Muslim kerap dicurigai “mencuri” wanita Buddha untuk mengurangi agama mayoritas

Muslim Myanmar mencapai 5% populasi
Komite Perlindungan Ras dan Agama di Myanmar, atau Ma Ba Tha, sebagai organisasi Buddha ultra-nasionalis, selama bertahun-tahun menyebarkan sentimen anti-Muslim di pelosok negeri dari basis Buddha di Mandalay.

Salah satu pentolan kelompok ini adalah biksu Ashin Wirathu.

Pemukiman umat Islam memasang pagar besar untuk menghindari bentrokan dengan umat Buddha (theguardian)
Anggota Ma Ba Tha kembali menciptakan ketegangan baru di Mandalay, kota terbesar kedua Myanmar dengan beragam populasi dari Muslim, Kristen dan Hindu yang cukup besar.

Mereka ingin menangkap seorang jurnalis yang telah mengkritisi Wirathu.

Daerah ini memang jantung umat Buddha. Ratusan pagoda dan monumen emas berdiri di kota.

Namun, Mandalay mulai mengalami peleburan budaya dan agama. Masjid, gereja dan kuil Hindu bertahtakan patung juga berdiri menyelingi menara pagoda.

Status kota sebagai pusat Buddhisme membuat Mandalay diberi tempat khusus dalam jiwa nasional Buddha, dan Ma Ba Tha berakar dari sikap nasionalistik ini.

“Menurut konstitusi, sebagian besar agama warga sipil adalah Buddhisme”, ujar Eindaw Bar Tha, salah satu biksu dari Ma Ba Tha.

“Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menghormati hak-hak warga Buddha. Tapi mereka tidak melakukan ini. Itulah mengapa kami memiliki tanggung jawab penuh untuk melindungi agama kami”, ujarnya.

Umat Islam dan segala aktivitasnya merupakan ancaman terbesar bagi mereka. Muslim kerap dicurigai “mencuri” wanita Buddha untuk mengurangi mayoritas dan merencanakan serangan teror.

“Jihadis Muslim ingin membanjiri negara, jadi kita harus melindunginya”, ujar Eindaw Bar Tha.

Sebenarnya, banyak orang di Mandalay menghindari fanatisme Ma Ba Tha dan gerakan pendahulunya, yaitu Gerakan 969. 

Organisasi ini mulai menyebarkan pamflet yang isinya adalah himbauan menghindari produk-produk dari bisnis Muslim.

Pada 2014, permusuhan antar-agama memuncak dalam kerusuhan anti-Muslim yang banyak dikaitkan dengan Ma Ba Tha. Ketegangan ini masih dapat dirasakan di seluruh Mandalay.

Saat itu, seorang Muslim dituduh memperkosa gadis Buddha. Kemudian pada bulan Juli terjadi kerusuhan antar kelompok.

Massa beraksi dengan sepeda motor sambil membawa parang lalu mengamuk di kawasan perumahan dan bisnis Islam. Akibatnya, dua pria meninggal.

Beberapa Muslim di kota mengaku masih merasa canggung saat bertemu biksu Buddha, bersikap hati-hati saat bicara, dan melengkapi rumah mereka dengan pagar besar.

Yin Yin Mya, seorang wanita Muslim berusia 61 tahun mengatakan, kakek buyutnya, yang juga beragama Islam, pernah bertugas di istana kerajaan.

“Saya membenci mereka karena sebenarnya masyarakat dapat bersatu, tapi karena mereka (masyarakat) mulai berpisah”

Unik, seorang biarawan eksentrik bernama Kar Wi Ya (60) menyebut dirinya sebagai  “air”  untuk memadamkan “api” Wirathu.

Ia adalah salah satu orang yang berhasil menenangkan kekerasan pada tahun 2014. Setelah mendatangi TKP, Kar Wi Ya bersikeras anggota Ma Ba Tha berada diantara para perusuh.

“Sebenarnya, Ma Ba tha lah yang memulai kerusuhan”, ujarnya.

Kelompok Muslim menganggap Kar Wi Ya sebagai sekutu dan pelindung.

Sosok Kar Wi Ya, sebagaimana orang umumnya, menilai Ma Ba Tha memiliki hubungan dekat dengan tentara dan menimbulkan masalah menjelang pemilihan 2015.

Setelah pemerintahan militer Myanmar berlangsung selama setengah abad, negara memberikan kekuasaan tertinggi pemerintahan pada peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi.

Namun sayangya, pemerintah hanya menunjukan sedikit keinginan untuk melawan Ma Ba Tha. 

Contohnya saja dari kasus kekerasan terhadap umat Islam Rohingya di Rakhine Utara yang diduga dilakukan oleh pihak keamanan. (the Guardian)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.