"Kami tidak memiliki kelompok yang membantu kami dari belakang, apakah di sini atau di luar negeri. Kami bertahan di sini hanya dengan menjual Sapi dan Kerbau"

Tokoh kelompok perlawanan Rohingya, Ata Ullah
Pemimpin pemberontak Muslim Rohingya menegaskan, kelompoknya akan terus berjuang "bahkan jika satu juta anggotanya harus mati",Jum'at (31/3).

Mereka menuntut pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi bertindak melindungi agama minoritas.

Dalam wawancara pertamanya, pemimpin kelompok Ata Ullah membantah adanya hubungan dengan grup Islamis asing.

Fokusnya saat ini adalah membela hak-hak warga Rohingya, yang menghadapi penganiayaan dari mayoritas Buddha Myanmar.

"Kami akan merebut hak-hak kami. Kami akan bertarung melawan pemerintah militer yang kejam", tegasnya.

Menurut PBB, militer Myanmar telah melakukan kejahatan perang, atau pembersihan etnis terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Pasukan keamanan dituduh melakukan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pembakaran rumah.

Pemerintah Myanmar membantahnya. Dan menyebut operasi di Rakhine bertujuan mencari pelaku serangan di pos perbatasan yang menewaskan 9 polisi.

"Tidak ada yang boleh bertindak melanggar hukum", ujar juru bicara Suu Kyi, Zaw Htay, menanggapi pernyataan Ullah.

"Jika mereka menyerang dengan kekerasan, kami akan merespon dengan cara yang sama", katanya.

Pertentangan etnis antara Rohingya dan kaum Buddha mulai merebak tahun 2012. Saat itu, 100 orang terbunuh dan 140.000 terpaksa mengungsi.

"Pada 2012, banyak hal yang terjadi dan mereka membunuhi kami. Saat itu, kami sadar bahwa mereka tidak akan memberi hak-hak kami", kata Ata Ullah.

Kelompok perlawanan dilaporkan dibentuk oleh warga Rohingya yang tinggal di Arab Saudi setelah insiden 2012.

Awalnya menyebut diri mereka Harakah al-Yaqin, "Gerakan Iman". Saat ini bernama Arakan Rohingya Salvation Army.

Ata Ullah muncul dalam serangkaian video yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan keamanan di perbatasan.

Pemerintah Myanmar menuduh kelompok ini berhubungan dengan kelompok militan di timur tengah.

Namun, Ata Ullah membantah kelompoknya terkait militan lain atau mendapat dukungan dari luar.

"Kami tidak memiliki kelompok yang membantu kami dari belakang, apakah di sini atau di luar negeri. Kami bertahan di sini hanya dengan menjual Sapi dan Kerbau", katanya. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.