Jenis ranjau terbaru buatan China mulai disebar militan Syi'ah

Ilustrasi (Arab News)
Kelompok hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) pada Kamis (20/4) mengecam penggunaan ranjau darat oleh milisi Syiah Yaman selama perang.

Ranjau tersebut membunuh dan melukai ratusan warga sipil, serta mencegah pengungsi kembali ke kampungnya, menurut HRW.

Pasukan pemberontak Syi'ah Houthi diketahui menggunakan ranjau darat di sekitar enam provinsi sejak Maret 2015, ketika koalisi pemerintah meluncurkan kampanye militer melawan mereka.

Seorang pneliti dari HRW, Kristine Beckerle, mengklaim telah menemukan dua jenis ranjau anti-personil yang sebelumnya tidak dilaporkan di Yaman.

HRW juga merilis foto salah satu dari selusin ranjau tipe claymore, yang dapat melepaskan bola baja hingga jarak 100 meter.

Ranjau ini berlabel China dan ditemukan di daerah kekuasaaan milisi Houthi.

Akibatnya, Yaman membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghilangkan ranjau karena tidak ada peta untuk menemukan lokasi penanaman.

Milisi Houthi menanam ranjau di daerah sensitif dengan maksud menghentikan kemajuan pasukan pemerintah.

Pemerintah Yaman meminta bantuan masyarakat internasional untuk meredakan ranjau di daerah berpenduduk padat.

Ranjau sebenarnya dilarang digunakan secara internasional, karena menimbulkan ancaman kehidupan dan menyebabkan kerugian pada sipil, terutama perempuan dan anak-anak.

Tim engineering Yaman, dengan dukungan Koalisi Arab, telah mengekstraksi dan membongkar beberapa ranjau laut buatan Iran dengan berbagai ukuran.

Kolonel Haytham Haloub, direktur Pusat Aksi Tambang Nasional di Aden, mengatakan bahwa tim telah menjinakkan lebih dari 31.000 ranjau di Aden, Lahj, Abyan dan beberapa bagian Provinsi Taiz.

Menurut Omar Jawhar, brigadir jenderal perang Daerah Militer Kelima di Midi, ranjau yang diangkat dari Laut Merah berasal dari Iran.

Setidaknya 988 orang terbunuh atau terluka oleh ranjau darat di Yaman sejak tahun 2015, menurut Inisiatif Pemantau Ranjau Darat oleh Kampanye Internasional untuk Larangan Ranjau Darat.

"Sudah waktunya meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat, menyelidiki dan melaporkan secara terbuka tentang apa yang sedang terjadi," ujar Beckerle.

Sementara itu, Christiaan K. James, juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan AS telah berulang kali mengemukakan kekhawatiran tentang gangguan Iran di Yaman dan negara-negara Arab lainnya.

"Kami terus meminta pertanggungjawaban pemerintah Iran atas tindakannya dengan menggunakan berbagai alat yang kami miliki," ujar James.

"Iran tetap menjadi sponsor terorisme negara dan kami terus memberlakukan semua sanksi terkait non-nuklir terhadap Iran ... Kami akan terus bekerja sama dengan mitra dan sekutu untuk menghentikan dukungan material dan keuangan Iran bagi kelompok militan dan teroris di kawasan ini," lanjutnya. (Arab News).
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.