Pejabat militer Israel mendesak kepemilikan F-35 karena negara-negara Arab seperti Saudi mulai memperoleh sejumlah besar jet F-15

Ilustrasi (Aljazeera)
Israel baru saja menerima tiga jet tempur siluman F-35 dari Amerika Serikat akhir pekan ini.

Total, Israel membeli 50 unit F-35 dari pabrik Lockheed Martin, dan mengklaim akan memiliki skuadron tempur pertamanya sebelum akhir tahun.

Israel adalah negara pertama selain AS yang diizinkan memiliki pesawat tempur yang terkenal paling mahal dari jenis yang pernah dikembangkan.

Kemampuan utama F-35 adalah mode siluman yang canggih.

Kabarnya, mode itu memungkinkan jet menghindari sistem rudal anti-pesawat yang paling canggih sekalipun. Lockheed menggambarkan pesawatnya dengan istilah "hampir tak terlihat".

Satu unit F-35 diperkirakan bernilai $110 juta. Namun, analis menilai, harga ini akan "dibayar" oleh pembayar pajak AS.

Armada F-35 Israel ini kemungkinan besar dibiayai dari bantuan militer AS.

Kucuran tahunan yang diterima Israel dari Washington akan meningkat tahun depan menjadi $3,8 miliar.

Kesepakatan bantuan 10 tahun dibuat Barack Obama sesaat sebelum habis masa jabatan sebagai presiden AS.

Ash Carter, Menteri Pertahanan AS di masa Obama, memuji pembelian F-35 oleh Israel karena memungkinkan angkatan udara kedua negara bekerja lebih dekat.

Militer AS sendiri berencana memesan hingga 2.400 jet jenis tersebut.

"Bersama-sama, kita akan mendominasi langit", ujarnya, Desember lalu.

Atas desakan Israel pula, tidak ada negara Arab yang diizinkan membeli F-35.

Dalam negosiasi awal, Pentagon sepakat jet tersebut hanya dipakai untuk membantu Israel mempertahankan "batas militer kualitatif" dari tetangganya.

Pejabat militer Israel mendesak kepemilikan F-35 karena negara-negara Arab seperti Saudi mulai memperoleh sejumlah besar jet F-15.

"Ini tentang memastikan superioritas militer regional Israel untuk waktu yang lama", ujar Efraim Inbar, direktur Pusat Studi Strategis Begin-Sadat di Universitas Bar Ilan.

F-35 kemungkinan tidak digunakan mengebom wilayah Palestina, karena Hamas bahkan tidak memiliki baterai radar atau rudal anti-pesawat.

"Kami tidak membeli F-35 untuk menyerang Gaza", ujar seorang sumber.

Namun, pemimpin partai Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouti, meragukan kabar itu.

"Pesawat akan digunakan dimana-mana, dan mengingat Gaza tidak berdaya melawan serangannya, bisa jadi wilayah ini jadi tempat Israel melakukan tes", keluhnya.

Produksi F-35 juga menggambarkan makin dekatnya hubungan antara produsen senjata Israel dan AS, menurut Jeff Halper, penulis buku War Againts the People.

Perusahaan Israel memenangkan kontrak senilai lebih dari $250 juta tahun lalu dengan Lockheed.

Proyek termasuk Elbit Systems, yang membantu mengembangkan sistem helm dan radio. Dimana Israel Aerospace Industries bekerja untuk Lockheed. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.