Kubu Ahokers dianggap representasi dari kaum anti Islamis, seperti Atheis, Agnostik, Liberal, Sekuler, radikalis non Islam (kafir radikal), anasir PKI, abangan, hingga munafik

Tak mau gadaikan agama demi uang 500 ribu
Pilkada Jakarta bukan hanya menjadi pertarungan merebut banyaknya coblosan bilik suara, tapi juga pertarungan ideologi dan agama.

Kubu Ahokers dianggap representasi dari kaum anti Islamis, seperti Atheis, Agnostik, Liberal, Sekuler, radikalis non Islam (kafir radikal), anasir PKI, abangan, Syi'ah hingga munafik.

Dimana mereka kerap menyerang konsep-konsep ajaran Islam yang merugikan Ahok terkait kepemimpinan, hingga kebijakannya selama ini.

Sedangkan lawan kubu Ahok adalah kalangan Islamis, atau sayap kanan. Dengan berbagai beda paham tapi bisa bersatu di atas kepentingan, menginginkaan dominasi politik Islam bagi mayoritas Muslim.

Pertempuran 2 pihak ini adalah hal yang biasa selama bertahun-tahun. Saling bully dan saling adu tulisan.

Antara yang di posisi haq (kebenaran), sebagai pengikut ajaran Islam dan Ulama. Dan yang dipandang bathil, yaitu pendukung penista agama.

Namun, muncul pula fenomena aneh di tengah pertarungan klasik itu.

Yaitu merapatnya partai politik yang selama ini mewakili suara umat Islam ke "kandang" Ahok. Yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

PPP yang memakai gambar Ka'bah memang terpecah menjadi 2 kubu. Keduanya sulit bertemu dan tak mau islah.

Fenomena paling-paling menarik, sebab PPP Romahurmuziy dan Djan Farid akhirnya bertemu di pihak Ahok dalam pilkada DKI Jakarta putaran 2.

Proses hukum dan perebutan legalitas 2 PPP telah berlangsung beberapa bulan lalu.

Pengamat meyakini, penempatan diri tiap kubu PPP di pilkada ini bisa berpengaruh pada masa depan siapa pemegang legalitas.

Pasalnya Ahok didukung oleh koalisi yang menyokong penguasa Istana dan bisa "menggoyang" PPP.

Kubu Romy sempat di atas angin saat merapat ke koalisi pemerintahan Jokowi, tapi angin segera berubah. Giliran Djan Farid yang berseri ketika dimenangkan lewat PTUN setelah merapat ke kubu Ahok di pilkada.

Tapi, alasan pragmatis 2 kubu PPP tidak sejalan dengan keinginan kaum Islamis yang selama ini menjadi basis massanya.

Apapun motif "duniawi"-nya yang dicari dalam menyokong terdakwa penista agama, itu tidak bisa diterima.

Wacana hukuman parpol pendukung Ahok di pemilu legislatif 2019 langsung menyasar PPP.

"Masih pantaskah kau jadikan Ka'bah sebagai lambangmu?"

Politik praktis atau politik umat. PPP sudah tercitakan memilih politik praktis.

Umat Islam siap menghukum PPP, gemanya sudah terdengar
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.