Israel membombardir posisi milisi pro Assad dari wilayah Dataran Tinggi Golan. Apa alasan Zionis menyerang rezim brutal itu?

Pasukan Israel menembaki kelompok pemerintah Assad di pedesaan Quneitra, pada Minggu (23/4). Dua hari lalu, Israel juga melakukan serangan serupa di provinsi ini.

Media berita Al-Jazeera mengabarkan, serangan menargetkan pasukan rezim di daerah Naba al-Fuwar, provinsi Quneitra, yang juga mencakup wilayah Dataran Tinggi Golan.

Tiga milisi NDF, dari Pasukan pro Assad, tewas dan dua lainnya terluka, menurut petinggi NDF.



Tentara Israel pada Jum'at (21/4) mengatakan, pihaknya menargetkan Suriah untuk membalas tembakan mortir ke bagian utara Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

"Tentara Israel menargetkan sumber serangan", menurut pernyataan tentara tanpa rincian lebih lanjut.

Serangan Israel menyebabkan kerusakan di wilayah tentara Assad di provinsi Quneitra, menurut media SANA.

Menurut media corong Assad tersebut, serangan Israel terjadi "setelah usaha kelompok teroris menyusup ke posisi militer Suriah berhasil digagalkan".

Untuk meraih simpati, rezim Assad menyebut semua kelompok oposisi sebagai "teroris" dan menuduh Israel mendukung mereka.

Israel menduduki 1.200 km persegi Golan sejak perang 1967, kemudian menganeksasinya dalam sebuah tindakan yang tidak diakui masyarakat internasional.

Sekitar 510 km persegi Golan masih berada di bawah kendali Suriah.

Kedua negara masih berperang secara teknis, meski perbatasannya relatif tenang sejak keluarga Assad berkuasa.

Wilayah bagian itu terkena serangan sporadis dan Israel baru-baru ini melakukan balas dendam.

Sejak dekade 90-an, rezim Assad dan Israel terlibat "upaya perdamaian" tidak langsung yaang ditengahi AS hingga Turki.

Rezim menginginkan dikembalikannya Golan sebagai syarat "perdamaian permanen".

Namun penyerahan batas-batas wilayah yang disengketakan sangat alot dibahas.

Setelah revolusi pecah, upaya perdamaian dan "tawar-menawar Golan" antara Assad-Israel berhenti.

Bahkan Israel mengklaim permanen wilayah itu, yang dikecam internasional, termasuk oposisi Suriah. (Al-Jazeera/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.