Rezim Assad membuat persyaratan aneh terkait tuntutan penyelidikan internasional atas serangan kimia di Idlib

Seorang pria membawa mayat anak kecil yang diduga meninggal akibat serangan gas beracun di kota Khan Sheikhoun, Idlib, Suriah (4/4/2017. REUTERS)
Rezim Assad pada Kamis (6/4) membuat persyaratan aneh terkait tuntutan penyelidikan internasional atas serangan kimia yang menewaskan lebih dari 80 sipil di Khan Syaikhun, Idlib.

Menteri Luar Negeri Walid al-Moualem mengklaim pemerintahnya tidak berada di balik serangan brutal di Khan Syeikhun.

Rezim itu berkata tidak ingin penyelidikan "mengandung muatan politik" dan "harus diatur oleh Damaskus, bukan Turki".

Menurut Moualem, sekutunya (Rusia) telah menyampaikan gagasan pembentukan "komisi penyelidikan non-politis".

"Ini tidak boleh dipolitisasi, harus diatur oleh Damaskus dan bukannya Turki. Kami memiliki banyak pertanyaan tentang subjek ini. Ketika kami yakin pertanyaan-pertanyaan ini dibahas dengan jawaban yang kredibel, kami akan memberikan tanggapan kami", katanya.

Negara-negara Barat menuduh pemerintah Suriah melakukan serangan kimia dan menewaskan sedikitnya 70 orang, termasuk 20 anak-anak.

Sementara kubu Assad terus bersikeras membantahnya dengan berbagai alasan.

"Saya menegaskan, bahwa Angkatan Darat Suriah belum dan tidak akan menggunakan jenis senjata seperti itu dalam melawan rakyat dan anak-anak kami, bahkan tidak akan digunakan untuk melawan teroris yang membunuh orang-orang kami", klaim Moualem.

Assad dan sekutunya, Rusia, memberikan cerita tandingan tentang serangan kimia di Khan Syaikhun.

Mereka menyebut pesawat tempur "tak sengaja" mengebom gudang oposisi yang terdapat bahan senjata kimia untuk dikirim ke Irak.

Tidak ada bukti fisik klaim tersebut. Aktivis pro oposisi menyebutnya dusta 100% dan cerita yang konyol. (Reuters/rslh)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.