Warga Muslim dipaksa bersumpah setia di bawah bendera China. sementara seorang pejabat Komunis wanita menarik jilbab Muslimah

potret muslim Uighur di Xinjiang, Cina Reuters)
China mengklaim tengah menghadapi ancaman serius ekstremis Islam di wilayah Xinjiang.

Beijing menuduh kelompok separatis dari etnis minoritas Muslim Uighur menyebar ketegangan pada etnik mayoritas Han, serta ada rencana serangan.

Media rezim Komunis mengatakan, langkah-langkah keamanan telah diambil. Seperti menempatkan pos-pos polisi baru di sudut jalan, bertujuan agar semua orang merasa aman.

Namun, banyak warga menilai pengamanan hanya bagian dari operasi keamanan opresif, yang juga sudah dilakukan di kota-kota Xinjiang selama beberapa bulan terakhir.

Pemilik toko di Kashgar harus ambil peran dengan menginstal pintu keamanan ber-password, "tombol panik", dan kamera di dalam toko. Kamera juga dipasang di jalan-jalan.

"Kami tidak memiliki privasi", ujar pemilik bisnis di Kashgar.

"Mereka ingin melihat apa yang kita lakukan", keluhnya.

Menurut sumber keamanan China, langkah-langkah keamanan di Xinjiang tidak bermotif politik, tapi berdasarkan perkembangan lapangan dan sumber intelijen.

Sejak kerusuhan etnis di ibukota Urumqi pada 2009, Xinjiang diganggu rangkaian kekerasan mematikan.

Insiden serangan sebetulnya telah menurun tajam, baik dalam frekuensi ataupun skala, setelah lewatnya serentetan pemboman dan penusukan massal di Xinjiang dan barat daya Provinsi Yunnan, tahun 2014.

Namun, media rezim China mengklaim ancaman tetap tinggi. Partai Komunis bersumpah melanjutkan "perang melawan teror" terhadap penyebaran "ekstremisme Islam".

China membantah adanya kebijakan represif di Xinjiang. Namun, laporan dari media berita Reuters menunjukan hal sebaliknya.

Di Xinjiang, Muslim Uighur wajib menghadiri pengibaran bendera mingguan, mengungkapkan kecaman pada ekstremisme agama dan berjanji setia di bawah bendera China.

Penghormatan Mingguan terhadap kain bendera China

Di Hotan, 500 km tenggara Kashgar, lebih dari 1.000 orang dibawa ke sebuah lapangan basket terbuka. Pejabat Partai memeriksa nama, pakaian dan penampilan mereka.

"Sebaiknya anda melepas ini atau saya akan mengirim (lagi) anda ke pendidikan ulang", ujar seorang pejabat perempuan China sembari menarik jilbab hitam wanita Uighur, membuat dahi dan rambutnya terlihat.

Otoritas Hotan menawarkan imbalan 2.000 yuan ($ 290) bagi warga yang melaporkan penggunaan penutup wajah (cadar) dan jubah, pemuda dengan jenggot panjang, atau kebiasaan agama populer lainnya yang dianggap radikal.

Anggota parlemen Xinjiang pekan ini menyetujui undang-undang larangan jenggot yang dinilai "abnormal" dan penggunaan cadar di tempat umum di seluruh provinsi.

Aturan baru mulai berlaku hari Sabtu.

Langkah-langkah berdalih "anti-teror" di Xinjiang dirancang oleh Chen Quanguo. Ia ditunjuk Partai Komunis di bulan Agustus.

Salah satu perubahan mencolok yang dilakukan Chen adalah membangun ribuan "kantor polisi nyaman" di Xinjiang dan merekrut sekitar 30.000 petugas baru.

Huang, sopir taksi dari etnis Han di Xinjiang memuji kebijakan keamanan ini bisa membuatnya merasa lebih aman.

"Beberapa orang berpikir ini terlalu berlebihan, karena hanya ada sedikit Uighur. Tapi jika mereka telah menyerang keluarga anda, maka anda akan tahu (rasanya)", ujar Huang. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.