Saat ini, kelompok militan ISIS terdesak di 2 ibukota kembar mereka. Raqqah dan Mosul

Abu Mushab az-Zarqawi dan Bin Laden (Ilustrasi)
Saat ini, kelompok militan ISIS terdesak di 2 ibukota kembar mereka. Raqqah dan Mosul.

Serangan terus dilancarkan oleh milisi Kurdi di Suriah, sementara Mosul, Irak, nyaris habis.

Kekalahan ISIS bukanlah perkara main-main, karena kedua kota menjadi simbol propaganda "kesulsesan Khalifah Baghdadi" selama 3 tahun terakhir.

Sementara daerah-daerah yang tersisa adalah wilayah pinggiran tempat inkubasi paham mereka di masa gerilya.

Berikut rangkuman perjalanan kelompok militan dari saat mulai penyebaran paham hingga sekarang:

Akibat ulah AS di Irak, 2003, yang mengubah peta politik Timur Tengah, negara itu terus mengalami konflik yang bergolak.

Hal ini meningkatkan sektarianisme, Syi'ah ambil untung di Irak, dan Kurdi menetapkan otonominya di utara, sehingga rezim yang berdiri kacau.

Wilayah Sunni Arab jadi daerah tidak stabil untuk membangkitkan kekuatan terpadu, karena berkembangnya kelompok ekstrimis yang otomatis jadi musuh semua pihak.

ISIS muncul memanfaatkan kelemahan negara yang dilanda pemberontakan atau perang. Untuk mengambil alih perlawanan itu sendiri sesuai keinginan mereka.

Karena itulah, saat revolusi Suriah meletus, mereka menyeberang ke barat dari Irak.

Abu Mushab az-Zarqawi
Menetasnya kelompok ini tak bisa lepas dari nama Abu Mushab Az-Zarqawi atau Ahmad Fadil Nazal al-Khalaylah.

Zarqawi adalah murid dari tokoh mentor kalangan Jihadis garis keras, Abu Muhammad al-Maqdisi yang terkenal dengan konsep "agama demokrasi" dan mengkafirkan banyak pemerintah negeri Muslim.

Keduanya bertemu di Afghanistan di masa perang melawan Soviet. Ketika kembali ke Yordania, mereka dijebloskan ke penjara Sawaqah oleh pemerintah.

Pergantian Raja di Yordania memunculkan sebuah kebijakan baru terkait tahanan radikal.

Zarqawi salah satu yang "beruntung", ia bisa segera kabur ke Pakistan, lalu masuk kembali ke Afghanistan.

Walau berkorespondensi, namun Zarqawi tidak mau melebur dengan al-Qaeda atau Taliban. Di Afghanisan ia membentuk kelompok militannya sendiri di Herat pada awal 2000-an.

Kerja sama dengan al-Qaeda belum masuk ke ranah organisasi. Jaringannya mulai diisi petempur dengan latar belakang mirip: Lahir dalam kemiskinan, jadi radikal dalam penjara, tingkat pendidikan rendah, juga semangat tinggi tapi memiliki pemahaman Islam tak seberapa.

Invasi AS ke Afghanistan dimulai pada bulan Oktober 2001. AS menuduh al-Qaeda (Osama bin Laden) sebagai dalang serangan 11 September. Sementara pemerintah Taliban dicap sebagai "sponsor teroris".

Serangan George Bush berhasil memukul Taliban keluar dari kota-kota besar kekuasaannya, serta menghancurkan berbagai kamp militan milik al-Qaeda dan Zarqawi.

Az-Zarqawi keluar Afghanistan dan menuju Iran untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa pendukungnya. Ia juga memandang Irak akan jadi medan perang selanjutnya.

Disamping itu, Zarqawi dilaporkan pernah berencana mengebom Yordania dengan sasaran Barat dan Yahudi (Israel).

Maret 2003, Bush mengirim serdadunya menyerang negara lain. Serangan ilegal tanpa restu PBB tersebut beralasan untuk menghukum Saddam Hussein yang dituduh menyimpan senjata pemusnah massal dan "sponsor teroris" (belakangan hanya hoax).

Di sinilah Zarqawi mendirikan kelompok bernama 'Ansharul Islam' dan akhirnya terikat hubungan organisasi dengan al-Qaeda.

Al-Qaeda sendiri ingin terlibat perang melawan AS di Irak, dengan cara gerilya yang membuat kerugian AS jika berlangsung lama.

Zarqawi sempat mengalami kesulitan membentuk dan mengembangkan al-Qaeda di Irak, yang masih diduduki AS.

Namun ketegangan sektarian yang meningkat membuatnya mendapat pengikut dan sumber daya bagi organisasi militan itu.

Invasi AS yang menjatuhkan kekuasaan Saddam Hussein membuat Ba'ats Irak bubar.

Sejumlah nasionalis Arab ini akhirnya tertarik dengan ideologi Zarqawi, karena satu kesamaan, membenci Syi'ah dan AS. Belakangan diketahui matan Ba'ats punya posisi tinggi di ISIS, misalnya Haji Bakr yang tewas pada Januari 2014 di utara Suriah.

Para pemeluk Syi'ah dipandang sebagai pengkhianat karena bersuka cita atas kemenangan 'orang kafir' (AS).

Di saat Perdana Menteri Syi'ah, Nuri al-Maliki membuat kebijakan berbasis sektarianme, Zarqawi berhasil mengambil hati sejumlah komunitas Sunni dan mantan Ba'ats.

Al-Qaeda di Irak (AQI) resmi berdiri tahun 2004, Zarqawi mendapat restu dari Osama bin Laden untuk melakukan perang melawan rezim Syi'ah dan AS.

Zarqawi melihat provokasi konfrontasi Muslim vs sekte Syi'ah akan menguntungkan ideologinya.

"Dia menghasut dengan melakukan serangan terhadap simbol agama Syi'ah, memprovokasi sebuah konflik horizontal (sektarian)", kata Richard Atwood, direktur New York Crisis Group Internasional.

Sebenarnya Osama bin Laden tidak sepakat pada serangan terhadap sipil Syi'ah, karena al-Qaeda menginginkan perang gerilyanya berfokus merugikan AS.

AQI akhirnya berkembang menjadi makin keras daripada al-Qaeda Bin Laden, namun menjadi lebih rapi dan ambisius karena banyaknya mantan loyalis Saddam yang bergabung ke dalamnya.

Mereka akhirnya bertranformasi, mengadopsi nama “Negara Islam Irak” atau ISI.

Sejak 15 Oktober 2006, Abu Ayyub al-Masri mengambil alih kelompok pasca kematian Zarqawi yang dirudal F-16 AS di tempat persembunyian dekat Baghdad.

Al-Masri mendirikan ISI dengan mengangkat Abu Omar al-Baghdadi sebagai pemimpin, sosok yang sebetulnya tak familiar di kalangan Jihadis.

Tahun 2010, Ibrahim alias Abu Bakar al-Baghdadi naik tahta kepempinan ISIS.

Jurang perselisihan antara Muslim (Sunni) dan sekte Syi'ah di Irak semakin melebar. Rezim Maliki yang semakin otoriter, justru memperkeruh masalah, karena lebih memihak sektenya.

Negara tidak bisa menyediakan layanan dasar seperti listrik. Sunni Arab, yang pernah dijanjikan posisi dalam pemerintahan setelah bekerja sama dengan pasukan AS, justru disingkirkan.

Tahun 2011, demonstrasi anti-pemerintah meletus di penjuru negeri. Pasukan keamanan terpecah, dan kekerasan oleh negara memicu kemarahan kelompok oposisi.

ISI mendapat angin dengan provokasi perselisihan melawan penindasan Syi'ah. Mereka membangun kembali jaringan bawah tanah secara bertahap.

Lahirnya nama ISIS
Masuk revolusi Arab 2011, ISI melihat kekacauan dan kekerasan yang terjadi dapat dimanfaatkan melebarkan organisasinya.

Akhir 2011, di bawah arahan al-Qaeda pusat, ISI mengirim seorang letnan, Abu Muhammad al-Jaulani, untuk mendirikan jaringan petempur di Suriah.

Al-Jaulani mendirikan Jabhah Nushrah (JN), yang kemudian terkenal dalam perang melawan Assad karena keberanian dan penggunaan bom berani mati. Anggota JN selalu masuk di garis terdepan pertempuran.

JN awalnya menyembunyikan afiliasi dengan ISI maupun al-Qaeda. Mereka menerima dukungan dengan imbalan pembagian ghanimah dengan Baghdadi.

Menurut Al-Jazeera, di tahun 2012, 50 persen pendanaan JN masih berasal dari ISI di Irak.

Meski diutus ke Suriah via perintah al-Baghdadi, JN rupanya lebih loyal kepada pemimpin al-Qaeda, Dr. Ayman az-Zawahiri.

Tahun 2013, Baghdadi mengumumkan berubahnya ISI menjadi ISIS. Ia bahkan mengirim sendiri militannya yang saat itu diterima tanpa masalah oleh JN maupun oposisi Suriah.

ISIS mengklaim JN adalah miliknya, mengumumkan adanya peleburan, sehingga benih penentangan al-Qaeda pusat mulai muncul.

Baghdadi meminta al-Jaulani meleburkan kelompoknya. Menegaskan baiat kepada ISIS, juga menyerahkan seluruh wilayah.

Jaulani menolak, karena yakin bahwa JN terafiliasi ke al-Qaeda pusat.

Akhirnya terjadi konflik berdarah yang menewaskan ribuan kombatan. Bukan hanya JN, pada akhir 2013, ISIS pun menuntut ketundukan semua kelompok pejuang Suriah yang tak terkait al-Qaeda.

Al-Baghdadi mengklaim organisasinya adalah sebuah daulah (negara), maka pantas meraup baiat dari kelompok bersenjata manapun.

Saat itulah isu takfir ISIS mulai menyeruak. Mereka mengkafirkan semua kelompok oposisi Suriah dengan tuduhan "menganut agama demokrasi".

JN yang awalnya dianggap shahawat (pengkhianat) akhirnya dianggap kafir karena bekerja sama dengan FSA.

Kekejaman dan takfir ISIS bahkan berlaku bagi jajarannya sendiri yang "ragu" pada kekuasaan al-Baghdadi.

Pembunuhan menggunakan bom bunuh diri terjadi di mana-mana, menghantam markas FSA, Ahrar Syam hingga JN. Penculikan dan penggorokan dialami komandan-komandan kelompok Islamis.

Segera setelahnya, ISIS yang terusir dari Idlib dan sekitarnya mulai membangun kekuasaan independen di Suriah dan terbukti mahir mencaplok wilayah yang dikuasai oposisi.

Pasca putus hubungan dengan al-Qaeda, ISIS segera bergerak agresif ke timur Suriah dan berhasil mengusir JN dan FSA.

Mereka memilih melawan pihak oposisi, alih-alih menyerang rezim Assad. Al-Baghdadi sangat jeli merebut daerah kaya minyak dan sumber air di pinggiran sungai Efrat.

Sementara itu, rezim Assad mencari tambahan dukungan dari Iran dan Hezbollah, dengan menggunakan ISIS sebagai alasan, misalnya membahayakan situs keramat Syi'ah.

Tahun 2014, ISIS merebut Mosul dengan mudah dari tentara Irak, beserta Raqqah dan daerah kaya minyak Deir Zour di Suriah.

Penaklukan Mosul oleh ISIS terbilang tidak masuk akal, puluhan ribu tentara Irak meninggalkan kota Sunni itu setelah diserbu sekitar 800 militan (menurut klaim ISIS).

Memunculkan tudingan jika pemerintah Syi'ah Irak ingin membuat daerah Sunni tak berkembang secara politik, karena akan jadi ladang konflik panjang dengan hadirnya ISIS.

ISIS menjarah kekayaan kota. Bank-bank diambil isinya. Para pendukung online berpesta pora memamerkan kemajuan kelompok, slogan mereka "baqiyah wa tatammadad" atau "jayalah dan terus membesar", seolah jadi kenyataan.

Pengikut al-Baghdadi menggunakan buldozer untuk membongkar perbatasan Suriah-Irak, mereka bertransformasi lagi dengan mengklaim diri "Khilafah" pada 29 Juni 2014.

Militan menikmati kejayaannya karena banyaknya sumber uang. Ladang minyak yang dijarah di Irak dan Suriah membumbungkan pendapatan mereka hingga miliaran Dollar.

Pembeli utama minyak murah ISIS adalah rezim Assad dan mafia pasar gelap Turki.

Propaganda "Khilafah" makin menyedot banyak orang dari seluruh dunia berhijrah ke ISIS. Sejumlah grup militan di beberapa negara mendeklarasikan diri bagian dari "Khalifah Baghdadi", sebut saja Boko Haram di Nigeria, ISIS Libya, kelompok kriminal Abu Sayyaf di Filipina Selatan hingga Santoso Poso.

Pendukung ISIS pergi ke Suriah paling banyak lewat Turki. Ankara memang masih bersikap diam atas berkembangnya militan yang kala itu bentrok dengan YPG Kurdi di utara Suriah. YPG sendiri dianggap Turki sebagai afiliasi teroris PKK.

Sementara itu, negara-negara jauh tampak "senang" dengan perginya orang-orang radikal dari wilayahnya untuk masuk ISIS.

Rusia misalnya, kantor berita Reuters menemukan fakta dibiarkannya sejumlah orang berideologi militan berhijrah ke ISIS.

ISIS mendirikan birokrasi dengan bantuan teknokrat dan ahli asing. Al-Baghdadi sukses mencapai dua hal, yaitu meningkatkan populasi pendukung dan mewujudkan negara stabil.

Karenanya bukan hanya militan yang dibujuk bergabung, tapi juga dokter, insinyur dan warga biasa yang percaya "Khilafah Baghdadi". Mereka yang kaya juga membawa ribuan Dollar yang bisa menguatkan devisa ISIS.

Namun sikap brutal justru dilakukan ISIS pada masyarakat lokal. Militan mengambil keuntungan dari menjarah sumber daya, properti dan menerapkan berbagai denda.

Orang asing mendapat kedudukan istimewa. Baghdadi mengiming-imingi rumah, mobil, gas, listrik dan gaji bulanan. Bahkan jika seorang pengikut belum menikah, ia dijanjikan akan dicarikan jodoh oleh ISIS.

ISIS memiliki enam pendapatan utama: Upeti dan macam-macamnya, tambang, penculikan, barang antik, sumbangan simpatisan luar negeri, serta penjarahan atau penyitaan properti lokal.

Untuk meredam gejolak, ISIS menggunakan cara yang mirip partai Ba'ats Irak. Yaitu melakukan eksekusi keji di tempat umum agar menimbulkan ketakutan pada penentang atau musuh.

Bahkan ISIS lebih kreatif, mereka memfilmkannya dengan video berstandar tinggi.

Kemunduran ISIS
Kejayaan al-Baghdadi tidaklah berlangsung lama. September 2014, AS membentuk koalisi internasional untuk menyerang ISIS.

Awalnya, koalisi tidak efektif dengan serangan udara boros tapi sia-sia.

AS akhirnya menemukan peluang emas dengan menggandeng mitra lokal di Suriah, yaitu milisi YPG Kurdi. Dimulai dari kemenangan di kota Kobane.

Tentu saja ini tak disukai Turki, namun Ankara tetap mengambil kebijakan menutup "pintu hijrah" militan asing dan penyelundupan minyak karena ISIS mulai rajin mengirim bom bunuh diri di Turki.

Kegemilangan strategi AS dalam "memanen" berlanjut dengan membentuk milisi SDF pada 2015. Sejak saat itu, ISIS seperti tak berkutik di utara Suriah.

Begitu pula di Irak, di sinilah AS bisa bekerja sama dengan Iran. Milisi Syi'ah meraih keuntungan dalam operasi anti ISIS ke kota-kota Sunni.

Penyebab kemunduran pasukan al-Baghdadi terjadi karena berbagai faktor, seperti menurunnya pendapatan dari minyak, tewasnya banyak komandan penting, ditutupnya pintu hijrah oleh Turki, dibomnya gudang uang, berkurangnya jumlah petempur berkualitas.

Rendahnya anggaran menurunkan kemampuan organisasi teror ISIS memperoleh tujuan yang diinginkan.

Membuat dipotongnya gaji militan dan mulai sulitnya kehidupan para pendatang, dimana sebelumnya dijanjikan hidup mapan.

Pendapatan tahunan militan menurun signifikan, dari $ 1,9 miliar di akhir 2014 hingga $870 juta pada 2016, dan terus menyusut.

Tapi yang paling menentukan kemunduran ISIS adalah kecilnya dukungan jutaan warga lokal di wilayah "Khilafah".

Bukti ketidakberdayaan ISIS untuk bangkit adalah ketika al-Baghdadi memerintahkan para pendukung di seluruh dunia melakukan aksi teror di negaranya sendiri.

Kini, AS jadi pihak yang paling diuntungkan dengan operasi anti ISIS di Suriah maupun Irak.

SDF menguasai hampir seluruh utara Suriah kecial daerah Jarablus hingga Azaz yang dikontrol FSA.

Operasi di kota Raqqah mengambil nama Wrath of Euphrate nyaris mengepungnya.

Daerah pinggiran kota telah diambil alih SDF. Membuat sejumlah warga asing yang hijrah ke ISIS berhamburan keluar, termasuk WNI.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.