana banyak diaspora Rohingya.

Namun, Ata Ullah membantah kelompoknya terkait militan lain atau mendapat dukungan dari luar.

"Kami tidak memiliki kelompok yang membantu kami dari belakang, apakah di sini atau di luar negeri. Kami bertahan di sini hanya dengan menjual Sapi dan Kerbau", katanya.

Negara bagian Rakhine menjadi lokasi kekerasan horizontal dan vertikan.

Etnis minoritas Rohingya terlibat konflik dengan etnis Buddha Rakhine. Selain itu, pasukan militer Myanmar diduga melakukan upaya pembersihan etnis terhadap Rohingya.

Wilayah Rakhine relatif miskin, selama bertahun-tahun kelompok Buddha lokal kurang harmonis dengan pemerintah pusat. Namun mereka sepakat bahwa Rohingya bukan bagian dari negara bagian.

Kondisi ini memperparah kehidupan Rohingya yang dianggap imigran ilegal "Bengali".

Dengan alasan operasi keamanan pasca serangan pos polisi perbatasan Oktober tahun lalu, militer Myanmar disebut melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. (CNN)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.