Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud sepakat. Keduanya mendedikasikan diri untuk mendakwahkan pemurnian Islam

Seorang Raja Saudi dimakamkan secara sederhana
Selama berabad-abad, semenanjung Arab memainkan peran penting dalam sejarah dunia, terutama sebagai jalur perdagangan kuno, dengan puncaknya adalah kelahiran Nabi Muhammad (Rasul terakhir Islam).

Setelah 11 abad mengalami pergiliran kekuasaan di internal umat Islam, semenanjung Arab akhirnya beralih ke tangan keluarga Saud.

Kini mereka memiliki negara yang diberi nama Arab Saudi dan memiliki konstitusi yang harus sesuai Al-Qur'an dan Sunnah.

Transformasi Saudi terbilang menakjubkan, sejak Raja Abdulaziz al-Saud mendirikan Kerajaan Saudi modern tahun 1932 dengan sebagian besar wilayah hanya gurun pasir.

Hanya beberapa dekade, Kerajaan Sunni ini sukses mengubah wajahnya: Dari bangsa gurun pedalaman menjadi negara modern yang canggih, bahkan menjadi pemain utama di pentas internasional.

Kekayaan minyak dan potensi tambang lain tersingkap sedikit demi sedikit. Puncak kenyamanan ekonomi diraih di masa Raja Abdullah.

Saat itu, harga minyak dunia mencetak rekornya dan terus berada di level tinggi (> USD 100 per barrel) selama beberapa tahun. Menyebabkan cadangan devisa Saudi membengkak.

Militer Saudi mulai mengalami fase modernisasi pasca perang Teluk, di masa Raja Fahd. Hal itu terus berlanjut hingga saat ini di bawah Raja Salman. Belanja militer mencapai rekor tahun 2015 di urutan 3 dunia setelah AS dan China.

Negara Saudi Pertama (I)
Di awal abad ke-18, seorang Ulama pembaru Islam bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi mulai mengampanyekan pemurnian praktek Islam berdasar Al-Qur'an dan Sunnah sesuai "manhaj Salaf".

Para pengkritik menyebut gerakan Syaikh bin Abdul Wahhab sebagai "Wahabi".

Namun dalam kajian ilmiah, ide-ide dakwah ini selaras dengan strategi Syaikhul Ibnu Taimiyah saat menghadapi persoalan ke-Islaman di masanya.

Mulanya, Syaikh bin Abdul Wahhab ditentang oleh ulama dan tokoh lain, karena dakwahnya dianggap sebagai ancaman terhadap bagi tradisi sosio-reliji mereka.

Akhirnya Syaikh menemukan perlindungan di kota Diriyah, yang dikuasai oleh Muhammad bin Saud, pemimpin klan pedalaman gurun.

Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud mencapai kesepakatan. Keduanya mendedikasikan diri untuk mendakwahkan pemurnian Islam kepada kaum Muslimin.

Ikatan kekeluargaan dibentuk melalui pernikahan. Ibnu Saud menikahi putri Syaikh.

Ciri dakwah Wahabi adalah memerangi takhayul, bid'ah dan khurafat (TBC) yang sudah mendarah daging di kalangan umat Islam.

Praktik yang dianggap menyimpang misalnya pengkultusan kuburan. Dimana kuburan tokoh-tokoh "wali" dikeramatkan, serta dibangun megah.

Bagi kaum Sufi ekstrem, selain diziarahi, kuburan keramat bisa menjadi sarana mengunduh berkah, perantara doa oleh orang sholeh yang dikubur, mendatangi kuburan saat ada masalah, curhat dan sebagainya.

Sementara dakwah Wahabi mengkritik keras aktivitas itu karena bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Bukan sekedar TBC, pengkeramatan kuburan dipandang telah menjurus pada kesyirikan.

Gerakan ini juga mengkritik cara bernegara Turki Ottoman, yang dinilai tak lagi merepresentasikan Islam.

Perselisihan Salafi-Wahabi vs Sufi-Asyariyah di era ini mengingatkan lagi di masa Ibnu Taimiyah, ketika kaum Asyariyah berselisih keras dengan sebagian Hanabilah.

Namun, Salafi tak sembarangan memvonis mereka sebagai musyrik dan ahlul bid'ah, karena diberikannya uzur pada pelaku perbuatan yang dianggap menyimpang.

Uzur yang dimaksud adalah karena ketidaktahuan (jahil) dan syubhat. Masyarakat yang melakukan tidak mengetahui, tidak sadar atau adanya syubhat yang mengecoh pikirannya.

Syaikh menegaskan, dakwahnya bukan untuk bermudah-mudah dalam memvonis, melainkan untuk menegakkan hujjah kepada kaum Muslimin.

“Terkait takfir (vonis kafir), maka saya mengkafirkan orang yang mengetahui agama Rasulullah, kemudian setelah mengetahuinya ia mencelanya dan memusuhi orang yang menjalankannya. Orang inilah yang saya kafirkan, dan kebanyakan umat (Islam) tidaklah seperti itu”, (Ar-Rasaail Asy-Syakhsiyyah, hal. 38).

Dengan semangat itulah, Ibnu Saud berhasil mendirikan Negara Saudi I, tumbuh berkembang di bawah bimbingan spiritual Syaikh bin Abdul Wahhab.

Ibnu Saud wafat pada 1765, digantikan putranya Abdulaziz yang makin menguatkan kerajaannya. Di tahun 1788, dataran tinggi Nejed berhasil dikuasai.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal dunia pada 1792.

Setelahnya, di awal abad ke-19, pengaruh gerakan Wahabi dan klan Saud meluas ke sebagian besar Jazirah Arab, termasuk Mekkah dan Madinah.

Klan Saud dan dakwah Wahabi yang berasal dari pedalaman gurun memperoleh kegemilangan selama beberapa tahun.

Menghancurkan simbol-simbol kekeramatan di tanah suci. Terutama bangunan yang membungkus tanah kuburan.

Pasukan Saud pun meluaskan wilayah hingga pinggiran Syam dan Irak.

Berbagai serangan mereka berhasil meratakan banyak situs keramat Sufi dan Syi'ah, termasuk makam al-Husain (Radhiyallahu Anhu) di Karbala, yang paling disucikan Syi'ah melebihi Mekkah.

Serbuan juga berhasil meraih banyak rampasan perang. Ribuan Syi'ah dilaporkan tewas dalam bentrokan di Karbala dan Najaf.

Tahun 1803, Amir Abdulaziz terbunuh di tangan seorang Syi'ah Irak yang melakukan balas dendam.

Kemajuan kekasaan al-Saud akhirnya jadi masalah oleh kekhalifahan Turki yang saat itu menjadi superpower di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Bagi Turki, diambilnya Mekkah dan Madinah oleh orang-orang gurun Nejed merupakan cambuk memalukan.

Strategi klan Saud yang meluaskan wilayah terlalu jauh menjadi blunder.

Pasalnya, mereka kalah jauh secara sumber daya dibanding sang superpower, Turki Utsmani atau Ottoman (ejaan Barat).

Konflik 2 negara (de facto) terjadi. Provinsi Ottoman Mesir diperintah sebagai eksekutor perang melawan pasukan al-Saud.

Dipimpin Muhammad Ali Pasha, Ottoman Mesir mulai menekan klan Saud pada 1811. Lalu di tahun 1813, Mesir berhasil merebut Mekkah dan Madinah.

Tahun 1818, Ottoman mengirim pasukan besar yang dipersenjatai artileri modern dan pasukan multi-etnik (termasuk tentara bayaran) mengepung Diriyah, ibukota Negara Saudi I.

Kerajaan Saud akhirnya hancur lebur. Bahkan, Ulama penerus Syaikh Ibnu Wahhab turut dibunuh, yaitu Syaikh Sulaiman bin Abdullah.

Penguasa Diriyah, Abdullah al-Saud, beserta keluarganya ditawan untuk dibawa ke Mesir. Tapi amir Abdullah diarak ke Istanbul, dan dieksekusi mati oleh pemerintah Ottoman.

Di Nejed, Ottoman membuat kesepakatan dengan klan-klan lokal non Saud. Sayangnya, mereka juga menerapkan kebijakan keras bagi warga. Seperti eksekusi tawanan, meruntuhkan bangunan kota-kota di Nejed hingga penarikan upeti.

Di bawah Ottoman, kaum minoritas seperti Sufi, Kristen, Yahudi dan Syi'ah kembali menghirup kebebasan mempraktekkan apa yang mereka inginkan.

Daerah Hejaz ramai lagi dengan orang asing dan non Muslim. Tabuhan musik menggema. Bahkan alkohol beredar secara terbatas, kecuali Mekkah dan Madinah.

Sedangkan di Nejed, klan-klan sisa pengikut dakwah Wahabi, mencoba tetap mempraktekkan syariat Islam dengan ketat. (Sumber: buku 'The Story of Saudi Arabia', halaman 76)

Negara Saudi Kedua (II)
Tahun 1824, keluarga Saud kembali muncul secara politis di tengah jazirah Arab. Turki bin Abdullah al-Saud mengambil ulang daerah itu. Serta coba menggalang dukungan dari klan-klan Wahabi yang ada.

Sebagai penguasa baru, ia memindahkan ibukota ke Riyadh, sekitar 20 mil selatan Diriyah, dan mendirikan Negara Saudi jilid II.

Selama 11 tahun masa pemerintahan, Turki al-Saud sedikit demi sedikit berhasil merebut kembali sebagian tanah pendahulunya.

Di bawah kepemimpinannya dan sang putra, Faisal, Negara Saudi II sempat menikmati masa damai dan sejahtera selama selama beberapa tahun. Sektor perdagangan dan pertanian berkembang.

Menurut situs Kerajaan Arab Saudi, selain merebut ulang wilayah, Raja Turki al-Saud ingin rakyatnya menikmati hak dan kesejahteraan.

Gejolak politik lain terjadi, tahun 1831, Mesir membelot dari Ottoman. Di bawah Muhammad Ali Pasha, mereka mendeklarasikan kemerdekaan yang meluncurkan perang melawan Sultan di Istanbul.

Selama beberapa tahun hubungan antara Mesir dan Ottoman sangat unik. Kedaulatan Mesir tidak diakui internasional. Meski sudah independen seperti sebuah negara, secara de jure Mesir masih provinsi Ottoman.

Akan tetapi, penguasa Mesir makin lama makin lemah, pengaruh Inggris menguat, hingga jatuh 'lah wilayah itu ke tangan Inggris di abad 20.

Di Nejed, konflik multi-side dari kekuatan internasional membawa imbas. Mesir yang membelot, melemahnya Ottoman dan campur tangan Barat di Afrika Utara, beriringan dengan perkembangan Negara Saudi II.

Mesir sepenuhnya menarik diri dari masalah di semenanjung Arab pada 1840.

Ketenangan Saudi mulai terganggu pada 1865, Ottoman ingin memperluas lagi pengaruhnya di Semenanjung Arab.

Perselisihan pun terjadi di antara anggota keluarga Saud yang berebut kekuasaan. Secara umum, negara ini lebih lemah dari pendahulunya.

Pasukan Ottoman sukses merebut sejumlah wilayah-wilayah Negara Saudi II di masa Abdulrahman bin Faisal.

Dengan dukungan Ottoman pula, Keluarga al-Rasyid bangkit menjadi saingan, dan berupaya menggulingkan kekuasan klan Saud.

Menghadapi jumlah tentara yang lebih besar, Abdulrahman terpaksa menarik diri dari perjuangannya mempertahan Negara Saudi, tahun 1891. Maka berakhirlah Negara Saudi II.

Ia mencari perlindungan dari suku-suku Badui nomaden di gurun Arab timur, dikenal dengan nama Rub 'Al-Khali' atau 'Empty Quarter'.

Abdulrahman dan keluarganya kemudian melanjutkan perjalanan ke Kuwait, menetap hingga tahun 1902.

Ia memiliki putra, Abdulaziz, seorang pemimpin politik Islam yang mewarisi jiwa kepemimpinan dari moyangnya.

Kerajaan Arab Saudi (modern)
Abdulaziz bertekad merebut tampuk kekuasaan di Riyadh yang diambil oleh keluarga al-Rasyid dari keluarganya. Saat itu, mereka telah mendirikan kegubernuran dan garnisun (pertahanan kota) di sana.

Tahun 1902, Abdulaziz bersama 40 pengikutnya melakukan perjalanan malam ke Riyadh untuk merebut basis garnisun kota, dikenal sebagai Benteng Masmak.

Peristiwa ini menandai dimulainya negara Arab Saudi modern yang bertahan hingga hari ini.

Setelah merebut Riyadh sebagai markas, Raja Abdulaziz berhasil menduduki semua wilayah Hijaz, termasuk Mekkah dan Madinah, pada 1924 hingga 1925.

Ia berhasil menghimpun klan-klan yang kerap berselisih menjadi terpimpin. Strategi pernikahan kembali digunakan untuk mempersatukan. Pasukan pendukung Abdulaziz dikenal dengan nama al-Ikhwan.

Pemberontakan Syarif Hussein melawan Ottoman dengan dukungan Inggris, justru menjadi bumerang. Raja Abdulaziz memanfaatnya untuk menyingkirkan keluarga Hasyimiyah dari Hejaz.

Syarif Hussein yang ditipu kecewa pada Inggris, karena wilayah Syam ternyata dipecah-pecah pasca Perang Dunia I. Padahal ia memberontak karena ingin semua tanah Arab lepas dari bangsa Turki dan mendirikan sebuah negara dari Yaman hingga Aleppo.

Inilah blunder sang penguasa Mekkah yang menguntungkan penguasa Riyadh.

Pada 23 September 1932, negara baru itu resmi diberi nama Kerajaan Arab Saudi, menguasai sebagian besar semenanjung Arab.

Sebuah negara Islam dengan bahasa Arab sebagai bahasa nasional, sementara Al-Qur'an dan Sunnah jadi konstitusi tertinggi.

Meski kerap tak disukai oleh firqah Islam non-Wahabi, tapi secara de facto hampir semua firqah itu mengakui Saudi modern sebagai negara Islam.

Arab Saudi jadi negara paling pertama yang disebut karena diharapkan pertolongannya jika ada masalah umat.

Palestina dibom, kemana Saudi?
Pengungsi Suriah, kemana Saudi?
Bencana alam, kemana Saudi?
Yaman, kemana Saudi?

Karena tak ada lagi negara Islam trans-nasional seperti Turki Ottoman, Arab Saudi diinginkan bisa menjadi pemain global untuk umat Islam.

Kaum Nejed pasca Ibnu Abdul Wahhab
Salah satu kritik terbesar terhadap perkembangan kekuasaan Saudi adalah dakwah Nejed, atau generasi setelah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Mereka dipandang sangat keras dalam mengkafirkan dan loyal kepada kekuasaan bani Saud.

Perselisihan Saudi dengan Ottoman diyakini menjadi sebab kerasnya sikap kaum Nejed. Seperti pengkafiran dan pemusyrikan terhadap penguasa Turki, alasannya adalah bekerja sama dengan orang kafir (Barat).

Kelompok dakwah ini sangat ekstrim dalam menyikapi kaum Sufi dan Asyariyah (pentakwil sifat Allah). Kaum Nejed pun menentang keras keluarga al-Rasyid.

Di masa kini, Ulama-Ulama Salafi Saudi sendiri turut mengkritik tajam keghuluwan dakwah Nejed.

Diantara kesalahan kaum tersebut adalah ketiadaan uzur jahil dalam vonis kafir pada seseorang.

Seseorang yang didapati melakukan amalan kesyirikan langsung divonis di luar Islam.

Jika ia tidak tahu larangan kesalahan tersebut, maka kondisinya seperti ahlul fatrah (tidak tahu risalah agama). Jika ia tahu, maka langsung murtad dan halal darahnya.

Penegakan hujjah hanya sebatas memberi tahu (menyampaikan), tanpa penjelasan agar paham.

Inilah 2 alasan dakwah Nejed menjadi sangat keras. Di masa kini, mereka turut disalahkan atas lahirnya kelompok ultra ekstremis, ISIS.

Sejumlah tokoh takfiri pun muncul karena membaca karya-karya gagasan ulama Nejed.

Arti Wahabi
Secara harafiah, Wahabi adalah penisbatan dari nama belakang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ingin mendakwahkan pemurnian agama kepada kaum Muslimin, agar sesuai manhaj Salaf.

Wahabi memiliki ciri umum seperti Muslim Sunni lain:

1. Mengimani sifat-sifat Allah berdasar arti bahasa tanpa takwil (kecuali ada dalilnya), pemisalan, penyerupaan dan penafian

2. Tegas menyerukan penerapan syari'at Islam

3. Melawan bid'ah, khurafat, takhayul, syirik, maksiat dan hal-hal yang bertentangan dengan Islam lainnya

4. Anti pengkultusan kuburan dan pembangunannya

5. Anti Syi'ah Rafidhah, Murji'ah, Ahmadiyah, Khawarij (ISIS), sekuler, liberal dan sebagainya

6. Selalu mengingatkan umat Islam tentang poin-poin pembatal ke-Islaman

7. Mengajak pada pemahaman Wala' Bara' yang benar

8. Dasar fiqih yang digunakan adalah Hanbali
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.