Jumlah tewas bom di Rusia meningkat jadi 14 orang

Presiden Rusia Vladimir Putin menaruh bunga belasungkawa atas insiden bom di St. Petersburg (BBC)
Layanan keamanan negara Asia Tengah mengungkap terduga kasus bom kereta St Petersburg merupakan penduduk asli Kyrgistan yang memperoleh kewarganegaraan Rusia.

Empat puluh sembilan orang terluka dalam insiden ledakan antara dua stasiun bawah tanah pada Senin sore.

Pelaku diidentifikasi sebagai Akbarzhon Jalilov, kelahiran Osh tahun 1995.

Media pemerintah Kyrgyzstan mengatakan, layanan keamanan negara "mempertahankan kontak dengan dinas rahasia Rusia untuk penyelidikan lebih lanjut".

Pihak berwenang di St Petersburg telah menyatakan tiga hari berkabung.

Korban tewas meningkat menjadi 14 pada Selasa pagi setelah tiga orang meninggal di rumah sakit.

Presiden Rusia Vladimir Putin berada di St Petersburg ketika ledakan terjadi. Ia mengunjungi tempat kejadian pada Senin malam dan meletakkan bunga di sebuah kuil darurat.

Penyidik Rusia baru memberikan sedikit rincian. Sejauh ini, tidak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab.

Beberapa pemimpin negara lain turut menatakan belasungkawa, seperti Presiden AS Donald Trump, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Perdana Mentrei Inggris Theresa May.

Laporan awal menyebutkan, terjadi dua ledakan, yaitu di stasiun Sennaya Ploshchad dan Institut Tekhnologichesky.

Namun Komite Anti-Teroris Nasional Rusia kemudian menegaskan hanya ada satu ledakan dia antara dua stasiun, sekitar pukul 14.30 waktu setempat.

Andrei Przhezdomsky, kepala Komite Nasional Anti-Teroris mengatakan, ledakan disebabkan oleh "alat peledak tak dikenal".

Kantor berita Interfax mengatakan, pelaku memiliki hubungan dengan Islam radikal.

Pelaku meninggal dalam ledakan bunuh diri dan diidentifikasi melalui jenazahnya. (BBC).
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.