Ketegangan nampak di wajah Ahok saat hakim ketua membacakan vonis

Ahok divonis bersalah menodai agama
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dihukum 2 tahun penjara. Ahok dinyatakan terbukti bersalah melakukan penodaan agama karena pernyataan soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

"Menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan penodaan agama", kata hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto membacakan amar putusan dalam sidang Ahok di auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (9/5).

Majelis hakim menyebut penodaan agama terjadi dalam sambutan Ahok saat bertemu dengan warga di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Kalimat Ahok yang dinyatakan menodai agama adalah:

"Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, nggak apa-apa"

"Dari ucapan tersebut, terdakwa telah menganggap Surat Al-Maidah adalah alat untuk membohongi umat atau masyarakat atau Surat Al-Maidah 51 sebagai sumber kebohongan dan dengan adanya anggapan demikian, maka menurut pengadilan, terdakwa telah merendahkan dan menghina Surat Al-Maidah ayat 51", kata hakim dalam keterangan pertimbangan hukum.

Majelis hakim menyatakan, terdakwa sengaja memasukkan kalimat itu terkait dengan pemilihan gubernur.

Ahok di hadapan warga menyinggung program budidaya ikan kerapu yang akan terus berjalan meskipun tidak terpilih dalam pilkada, karena ia akan berkuasa hingga Oktober.

"Dari ucapannya tersebut terdakwa jelas menyebut Surat Al-Maidah yang dikaitkan dengan kata 'dibohongi'. Hal ini mengandung makna yang negatif. Bahwa terdakwa telah menilai dan mempunyai anggapan bahwa orang yang menyampaikan Surat Al-Maidah ayat 51 kepada umat atau masyarakat terkait pemilihan adalah bohong dan membohongi umat atau masyarakat, sehingga terdakwa sampai berpesan kepada masyarakat di Kepulauan Seribu dengan mengatakan jangan percaya sama orang, dan yang dimaksud yang adalah jelas orang yang menyampaikan Al-Maidah ayat 51", sambung hakim dalam putusannya.

Ahok dinyatakan majelis hakim terbukti melakukan tindak pidana dalam Pasal 156a KUHP, yakni secara sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama.

Vonis hakim ini lebih berat daripada tuntutan jaksa yang hanya menuntut 2 tahun percobaan dan 1 tahun penjara.

Berdasarkan pantauan media Sindonews, ketegangan nampak di wajah Ahok saat hakim ketua membacakan vonis.

Setelah vonis dibacakan, Dwiarso memberikan kesempatan kepada Ahok berkonsultasi dengan kuasa hukumnya.

"Bagaimana terdakwa apakah akan mengajukan banding, silahkan berkonsultasi dengan kuasa hukum saudara", ujar Dwiarso di ruang sidang, Selasa (9/5).

Usai berkonsultasi, terdakwa langsung mengajukan banding ke majelis hakim.

"Saya mengajukan banding yang mulia", ujar Ahok.

Menjawab pengajuan banding itu, Hakim ketua Dwiarso mempersilahkan terdakwa menindaklanjutinya ke panitera.

"Baik, terdakwa harus menindaklanjuti banding dengan membuat catatan ke panitera PN Jakut, dari situ sah melakukan banding", kata hakim. (Detikcom/Sindonews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.