Seperti teori konspirasi lain, ketika tuduhan bohong terbongkar, penuduh segera beralih pada isu baru dengan cara serupa, foto-foto dari internet

Sorang petugas White Helmet mengevakuasi korban
Kelompok Pertahanan Sipil Suriah, atau yang dikenal dengan White Helmets, adalah tim sukarelawan yang paling tanggap dalam menolong korban perang Suriah.

Mereka sigap mendatangi lokasi pengeboman atau insiden lainnya untuk secepatnya menemukan dan memberi pertolongan pertama pada korban.

Aksi mereka dapat diikuti melalui media sosial atau video resminya.

White Helmets, menjadi nominator dalam penghargaan Nobel Perdamaian 2016. Sementara film dokumenternya memenangkan ajang film bergengsi AS, piala Oscar.

Namun, fakta ini tidak bisa menghindarkan mereka dari berbagai tuduhan miring oleh para haters yang berasal dari pendukung Assad dan Rusia.

White Helmets dituduh merekayasa aksi penyelamatan, memalsukan kejadian serangan udara agar menyudutkan rezim Assad.

Bahkan mereka juga dituding sebagai bagian dari kelompok teroris atau militan al-Qaeda, berbekal sejumlah analisa foto digunakan untuk menyudutkan sebuah lembaga.

Penalaran ala konspirasi semacam itu membuktikan penyesatan informasi bisa menyebar tanpa terkendali, menggantikan fakta dengan bias.

Seperti teori konspirasi lainnya, penyudutan terhadap White Helmets juga mengandalkan ketidaktahuan khalayak atas rumitnya masalah di lapangan.

Sebagian besar orang di luar Suriah, seperti Indonesia, hanya mengetahui sangat sedikit mengenai peta konflik, sehingga mereka mudah terjerat sumber yang "tampaknya" berwibawa.

Eva Bartlett misalnya, seorang blogger pro-Assad dan Rusia, menuduh aksi penyelamat gadis kecil Suriah sebagai rekayasa berdasarkan pencocokan foto.

Ia mengklaim, White Helmets menyelamatkan anak perempuan yang sama di 3 kejadian settingan.

Perbandingan wajah dan pakaian, terutama dengan foto resolusi rendah atau wajah korban tertutup debu, menjadi alat propaganda yang sukses.

Klaim Eva Bartlett
Namun cara seperti ini sering salah di kemudian hari. Tuduhan Bartlett terbukti hoax, karena 3 anak perempuan Suriah yang diselamatkan White Helmets berbeda.
Anak pertama belum diidentifikasi, anak kedua Rawan Alloush dan ketiga adalah Aya dari Homs.

Belum diidentifikasi

Aya dari Homs dalam video: "dimana ayahku"
Rawan Alloush
Klaim hoax Bartlett dibantah telak oleh jurnalis-jurnalis Barat.

Lain lagi dengan games mannequin challenge yang dibuat White Helmet dengan RFS, videonya diplintir pro-Assad sebagai "aksi rekayasa yang terbongkar".


White Helmet sendiri telah meminta maaf atas video itu, karena mendapat kritikan.

"Video dan postingan terkait ini direkam oleh media RFS bersama relawan Pertahanan Sipil, yang diharapkan dapat menciptakan hubungan antara kengerian Suriah dengan dunia luar menggunakan game Mannequin Challenge yang sedang viral. Ini kesalahpahaman, dan kami minta maaf atas nama relawan yang terlibat", bunyi pernyataan.

Namun, seperti teori konspirasi lain, bukannya melakukan verifikasi lapangan untuk membuktikan tuduhannya terhadap White Helmets, pembuat tuduhan meninggalkan isu buatannya yang sudah dibantah.

Mereka segera beralih pada isu baru dengan cara serupa, foto-foto dari internet.

Keberadaan White Helmets memberi lahan bagi penabur penyesatan informasi. Mirip di masa kejayaan propaganda ISIS yang berhasil memanfaatkan penggunaan foto.

Kelompok ultra-ekstrimis itupun pernah menyerang FSA dan kelompok lain sebagai orang-orang "murtad", berbekal foto-foto John McCain di Suriah.

Menurut ISIS, berfoto dengan McCain membuktikan seseorang loyal pada AS yang dianggap keluar dari Islam (murtad versi ISIS).

Karena orang tersebut termasuk FSA dan menggunakan bendera revolusi, maka ISIS mengatakan semua grup yang memakai bendera serupa atau yang bekerja sama dengan mereka telah "murtad", dan "halal dibunuh".

Penalaran berantai membuat ISIS mengkafirkan seluruh kelompok dan melancarkan bom bunuh diri.

Bendera revolusi dan John McCain
11-12 dengan propaganda ISIS, rezim Assad dan pendukungnya pernah mengeluarkan pernyataan bahwa White Helmet adalah bagian dari militan al-Qaeda.

Alasannya karena mereka juga beroperasi di daerah yang dikuasai Jabhah Fathu Syam (kini sudah bubar) yang merupakan bekas cabang al-Qaeda.

Dalil lain yang digunakan adalah foto di internet, bukan merujuk pada tata tertib organisasi White Helmet atau ketuanya.

Klaim hubungan antara kedua kelompok mudah dibantah. Pimpinan White Helmet adalah Raed Saleh, ia bukan al-Qaeda (jihadis) atau Islamis.

Referensi politik Raed Saleh cenderung sosialis. Ia juga terus menggalang dukungan masyarakat internasional.

Raed Saleh (kedua dari kiri) bersama dubes AS di PBB
Sedangkan Rusia menggunakan konspirasi White Helmet untuk menyudutkan NATO dan Barat, pasalnya NATO cenderung bersikap anti-Assad dan pro-sanksi terhadap Moskow.

Dengan gagasan yang ingin dibuat adalah: White Helmet = Al-Qaeda, NATO pro White Helmet, makan NATO pro Al-Qaeda.

Ini menjadi alasan nyata mengapa pendukung Assad dan Putin menghubungkan White Helmet dengan NATO, terutama lewat cuplikan film dokumentar Netflix 2016.

Blogg propaganda Rusia, 21stCenturyWire, mengunggah subtitle palsu dari klip White Helmet dengan membuat pesan baru: "One for all, all for NATO".

Padahal, tagline resmi dari White Helmet adalah "To save a life is to save all of humanity”, dan kalimat ini diambil dari ayat Al-Qur'an.

Ketika hoax ini menyebar, terciptalah konspirasi globalis yang hebat.

Bahkan baru-baru ini, White Helmet disalahkan atas serangan gas sarin, serta terkait dengan George Soros, seorang miliarder liberal. (wired.com/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.