Penggunaan senjata kimia di Idlib, mengingatkan lagi pembantaian Ghouta pada 2013. Yaitu gas sarin, pemusnah massal

warga diberi tindakan oleh petugas penyelamat setelah terjadi serangan gas beracun. Mereka harus bernafas menggunakan masker oksigen dan memakai pakaian perlindungan (4/4/2017. Reuters)
Serangan gas kimia beracun terjadi di wilayah oposisi kota Khan Syeikhun, provinsi Idlib, Suriah, pada Selasa (4/4).

Serangan diduga kuat dilakukan oleh pesawat tempur rezim Assad.

Kepala otoritas kesehatan provinsi Idlib menyebut lebih dari 50 orang tewas dan 300 luka-luka dalam insiden itu.

Sementara itu, Persatuan Organisasi Perawatan Medis mengklaim jumlah korban jiwa mencapai 100 jiwa.

Kelompok pemantau SOHR melaporkan korban meninggal berjumlah 58 orang.

Pemerintah AS menilai, gas sarin digunakan dalam serangan brutal kali ini.

Berbagai sumber menyatakan serangan "hampir dipastikan" dilakukan oleh loyalis Basyar al-Assad.

Direktur SOHR Rami Abdulrahman menilai, militer Assad menjadi terduga karena beberapa faktor, diantaranya jenis pesawat. Serangan itu dilakukan oleh jet Su-22.

Kementerian Pertahanan Rusia membantah serangan dilakukan oleh pihaknya

Militer Assad membantah bertanggung jawab. Mereka mengklaim tidak akan menggunakan senjata kimia. Hal ini dianggap adalah kebohongan rezim oleh oposisi.

Amerika Serikat, Inggris dan Perancis langsung mengajukan resolusi ke Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk serangan.

Pembahasan insiden dan pemungutan suara resolusi kemungkinan dilakukan hari Rabu, menurut para diplomat.

Serangan juga memicu aksi saling tuduh. Presiden AS Donald Trump menyalahkan pendahulunya, Barack Obama, atas "kelemahan" pengaruh di Suriah.

Tokoh oposisi Suriah, Basma Kodmani, menyalahkan pernyataan AS baru-baru ini mengenai pergantian fokus dari Assad ke ISIS.

“Ini adalah konsekuensi langsung dari pernyataan Amerika karena Assad tidak lagi menjadi prioritas dan memberinya waktu serta kemungkinan tetap berkuasa", ujar Kodmani.

Ia mengistilahkan pernyataan AS sebagai 'cek kosong untuk Assad'.

Insiden di kota Khan Syeikhun ini menjadi salah satu serangan kimia paling mematikan di Suriah.

Serangan serupa terjadi di Ghouta timur, dekat Damaskus, Agustus 2013 lalu, dilaporkan membunuh hingga 1300 warga sipil.

Setelah serangan 2013, rezim Suriah bergabung dalam Konvensi Senjata Kimia internasional berdasarkan kesepakatan AS-Rusia, di bawah ancaman intervensi militer AS.

Berdasarkan kesepakatan, rezim Assad setuju melucuti senjata beracunnya untuk dimusnahkan internasional. Terdiri dari sekitar 1.300 ton senjata dan bahan kimia industri.

Namun, peneliti dari OPCW dan PBB menemukan pihak Assad masih menggunakan klorin. Zat ini tersedia lebih luas dan sulit dilacak. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.