Inilah kisah karomah, atau hal luar biasa di masa perjuangan almarhum Abu Muhammad Bilal yang telah gugur dalam pertempuran Jabal al-Akrad

Tubuh Bilal sempat terkena luka bakar akut, lalu sembuh, sebelum akhirnya gugur pada 2015
Inilah kisah karomah, atau hal luar biasa di masa perjuangan almarhum Abu Muhammad Bilal yang telah gugur dalam pertempuran Jabal al-Akrad, Latakia.

Seorang pemuda ksatria berusia 28 tahun. Walaupun berstatus komandan militer, ia memperhatikan nasib warga sipil. Grup tempurnya menjamin keamanan kegiatan kemanusiaan di sekitar Jabal al-Akrad.

Meski masih muda ia adalah pimpinan sebuah grup pejuang FSA, brigade mujahidin 'Katibah asy-asyahid Usamah Mahau'.

Nama katibah ini diambil dari saudaranya yang gugur pada awal gerakan perlawanan suku-suku Sunni di Jabal Akrad, Latakia.

Bilal Mahau
Warga sipil Ahlusunnah di Latakia utara menikmati keramahan grup tempur di bawahnya. Di luar masa perang, personil FSA Bilal seperti menjadi 'orang biasa' dan membantu sejumlah urusan warga sipil.

Dengan pangkat sebagai pimpinan tertinggi sebuah brigade, tak diragukan lagi komitmennya dalam bertempur melawan loyalis rezim di garis depan daerah perbukitan.

Ia mahir menggunakan senjata ringan hingga peralatan berat. Abu Muhammad, begitu ia dikenal, adalah seorang qannash/sniper, operator senjata anti tank, serta pelontar roket yang handal.

Bilal sangat Islami, anak buahnya terus digembleng dengan ilmu agama agar memperhatikan adab-adab peperangan dan agar perjuangan mereka bernilai jihad.

Suatu ketika, kota Kasab yang sebelumnya dibebaskan para pejuang di pertempuran al-Anfal direbut lagi oleh kubu rezim. Di saat yang sama, tentara rezim melakukan pergerakan melalui gunung nabi Yunus.

Latakia utara diincar oleh rezim Assad karena hanya tinggal daerah itu yang dikuasai oposisi. Dimana pada dasarnya provinsi ini adalah basis Syi'ah Nushairiyah.

Suasana sangat mencemaskan hari demi hari. Karena jumlah pasukan pro rezim sangat banyak. Termasuk milisi Syi'ah Rafidhah yang datang dari Iran dan munculnya tentara bayaran Rusia.

Kekhawatiran berlalu segera karena pertolongan Allah diberikan untuk pejuang Islam, 2 tank hancur dan puluhan tentara rezim tewas.

Rutinitas pertempuran terus berlanjut. Agar menambah daya gedor serangan Bilal bersama beberapa prajuritnya menyusup mendekati tempat musuh di gunung nabi Yunus.

Mereka membekali diri dengan roket Jahanam dan mortar.

Roket Jahanam merupakan senjata rumahan buatan pejuang Sunni menggunakan tabung gas yang diisi TNT, mempunyai daya ledak hampir setara bom birmil rezim Assad.

Bermula dari roket yang dilontarkan. Baru setengah serangan, tanpa disadari ada percikan api membakar ilalang kering, api menjalar menuju tempat roket tersisa.

Terjadilah peristiwa yang tidak diinginkan karena nyala api menyambar sisa roket Jahanam dan mortar.

Semua meledak hampir bersamaan menimbulkan ledakkan dahsyat bersahutan.

Tanah bergoncang keras saking kuatnya ledakkan, api berpijar ke arah sang komandan membakar seluruh tubuh dan yang paling parah adalah wajahnya karena ia melihat ke arah api ledakan. Bilal tumbang tak sadarkan diri.

Di sinilah keajaiban dialami sang komandan. Prajuritnya segera mengevakuasi ke rumah sakit yang ada. Ya, ia masih hidup setelah 5 roket jahannam dan 5 mortar meledak tepat di hidungnya.

Padahal, sebuah roket saja cukup menghancurkan bangunan berlantai tiga!

Untungnya lagi, roket yang hendak diluncurkannya tidak ikut meledak. Sekiranya terjadi, hampir pasti tubuh Bilal tercincang tanpa bentuk. Namun sungguh Allah masih menyayanginya.

Selepas insiden, ia menderita luka bakar sangat parah di sekujur tubuhnya, terutama bagian wajah.

Namun ajaibnya hanya berselang beberapa minggu keadaan Bilal membaik. Bahkan betul-betul pulih. Membuatnya kembali memimpim pasukan di garis depan pertempuran tanpa henti di gunung Latakia. Konflik yang berbalut antara permusuhan sektarian dan pemerintah diktator.

Suku Alawite (Nushairy) memihak Assad, sementara umat Islam (Sunni) menginginkan kebebasan atau digantinya rezim.

Bagi orang-orang seperti Bilal dan kombatan Latakia lain, perang bukan sekedar motif ideologi, tapi juga hak mempertahankan tanah dan kehormatan. Karena militer Assad menciptakan sebuah pembersihan etnis di Jabal Akrad, dengan tujuan perubahan demografi.

Hari bahagia berlangsung bagi sang komandan, Bilal akhirnya menikah dengan kakak perempuan salah satu anak buahnya.

Sementara semua orang takjub atas kesembuhannya, wajah rupawannya kembali seakan tidak pernah terbakar bom.

Tapi ketentuan takdir berlaku pada siapapun. Jika sebelumnya Bilal selamat dari 10 ledakkan roket, berikutnya ia gugur akibat hantaman roket musuh.

Kebahagiaan pernikahan Bilal berakhir cepat, namun (Insya Allah) ia terpilih sebagai syuhada.

FSA Bilal Mahau adalah gerakan oposisi Islamis-Nasionalis. Dianggap sebagai grup tempur moderat oleh berbagai negara dan mendapat pengakuan karena terlibat pembicaraan politik yang disponsori PBB.

Bahkan pernah terjadi ketegangan antara pejuang Sunni lokal dengan kelompok militan asal Irak yang merangsek ke Latakia.

Militan ultra-ekstrimis tersebut diusir dari Latakia karena meneror warga dan tindakan arogan lain.

~~Dikisahkan oleh jurnalis perang Suriah (2015)~~
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.