Turki mungkin akan habis-habisan mendukung pejuang oposisi Idlib dalam menghadapi pasukan rezim, Rusia, dan sekutunya. Tapi jika...

Tentara Turki berlatih di garis perbatasan Turki-Suriah dekat kota Kilis, Turki (AlJazeera/Reuters)
29 Maret lalu, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengumumkan bahwa operasi militer "Euphrate Shield" di Suriah utara telah berhasil diselesaikan.

Namun, ia juga menyarankan operasi lintas-perbatasan baru.

Menurut Analis Turki, operasi Euphrate Shield berakhir karena sudah mencapai "batas alami", tapi Turki belum akan meninggalkan Suriah.

"Pengumuman Yildirim hanyalah pengakuan atas situasi di lapangan", ujar Atilla Yesilada, analis politik dari Istanbul's Global Source Partners.

"Saat ini Turki memiliki sedikit ruang untuk melakukan pergerakan di Suriah utara, baik secara diplomatik dan militer", jelasnya.

"Dalam prakteknya, operasi ini berakhir hampir sebulan yang lalu, ketika pengaruh Turki di Suriah (segitiga antara Jarablus, Al Rai dan Al Bab) dikelilingi oleh marinir Amerika di timur, tentara Rusia di barat dan pasukan rezim Suriah di selatan," ujar Metin Gurcan, analis keamanan Turki dan peneliti di Pusat Kebijakan Istanbul (IPC), Universitas Sabanci.

Operasi "Euphrate Shield" mulai diluncurkan pada Agustus 2016 dan berjalan selama 216 hari. Tujuannya yaitu mengusir ISIS dan pasukan Kurdi dari perbatasan.

Pada awal operasi, pasukan Turki berhasil mengambil alih kota perbatasan Jarablus dari militan ISIS. Di akhir Februari, Turki mengklaim telah menguasai al-Bab, salah satu sarang terkuat ISIS.

Namun, Baik AS maupun Rusia, terus memperdalam hubungan mereka dengan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi Suriah.

Turki menganggap Kurdi, terutama YPG, sebagai perpanjangan dari kelompok teroris PKK.

AS mengerahkan pasukan yang relatif kecil di pinggiran Manbij, dengan melibatkan Kurdi.

Sementara, Rusia mengumumkan persiapan pangkalan militer di Afrin untuk melatih pasukan Kurdi.

"Ankara sadar mereka tidak bisa bergerak ke timur maupun barat, dan kedua pihak ini nampaknya tidak tertarik dengan kepentingan Turki di wilayah tersebut", ujar Yesilada.

"Sambil menunggu kesempatan kedua operasi lintas-perbatasan, Turki akan memulai upaya rekonstruksi pasca-konflik", ujar Gurcan.

Sejak September 2016, Turki mengirim pengungsi Suriah kembali ke Jarablus dan kota-kota lain yang berhasil diambil-alih.

Menurut analis, Ankara berencana memulangkan setidaknya 10.000 pengungsi dari Kilis ke Suriah utara, Mei tahun ini.

"Alasannya bukan hanya kemanusiaan, tapi juga mengkonsolidasikan pengaruhnya di kawasan itu", jelas Gurcan.

Namun, sikap Rusia terhadap Idlib (provinsi terakhir yang dikendalikan oposisi) juga akan memengaruhi pengaruh Turki di Suriah Utara.

"Jika Rusia memutuskan menyerang Idlib, mereka perlu daerah baru untuk memindahkan pejuang oposisi dan sipil setelah pertempuran berakhir. Putin kemungkinan akan memilih daerah yang dikuasai Turki (Jarablus, al-Bab dan al-Rai)", ia memprediksi.

Menurut Gurcan, kemungkinan itu akan membuat Turki kembali memiliki kontrol di wilayah segitiga.

Namun, Yesilada memiliki pandangan lain, Turki akan mendukung pejuang oposisi Idlib dalam menghadapi pasukan rezim, Rusia, dan sekutunya.

"Saya tidak berpikir Rusia akan mengungsikan pejuang ke wilayah yang dikuasai Turki", jelasnya. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.