Untuk keluar-masuk Tepi Barat, warga Palestina harus melewati pos pemeriksaan Israel berupa jalur seperti penjara

Antrian di pos pemeriksaan Qalandiya (Reuters)
Qalandiya checkpoint menjadi pintu masuk bagi orang-orang Palestina yang hendak menyeberang antara wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur, baik untuk bekerja, sekolah, mengunjungi rumah sakit, atau bertemu kerabat.

Di satu sisi, terdapat menara pengawasan tentara Israel dengan kaca anti peluru.

Di sisi lain, terdapat dinding beton yang sudah hangus oleh bom, penuh lubang peluru dan tulisan grafiti Palestina. Di tengahnya terdapat pagar baja.

Padahal, di zaman Bizantium daerah ini penuh ladang buah dan anggur.

Sekitar 26.000 warga Palestina melewati Qalandiya setiap harinya, dengan berjalan kaki, mengendarai mobil, atau bahkan bus, menurut pihak berwenang Israel.

Pengecekan biasanya dilakukan dengan cepat. Namun, dalam beberapa kasus, terdapat pertanyaan atau penundaan panjang jika ditemukan perbedaan izin dan identitas.

Antrian sudah terbentuk di pos pemeriksaan sebelum fajar.

Diantara puluhan pos pemeriksaan, Qalandiya adalah yang terbesar dan paling terkenal. Pos ini menangani sepertiga dari orang-orang Palestina yang masuk dan keluar Tepi Barat setiap hari.

Sebuah tanda di dekat Qalandiya di sisi Yerusalem memperingatkan orang Israel agar tidak menyeberang:

"Jalan ini menuju ke Area 'A' di bawah Otoritas Palestina. Pintu masuk untuk warga Israel dilarang, berbahaya untuk hidup Anda dan bertentangan dengan hukum Israel"

Mereka yang menyebrang merasa sangat dibatasi dan diawasi secara ketat.

"Rasanya seperti berada di penjara," ujar Ala al-Shweiki (30) yang melintasi Qalandiya setiap pagi untuk bekerja.

Pos pemeriksaan tersebut mulai terbentuk pada tahun 2001, ketika Israel mulai membangun tembok beton sepanjang 700 km memisahkan Tepi Barat dari Yerusalem dan Israel.

Tujuannya adalah menghentikan pelaku bom bunuh diri dan orang-orang bersenjata agar tidak mencapai Israel.

Serangan semacam itu sering terjadi selama perlawanan kedua Palestina, atau Intifada.

Menanggapi rasa frustrasi orang-orang Palestina atas pos Qalandiya, pihak berwenang Israel mengumumkan rencana mengeluarkan biaya sebesar $11 juta untuk meningkatkan fasilitas pos, terutama jalur pejalan kaki.

LSM Israel Machsom Watch memantau Qalandiya selama 16 tahun dan sering mengungkapkan kemarahan atas perlakuan terhadap orang-orang yang melewatinya.

"Ini adalah bahaya besar bagi kehidupan orang-orang Palestina", ujar Hana Barag, salah satu relawan.

Namun, serangan terhadap keamanan Israael di pos juga pernah terjadi.

Minggu ini, seorang wanita Palestina berusia 40 tahun menusuk anggota keamanan Israel.

Ibu dari 9 anak itu mengaku frustasi atas hidupnya. Penyerang biasanya ditahan atau ditembak mati. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.