Serangan gas di Idlib dilakukan di waktu yang sama seperti serangan Sarin di Ghouta 4 tahun lalu, yaitu sebelum fajar

Sisa dari pecahan rudal yang ditembakkan pada 2013 lalu di kota Ain Tarma, Ghouta, Suriah (7/4/2017. REUTERS)
Korban selamat dari serangan kimia di Ghouta, pinggiran Damaskus, 4 tahun silam masih dihantui rasa takut.

"Serangan gas bisa saja terjadi setiap saat", ujar Amer Zaydan (28), seorang kepala sekolah di Ghouta timur.

"Ketakutan menghantui kami di sini. Trauma di saat-saat (serangan) pertama kembali membayangi kami setelah pembantaian di Khan Syeikhun kemarin, seolah kami kembali melalui semua itu", ujarnya.

Serangan gas di Idlib dilakukan di waktu yang sama seperti 4 tahun lalu, yaitu sebelum fajar.

Gas beracun dapat bekerja efektif karena angin dalam kondisi paling tenang.

Waspada terhadap risiko serangan lain, penduduk Ghouta aktif berjaga di malam hari.

Masih jelas dalam ingatan Zaydan, ratusan orang tewas sebelum akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.

"Saya tak tahu apa yang terjadi pada anak yang saya gendong waktu itu", kenang Zaydan. Tujuh anggota keluarganya tewas.

"Tak mudah kami melupakannya, melihat ratusan orang meninggal adalah kenangan pilu yang tidak mungkin dilupakan", imbuhnya.

Kekhawatiran datangnya serangan lain juga menghantui Abu Ghassan di Ain Tarma. Ia melihat unggas dan Ayam mati di sepanjang jalan menuju rumah.

Bekal dari pelatihan militer membuatnya selamat dari serangan kimia.

Ghassan segera menutupi wajahnya dengan baju basah ketika merasakan racun, namun teman-temannya tak satu pun yang selamat.

Sejak peristiwa itu, ia selalu menyiapkan kain dan cuka untuk berjaga.

Potongan roket yang mengandung racun masih berserak diantara puing bangunan.

Beberapa bagian diambil oleh inspeksi PBB, dan sisanya disimpan agar suatu hari dapat digunakan dalam pengadilan kejahatan perang, tutur Abu Ghassan.

Saat ini, pasukan rezim Assad berada dalam posisi lebih kuat daripada empat tahun lalu, dan daerah oposisi menjadi lebih rentan.

"Setelah pembantaian di Khan Syeikhun, sepertinya Ghouta harus waspada. Kami merasa seolah-olah target berikutnya adalah kami", ujar Abu Ibrahim Baker, ahli bedah yang menangani korban serangan 4 tahun lalu.

"Jika pembantaian terjadi seperti 2013 lalu, diperkirakan kematian akan terjadi tiga atau empat kali lipat, karena kami tidak memiliki cukup atropin atau dukungan lain untuk bertahan", keluhnya.

Hammam Daoud, dokter di Ghouta barat saat serangan 2013, merasa terpukul saat melihat gambar korban serangan gas di Idlib.

"Gambar-gambar yang kita lihat dari Khan Syeikhun mirip dengan yang pernah kami lihat langsung. Gambar-gambar itu juga menunjukan gejala (keracunan) yang hampir sama", ujar Daoud. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.