Seperti inilah yang dialami anak-anak Idlib saat terkena gas saris, rasa sakit, tak bisa bernapas...

Korban serangan gas kimia di Idlib
Dikutip dari JPNN, Sarin atau GB, adalah senyawa organoposphorous dengan rumus kimia (CH3)2CHO]CH3P(O)F. Dalam bentuk cairan, senyawa ini tidak berwarna dan tidak berbau.

Sebagai senjata kimia, Sarin membawa efek ekstrem yang berpotensi merusak sistem saraf (nerve agent).

Gas ini telah diklasifikasi sebagai “Senjata Pembunuh Massal” pada Resolusi PBB 687. Produksi dan penyimpanannya dilarang oleh Chemical Conventions Weapon, tahun 1993, dan diklasifikaskan dalam zat kimia level 1.

Mekanisme kerja Sarin ini mirip seperti insektisida yang umum digunakan, seperti Malathion.

Dalam term aktivitas biologis, ia mirip insektisida karbamat seperti Sevin dan obat-obatan pyridostigmine, neostigmin, dan physostigmine.

Layaknya perusak sistem saraf lainnya, Sarin menyerang sistem saraf.

Secara khusus, Sarin merupakan inhibitor (penghalang) potensial dari enzim acetylcholinesterase, yaitu protein yang menurunkan neurotransmitter asetilkolin setelah dilepaskan ke celah sinaptik.

Pada vertebrata, asetilkolin adalah neurotransmitter yang digunakan pada sambungan neuromuskuler (sambungan saraf antar otot-otot), dimana sinyal tersebut dikirimkan antara neuron dari sistem saraf pusat serat-serat otot.

Biasanya, asetilkolin dilepaskan dari neuron untuk merangsang otot, setelah itu terdegradasi oleh acetylcholinesterase, yang memungkinkan otot untuk rilex (tidak bekerja).

Sebuah penumpukan asetilkolin di celah sinaptik menyebabkan setiap impuls saraf secara efektif terus-menerus disalurkan.

Kematian biasanya akan terjadi sebagai akibat dari asfiksia (sesak nafas) karena ketidakmampuan fungsi otot-otot yang terlibat dalam pernapasan.

Sarin adalah zat yang memiliki volatilitas tinggi (cairan yang dapat dengan mudah berubah menjadi gas), sangat mirip dengan gas saraf lainnya.

Menghirupnya sangat berbahaya, bahkan uapnya dapat dengan mudah menembus kulit.

Pakaian seseorang dapat melepaskan zat ini hingga sekitar 30 menit setelah melakukan kontak dengan sarin sehingga dapat membuat orang lain terpapar.

Orang yang menghirup dosis tidak berbahaya, jika tidak segera mendapat pengobatan standar, ia dapat menderita kerusakan saraf permanen.

Bahkan pada konsentrasi rendah pun, Sarin bisa berakibat fatal, kematian terjadi satu menit setelah menghirup satu dosis yang berbahaya kecuali zat "penawar" seperti atropine dan pralidoxime cepat diberikan kepada korban.

Sarin diperkirakan 500 kali lebih mematikan daripada sianida.

Gejala awal dari terkena sarin adalah hidung meler, sesak di dada dan penyempitan pupil mata.

Segera setelah itu, korban memiliki kesulitan bernapas dan mengalami mual dan terus menerus keluar air liur.

Korban terus kehilangan kontrol fungsi tubuh, para korban muntah, buang air besar dan buang air kecil.

Fase ini diikuti oleh pengejangan dan sentak-menyentak. Pada akhirnya, ia koma dan mati lemas dalam serangkaian kejang-kejang hebat.

Gas sarin adalah buatan manusia, ditemukan oleh Dr. Gerhard Schrader dari Jerman dan dikembangkan sebagai pestisida di Jerman pada tahun 1938.

Tetapi selama Perang Dunia II, ilmuwan perang Nazi menyadari Sarin bisa jadi senjata kimia. Namun, karena pertimbangan efek yang sangat berbahaya, zat ini akhirnya tidak digunakan.

Sarin terkenal setelah digunakan Saddam Hussein kepada ribuan warga Kurdi di Kota Irak utara, Halabja, tahun 1988. Diperkirakan 5.000 orang tewas.

April 1988, Irak juga menggunakan gas ini untuk melawan tentara Syi'ah Iran. Gas inilah yang membantu Irak mengambil alih Semenanjung al-Faw.

Pada 1994, sebuah sekte di Jepang, Aum Shinrikyo menggunakan Sarin di Matsumoto, Nagano. Menyebabkan kematian 8 orang dan melukai 200 lainnya. Sekte ini kembali menggunakan gas ini di Tokyo Metro pada 1995 dan menewaskan 13 orang.

Serangan bom di kota Khan Sheikhoun, Idlib, Suriah pada Selasa (4/4) mengejutkan dunia. Pasalnya, terindikasi kuat para korban terkena gas Sarin.

Lebih dari 80 orang tewas akibat serangan. 500 lainnya mengalami gangguan serupa dengan gejala yang ditimbulkan oleh gas sarin. Seperti hidung berair, sesak nafas, dan penyempitan pupil.

Selanjutnya korban akan mengalami sesak nafas, mual, dan air liur terus keluar. Fase selanjutnya adalah korban akan terus kehilangan kontrol fungsi tubuh, muntah-muntah, dan buang air besar-kecil.

Korban yang terpapar konsentrasi besar akan meninggal dalam hitungan menit. Anak-anak kecil kejang-kejang dan hampir tak sanggup bernapas, meski di tubuhnya tak ada luka berarti.

Sarin dan Klorin
Serangan di Khan Syaikhun hampir pasti bukan gas klorin, agen kimia lain yang diyakini kerap dipakai rezim Assad untuk menggempur wilayah oposisi.

Gas klorin bukanlah gas saraf meski membahayakan pernapasan dalam dosis besar.

Klorin akan bereaksi dengan air di dalam tubuh untuk membentuk asam kuat HCl (asam klorida).

Dampaknya sangat merusak jaringan pernapasan. Menyebabkan penumpukan cairan, korban kesulitan bernapas atau yang terparah adalah meninggal dunia.
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.