Jika fosfor putih yang menyala terkena kulit manusia, partikelnya dapat terus membakar kulit, daging hingga ke tulang

Related image
Korban gas Sarin, Ghouta 2013
Baru-baru ini, serangan kimia Sarin di Idlib, Suriah, membunuh sekitar 90 orang, termasuk 33 anak-anak.

Penggunaan unsur atau senyawa kimia sebagai senjata sebenarnya sudah berulang kali terjadi dalam perang modern.

Kemajuan iptek bukan hanya membantu kelangsungan hidup manusia, tapi juga melahirkan senjata pemusnah massal yang diproduksi secara melimpah.

Senjata kimia pun sebenarnya telah dilarang oleh OPCW. Organisasi ini juga melarang produksi dan distribusi senjata maupun zat kimianya.

Namun, beberapa zat masih dapat ditemukan secara umum karena digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Klorin dan Fosfor adalah 2 unsur yang masih sering digunakan dalam perang.

Suriah menjadi negara yang warga sipilnya menjadi korban kedua unsur itu, pasalnya pihak-pihak "kuat" menggunakannya di wilayah pemukiman.

Berikut penjelasan singkat tentang 3 zat kimia paling mematikan dan menyakitkan bagi warga tak bersalah di Suriah, yaitu Klorin, Fosfor dan Sarin.

Klorin
Puluhan juta ton senyawa klorin masih diproduksi di seluruh dunia setiap tahunnya.

Selain populer untuk mensterilkan air, zat ini juga bermanfaat dalam pembuatan obat-obatan, antiseptik, industri tekstil, pemutihan kertas, pemisahan logam dari bijih (seperti emas, nikel, dan tembaga) serta sebagai bahan kimia rumah tangga (seperti perekat).

Penggunaan secara luas di berbagai industri membuatnya sulit dikendalikan atau diatur pengawasannya.

Atom klorida (klorida/klor/Cl, nomor atom 17 dalam table periodik kimia) secara alami tidak berdiri sendiri.

Beberapa senyawa yang mengandung atom ini sebenarnya sangat penting bagi kehidupan.

Asam klorida (HCl) dibutuhkan dalam perut untuk melumat makanan dan menghancurkan bakteri. Natrium klorida (NaCl) merupakan senyawa garam.

Cl murni pertama kali diisolasi dari asam klorida oleh Carl Wilhelm Scheele pada tahun 1774.

Beberapa tahun setelahnya, sifat pemutihannya ditemukan. Lalu pada tahun 1810, Humphry Davy mengumumkan bahwa Klor adalah salah satu unsur kimia.

Pada suhu kamar, klorin menjadi gas berwarna kuning kehijauan dengan bau yang kuat, lebih padat dari udara.

Gas klorin kering tidak akan memutihkan (bleach), tetapi dalam air unsur ini dapat membentuk hipoklorit.

Ia bisa mensterilkan dan menjadi disinfektan (pembunuh mikroorganisme). Saat wabah tipus menyebar di Maidstone tahun 1897, klorin digunakan mensterilkan air keran.

Juta ton klorin masih diproduksi, antara lain digunakan dalam proses pembuatan obat.

Ribuan senyawa klorin organik terbentuk secara alami termasuk vankomisin, yang terbentuk alami oleh bakteri dalam tanah.

Namun, unsur kimia klorin sangat reaktif dan beracun bagi tubuh manusia.

Klorin mengiritasi mata dan kulit, hingga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru. Paparan tingkat tinggi klorin menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru.

Penggunaan klorin sebagai senjata dikembangkan oleh Fritz Haber (1868-1934). Proses Haber-Bosch dipatenkan tahun 1910, untuk fiksasi nitrogen sebagai amonia.

Penemuan ini membuatnya memenangkan hadiah Nobel di bidang kimia tahun 1918. Proses Haber-Bosch membantu pembuatan pupuk, dan kelangsungan hidup jutaan orang saat ini tergantung darinya.

Namun, proses ini juga memungkinkan produksi massal asam nitrat, sumber bahan peledak yang digunakan Jerman dalam Perang Dunia I.

Haber menjadi kepala bagian kimia di Departemen Perang Jerman, koordinasi produksi amonia yang dibutuhkan untuk senjata.

Ia juga bertanggung jawab atas pembuatan senjata kimia, Haber memilih gas klorin sebagai andalannya.

Haber mengawasi pemasangan tabung gas klorin pertama di parit dekat Ypres. Ia dan pasukan spesialis menunggu angin bertiup dari timur ke arah parit lawan dan meluncurkan serangan gas pertama, 22 April 1915.

Awan klorin melayang menuju pasukan musuh. Sekitar 5.000 tentara tewas dan jumlah keseluruhan korban mencapai 15.000 orang.

Gas klorin adalah salah satu dari senjata kimia yang menyiksa korban tanpa pandang bulu. Itu sebabnya, di masa kini penggunaan gas klorin dalam perang dilarang oleh perjanjian internasional.

Paparan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan mati lemas karena merusak saluran udara dan menyebabkan limpahan cairan parah di paru-paru. Anak-anak dan manula paling rentan terisiko.

Pada bagian luar tubuh, gas klorin menyebabkan iritasi mata, mulut atau kulit.

Di dalam tubuh, gas akan bereaksi cepat dengan air, hingga terbentuk asam klorida (HCl) dan asam Hipoklorit (HClO) yang merusak jaringan.

Sehingga paparan konsentrasi tinggi dapat merusak organ pernapasan, menyebabkan penderitaan korban hingga meninggal.

Fosfor
Lain klorin lain lagi dengan unsur fosfor (P), yang memiliki nomor atom 15 dan sejumlah allotrope, atau kenampakan fisik berbeda dari unsur yang sama.

Allotrope fosfor putih adalah semacam lilin kimia buatan manusia, sebagai benda padat yang terbakar secara spontan pada suhu 30 derajat C.

Zat ini sangat reaktif dengan gas Oksigen (O2), reaksi yang terjadi menghasilkan panas, cahaya terang, serta asap tebal.

Fosfor putih kerap digunakan dalam amunisi, untuk menandai target musuh atau menghasilkan asap yang menyembunyikan pergerakan pasukan.

Militer biasa menyebutnya WP atau Willie Pete. Zat itu juga dapat digunakan untuk membom posisi musuh.

Jika fosfor putih yang menyala terkena kulit manusia, partikelnya dapat terus membakar kulit, daging hingga ke tulang.

Fosfor akan terus terbakar sampai habis atau kurangnya oksigen. Jika dipadamkan dengan air, reaksi pembakaran dapat segera berlanjut lagi partikel kering terkena udara.

Luka bakar di kulit harus direndam dengan air atau ditutupi kain basah agar mencegah pembakaran ulang hingga partikelnya benar-benar dihilangkan.

Asap fosfor putih di udara pun bisa menyebabkan kerusakan hati, ginjal, jantung, paru-paru atau tulang, bahkan mengakibatkan kematian.

Paparan jangka panjang dalam takaran rendah akan berdampak pada kondisi yang disebut "rahang phossy", yaitu luka pada mulut dan tulang rahang rusak. (BBC/Newsweek)

Untuk efek kimiawi gas Sarin pada sistem saraf, lihat: Sarin, Sangat menyakitkan hingga meninggal
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.