Dari pantauan Risalah, para peserta acara dakwah terdiri dari berbagai lapisan dan usia

Suasana pintu masuk Gymnasium UPI
Dr. Zakir Naik memotivasi Muslim Indonesia agar jadi contoh di dunia, dengan potensi populasi terbesar di dunia.

Namun sayangnya belum banyak Muslim di negeri ini yang mengenal Al-Qur'an dan Sunnah (masih awam).

Ia berharap dengan dakwah, Insya Allah mayoritas Muslim Indonesia akan kembali kepada 2 harta karun dari Allah itu.

Zakir Naik juga menyampaikan tentang kewajiban dakwah, yaitu menyampaikan tentang Islam, terutama pada non Muslim.

"Indonesia punya populasi Muslim terbesar, jadi tanggung jawabnya juga besar (menyampaikan ajaran kebenaran). Jika tidak, Allah bisa mengganti umatnya kapanpun", pesannya.

Seperti di Turki, selama puluhan tahun simbol-simbol Islam dilarang di sana.

Namun dalam 10-20 tahun terakhir, hal itu mulai berubah. Di bawah pemerintahan Erdogan, Muslim di sana berupaya membangkitkan lagi kejayaan Islam di Turki.

Ia memotivasi Muslim Indonesia agar tidak malu menyampaikan ajarannya kepada umat lain. Tak perlu takut dengan risiko apapun.

Karena cara yang baik akan menghasilkan hal yang baik, meski mereka belum masuk Islam.

Dr. Zakir mengambil contoh di India. Dimana ia berdakwah tentang Islam di negeri mayoritas non-Muslim.

Meski ada yang membencinya, namun banyak pula pemeluk agama lain yang menjadi bersikap baik pada Muslim karena mereka lebih kenal tentang Islam.

Dr. Zakir Naik sampaikan ceramahnya
Sedot berbagai lapisan masyarakat
Dari pantauan Risalah, para peserta acara dakwah terdiri dari berbagai lapisan dan usia.

Norman Mahyudin misalnya, bapak 60 tahun itu datang di hari libur ini karena penasaran dengan sosok Dr. Zakir Naik.

"Sudah lama liat video Zakir Naik", ujarnya.

Meski ceramah dilakukan dalam bahasa Inggris berdialek India, namun tak ada kendala bagi peserta seperti pak Norman.

Sebabnya, panitia menyiapkan penerjemah yang mengiringi penyampaian Dr. Zakir Naik.

Radio MQ juga menyediakan streaming versi bahasa Indonesia, jadi peserta bisa mengerti lebih jelas dengan earphone.

Lain lagi dengan Yuri Tadira, wanita 23 tahun ini ingin mengenal Islam lebih dalam.

Meski bersemangat akan Islam, selama ini ia belum bisa datang ke pengajian akibat kesibukan pekerjaan. Yuri bekerja di bagian dapur (pastry) hotel, partime, sehingga tidak menetap di satu hotel.

Dalam pekerjaannya itu, ia juga belum bisa mengenakan jilbab. Ini membuatnya ingin belajar lebih banyak tentang wanita dalam Islam dan kewajibannya. (Risalah)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.