Sejumlah faksi terkenal FSA di Idlib dan sekitarnya sepakat melakukan penyatuan, termasuk mengajak kelompok Islamis Ahrar Syam

Ilustrasi (Al Jazeera)
Sebuah aliansi militer baru akan dibentuk untuk menyatukan kontrol militer atas wilayah oposisi di Suriah utara, yaitu provinsi Idlib, bagian barat provinsi Aleppo, dan sebagian provinsi Latakia, menurut komandan Free Syrian Army (FSA).

Dua sumber FSA mengkonfirmasi komando militer baru masih akan didukung oleh negara "Sahabat Suriah" (Turki, Eropa Barat, negara-negara Teluk dan AS).

Pasukan oposisi ini akan melawan rezim Assad di Suriah utara. Sumber itu membantah laporan media bahwa tujuan penyatuan mereka adalah menyerang Hay'at Tahrir Syam, aliansi Islamis-Jihadis yang didominasi Jabhah Fathu Syam.

Pendanaan dan dukungan logistik untuk oposisi di Suriah utara yang sempat dibekukan CIA telah dikembalikan hingga batas tertentu.

Sumber FSA lain menyebut Turki dan AS masih merundingkan bagaimana bentuk komandonya, juga meminta faksi oposisi lain ikut bergabung.

Beberapa kelompok yang sudah bergabung adalah Failaq Syam, Tajamu Fastaqim, Jaisyul Mujahidin dan Jaisyul Idlib.

Syaikh Fadlallah Haji dari Failaq Syam dipilih sebagai pemimpin.

Sementara kelompok Islam terkuat, Ahrar Syam, belum menentukan posisinya dalam aliansi baru tersebut.

Menurut analis Suriah, Mohamed al-Abdullah, Ahrar Syam adalah faktor kunci keberhasilan aliansi

"Ahrar al-Syam akan menjadi faktor yang menyukseskan atau mungkin menggagalkan penyatuan ini. Jika Ahrar Syam menolak bergabung, saya pikir penyatuan tidak akan berhasil. Seperti yang kita semua tahu, Ahrar Syam adalah kekuatan militer utama di kawasan itu", katanya.

Langkah menyatukan faksi oposisi muncul beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengunjungi Turki.

Selain itu, awal pekan lalu, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengumumkan berakhirnya operasi Euphrate Shield di utara Aleppo.

Abdul Majeed Barakat, penasihat politik FSA mengungkapkan, Turki telah merencanakan penyatuan tentara oposisi dengan nama "Jaisyul Watani" atau "Jaisyul Tahrir".

Kekuatan ini seharusnya memimpin tahap kedua dari rencana operasi militer dukungan Turki di Suriah, dengan fokus di provinsi Idlib.

Barakat melanjutkan, sejumlah pertemuan diadakan di Ankara antara otoritas Turki dan komandan oposisi untuk membahas masalah tersebut. (Al-Jazeera).
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.