Para gadis sekolah merasakan kelegaan setelah melemparkan batu pertamanya ke arah pasukan India. Mereka marah atas kekerasan pada mahasiswa oleh polisi

Gadis Kashmir (Al-Jazeera)
Beberapa pekan lalu, polisi India di Kashmir dikabarkan memukuli mahasiswa di Perguruan Tinggi Pulwama.

Video kejadian ini sontak tersebar, membuat seluruh pelajar di Kashmir turun kejalan melancarkan aksi protes. Kali ini, para gadis turut melancarkan aksi lempar batu.

Gambaran demo seketika menjadi viral, meski pemerintah India memutus sebagian besar koneksi internet di wilayah tersebut.

Beberapa gambar menunjukkan siswi berseragam sekolah sedang melempar batu.

Gambar lain menunjukkan dua gadis yang melempar batu ke arah kendaraan polisi, sementara satu petugas menodongkan pistol ke arah mereka.

Seorang gadis muda yang melompat menendang kendaraan lapis baja juga tertangkap kamera.

"(Aksi) itu hanya terjadi sebentar, tapi semua kemarahan dan aspirasi saya selama bertahun-tahun terungkap. Saya ragu melempar batu pertama, tapi kemudian, sepertinya saya melempar ratusan batu. Saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata kebebasan yang saya rasakan saat itu", ujar Mehak, salah satu siswi yang ikut aksi protes.

Perempuan menjadi bagian dari gerakan perlawanan Kashmir, terutama sejak 1989. Mereka bertindak sebagai kurir bagi gerilyawan, bahkan memimpin demonstrasi.

Dalam 10 tahun terakhir, terdapat ratusan gambar dan video yang menunjukkan wanita di desa dan kota Kashmir berada dalam garis depan bentrokan dengan pasukan India.

Namun, gambar gadis berseragam sekolah melempari India adalah yang pertama.

"Itu untuk masa depan mereka sendiri, sangat menyenangkan melihat keinginan perjuangan kami diteruskan generasi berikutnya", ujar Parveen Ahanger, kepala Asosiasi Orangtua dari Anak Hilang (APDP).

Parveen berjuang melawan India untuk menemukan sekitar 10.000 warga Kashmir yang diyakini masuk penjara secara paksa oleh pasukan India.

Kelompoknya pernah melakukan aksi protes, dan berujung pada penangkapan.

"30 anggota ditangkap, semua mengalami memar dan pendarahan. Kami hanya ingin memberikan memorandum kepada PBB agar mendukung pencarian terhadap anak-anak kami yang hilang", tutur Parveen

Sayangnya, pihak berwenang India menanggapi demonstrasi dengan melakukan kekerasan pada siswa, menutup institusi pendidikan, dan melakukan penangkapan.

Sedikitnya 100 siswa terluka dalam 10 hari terakhir. (Anadolu Agency)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.