HRW mengecam serangan AS ke masjid tempat berkumpul Jama'ah Tabligh di Aleppo, Maret lalu

Serangan udara AS hantam masjid Jama'ah Tabligh
Kelompok HAM Human Rights Watch (HRW) pada Selasa (18/4) menyatakan militer AS gagal mengambil “tindakan yang diperlukan” agar mencegah korban sipil.

Pernyataan mengacu pada serangan di sebuah masjid Suriah 16 Maret lalu.

Serangan terjadi wilayah oposisi, desa Al-Jinah, pinggiran Aleppo utara, yang digunakan dalam perkumpulan dakwah Jama'ah Tabligh.

49 orang tewas dalam insiden tersebut dan sebagian besar warga sipil, menurut Observatorium HAM Suriah (SOHR).

"Pasukan AS gagal mengambil tindakan yang diperlukan untuk meminimalkan korban sipil. Berdasarkan pernyataan dari personel militer AS, mereka tidak tahu (gedung) ini adalah masjid, ini mencerminkan bahwa intel mereka buruk", kata Ole Solvang, peneliti utama penyelidikan HRW.

Pentagon mengatakan, serangan ditargetkan pada pertemuan para pemimpin senior Al-Qaeda.

Mereka membantah penargetan tempat ibadah, namun gedung yang hancur akibat serangan dipastikan sebagai bagian dari aktivitas masjid.

HRW telah mewawancarai 14 orang di "lingkar utama" serangan, serta bekerja sama dengan organisasi lain untuk menganalisis citra udara dan merekonstruksi serangan.

Bangunan yang terkena serangan memang tidak memiliki fitur tradisional masjid, seperti atap kubah atau menara.

Namun, pengawasan udara menunjukkan orang-orang secara teratur berkumpul untuk shalat di sekitar gedung tersebut.

Serangan pun terjadi setelah waktu Maghrib, menuju Isya. Saat itu, jama'ah sedang berkumpul.

"Analisis kami bertentangan dengan pernyataan AS, bangunan yang ditargetkan adalah masjid yang baru dibangun dan sudah berfungsi, berisi ruang shalat, tempat tinggal Imam dan fungsi lainnya", menurut Arsitektur Forensik.

“AS tampaknya membuat beberapa kesalahan mendasar dalam serangan ini, dan puluhan warga sipil harus membayarnya.. Pihak berwenang AS perlu mencari tahu kesalahannya, melakukan penelitian sebelum memulai serangan, dan pastikan itu tidak terjadi lagi", ujar Ole.

AS mengklaim menemukan bukti bahwa militan memang berada di sekitar masjid.

Tapi HRW tetap mengecam hal itu.

"Bahkan jika ada anggota kelompok bersenjata di masjid, memahami sifat bangunan yang ditargetkan dan pola hidup di sekitar gedung sangat penting dilakukan dalam menilai risiko bagi warga sipil, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk meminimalkan korban sipil", ujar laporan HRW.

"Menyerang sebuah masjid sebelum waktu shalat, kemudian menyerang orang yang mencoba melarikan diri tanpa mengetahui apakah mereka warga sipil atau militan, adalah tindakan tidak proporsional dan melanggar hukum perang. Bahkan jika ada anggota kelompok bersenjata di masjid", kritik HRW. (Arab News)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.