AS terus menguatkan milisi Kurdi yang menjadi sekutunya dalam "memanen" wilayah kelompok teroris ISIS di Raqqah

Ilustrasi (Arab News)
Presiden AS Donald Trump akan mempersenjatai pasukan Kurdi di Suriah yang sedang bertempur melawan ISIS demi merebut kota Raqqah.

Pentagon menekankan, hal tersebut dilakukan untuk "memastikan kemenangan di Raqqah".

Tapi di sisi lain, tindakan ini ternyata membuat Turki cemas, karena mereka menganggap milisi Kurdi sebagai kelompok teroris.

Wakil Perdana Menteri Nurettin Canikli pada Rabu (10/5) mengatakan, Ankara tidak dapat menerima dukungan AS untuk kelompok tersebut.

Turki menganggap pasukan YPG Kurdi merupakan bagian dari kelompok teroris PKK.

"Kami tidak dapat menerima kehadiran organisasi teroris yang akan mengancam masa depan negara Turki. Kami berharap pemerintah AS menghentikan kesalahan ini. Kebijakan seperti itu tidak akan menguntungkan, anda tidak bisa berada di pihak organisasi teroris", ujar Canikli.

Sementara itu, seorang pejabat tinggi Kurdi Suriah menyambut baik keputusan AS.

Ia menegaskan pihaknya akan "melegitimasi" kekuatan dan bersiap menuju Raqqah, "ibukota" de facto ISIS.

Menurut Ilham Ahmed, seorang pejabat tinggi dari kantor politik SDF, keputusan AS memberikan senjata berat turut membawa "makna politik" dan "melegitimasi YPG serta SDF".

Ia menyebut keputusan AS mungkin akan disambut dengan "agresi" oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Kemajuan SDF mendorong Turki mengirim pasukan darat melintasi perbatasan untuk pertama kalinya ke tanah Suriah.

Dengan melobi Rusia, Turki "diizinkan" membantu pasukan oposisi memerangi ISIS dan menghentikan kemajuan Kurdi.

Sejak saat itu, Turki diyakini menempatkan lebih dari 5.000 tentaranya di Suriah utara, dan meningkatkan serangan udara dan artileri ke posisi pasukan Kurdi. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.