"Darah akan tumpah, dan Muslim akan merasakan sakit"

anggota Hindu Yuva Vahini mengadakan unjuk rasa di kota Unnao, India. (5/4/2017. REUTERS)
Beberapa minggu ini, pemuda Hindu di India turut serta bertindak sebagai informan bagi polisi.

Mereka membantu melaporkan ribuan rumah potong hewan milik Muslim yang dianggap ilegal.

Bahkan mendesak petugas menghentikan pemuda Muslim yang berbicara dengan gadis Hindu.

Mereka tergabung dalam organisasi Hindu Yuva Vahini (Angkatan Pemuda Hindu), kelompok massa yang didirikan pada tahun 2002 oleh Yogi Adityanath, seorang pendeta lokal dan politisi.

Tujuannya untuk menegaskan dominasi agama di India yang dirasa sedang terkikis oleh agama minoritas.

Sejak Adityanath menjadi menteri negara bagian Uttar Pradesh bulan lalu, kelompok ini menjadi semakin berani, bahkan memberi tekanan pada polisi.

Daljit Singh Chawdhary, direktur jenderal polisi Uttar Pradesh, menepis kekhawatiran akan tindakan di luar hukum dari kelompok pemuda ini.

"Kami tidak menoleransi kelompok yang main hakim sendiri, mengambil hukum ke tangan mereka. Semua orang bebas untuk memberi kami informasi", katanya.

"Kami tidak mendengar adanya keluhan pada Hindu Yuva Vahini, sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk mengambil tindakan terhadap mereka", imbuhnya.

Adityanath dikenal dengan sikap anti-Muslim dan kampanye melawan "Jihad Cinta" (wanita Hindu menjadi Islam melalui pernikahan).

Penunjukannya cukup mengejutkan bagi warga India, muncul kekhawatiran akan merusak status sekuler India.

Mereka juga khawatir, agenda "pembangunan untuk semua" dari Perdana Menteri Narendra Modi akan diambil alih oleh kaum radikal.

"Darah akan tumpah, dan Muslim akan merasakan sakit", ujar Pankaj Singh, pemimpin Angkatan Pemuda Hindu.

Modi juga merupakan golongan Hindu-kanan, berasal dari partai BJP dan gerakan Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Adityanath mewakili BJP dalam jajak pendapat negara bagian Uttar Pradesh awal tahun ini.

Ia sering menantang disiplin BJP. Ini menimbulkan kekhawatiran Modi mungkin telah membentuk kelompok radikal "Hindutva", kekuatan agama-nasionalis.

"BJP tidak memiliki kontrol atas organisasi itu. Mereka hanya mendengar Adityanath dan tidak ada orang lain", ujar Gilles Verniers, asisten profesor ilmu politik di Universitas Ashoka.

Salah satu arahan pertama Adityanath setelah menjadi menteri utama adalah menutup RPH yang beroperasi tanpa izin di Uttar Pradesh.

Beberapa negara bagian India memang memiliki undang-undang larangan penyembelihan Sapi, karena dianggap suci oleh umat Hindu.

Tukang daging di Uttar Pradesh telah lama mengeluh, bahwa pihak berwenang tidak mengeluarkan izin baru, meski pemerintah masih membolehkan mereka beroperasi.

Lahan ini memberi pekerjaan dan makanan untuk umat Islam.

Massa pro Adityanath mendorong polisi menegakkan aturan larangan pemotongan hewan ilegal dan penjualan daging dari toko tanpa izin.

"Polisi telah menutup 45.000 toko daging kecil dalam waktu kurang dari 24 jam ... mereka mungkin gagal tanpa informan kami", kata Singh,

Selain itu, milisi Hindu juga melancarkan "Skuad Anti-Romeo", kelompok polisi yang melakukan intervensi mencegah pria dan wanita muda bertemu di ruang publik.

Seorang pejabat polisi mengatakan, unit ini dibentuk untuk mengatasi pelecehan seksual perempuan.

Ia mengakui bahwa anggota milisi kadang menekan polisi untuk menargetkan pemuda Muslim dan perempuan Hindu.

Muslim merasa menjadi target
"Mereka berpikir anak-anak kami adalah penjahat", ujar Irshad Sheikh.

Anaknya ditahan oleh polisi baru-baru ini.

Singh, pemimpin angkatan muda, menolak anggapan bahwa regu sengaja menargetkan Muslim. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.