Presiden Recep Tayyip Erdogan menyatakan kebijakan Israel terhadap Palestina bersifat "rasis"

Ilustrasi (Arab News)
Hubungan diplomatik antara Turki dan Israel kembali menegang setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa kebijakan mereka terhadap Palestina bersifat "rasis".

Erdogan, Senin (8/5), mengkritik kebijakan "diskriminatif" Israel terhadap orang-orang Palestina.

Menurutnya, perdamaian Timur Tengah hanya dapat dicapai setelah membangun negara Palestina yang berdaulat dan merdeka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukota.

Fakta bahwa Yerusalem masih berada di bawah "pendudukan" merupakan sebuah penghinaan, ujar Erdogan, sembari meminta umat Islam untuk membela hak-hak Palestina.

Dia juga mengkiaskan tindakan Israel ini seperti praktik apartheid di Afrika Selatan.

Alhasil, pernyataan keras Erdogan kembali melemahkan normalisasi antar kedua negara.

Padahal baru kurang dari setahun lalu, Turki dan Israel berusaha memulihkan hubungan diplomatik mereka di tingkat duta besar, setelah terjadi kematian 10 aktivis di Gaza akibat serangan Israel 2010 silam.

Erdogan pun mengkritik undang-undang parlemen Israel yang melarang penggunaan pengeras suara saat adzan malam dan subuh.

"Jika Anda memiliki kepercayaan pada agama Anda, mengapa Anda takut pada panggilan untuk sholat?", Katanya.

"Insya Allah, kita tidak akan pernah membiarkan pembungkaman azan di langit Yerusalem", serunya.

Israel memanggil duta besar Turki ke Kementerian Luar Negeri untuk membahas pernyataan Erdogan.

Juru Bicara Kementerian Emmanuel Nahshon dengan cepat mengeluarkan sebuah pernyataan yang ditujukan pada Turki.

"Mereka yang secara sistematis melanggar hak asasi manusia di negara mereka sendiri seharusnya tidak perlu memberitakan pesan moralitas pada satu-satunya wilayah demokrasi sejati di kawasan ini", ujar pernyataan tersebut.

"Israel secara konsisten melindungi kebebasan beragama bagi orang Yahudi, Muslim, Kristen, dan akan terus melakukannya..."

Rekonsiliasi antara kedua negara seolah tak dihiraukan lagi.

Turki disebut sebagai "musuh" Israel oleh Juru bicara Knesset (Parlemen Israel) Yuli Edelstein,

Beberapa analis politik yang diwawancarai oleh Arab News mengatakan, pernyataan semacam itu dikhawatirkan akan menyulitkan pemulihan kepercayaan antara kedua negara setelah bertahun-tahun mengalami krisis diplomatik. (Arab News)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.