Para mahasiswa/i dari agama tertentu secara militan tak kenal malu berusaha menggaet anak jalanan yang sebetulnya terlahir sebagai Muslim

Yayasan Bina Insan Kamil (BIK) yang aktif berdakwah di sekitar ibukota Jakarta hingga Bekasi, turut melakukan blusukan di jalanan untuk menguatkan ke-Islaman masyarakat.

Persaingan berebut umat adalah hal biasa di Indonesia. Aki-aksi agama tertentu tak ragu menyasar warga Muslim sebagai objek proyek "mengembalikan Domba tersesat ke kandangnya".

Terlebih anak-anak jalanan atau warga pinggiran, mereka biasanya tersisih dari hingar bingar "dakwah Sunnah" yang trennya cenderung menjadi mewah (menyasar kaum elit).

Di lain sisi, para mahasiswa/i dari agama tertentu secara militan tak kenal malu berusaha menggaet anak jalanan yang sebetulnya terlahir sebagai Muslim.

Mereka dengan diajak naik mobil, dibawa ke tempat ibadah agama itu. Lalu diajari nyanyi-nyanyi lagu yang diduga disisipi pesan teologi agamanya.

Kejadian ini diungkap oleh Melda, 12 tahun, yang tinggal di Pademangan. Ia sendiri tak paham maksud nyanyian yang diajarkan.

Melda sudah beberapa kali mengikutinya.

Blusukan di jalanan
BIK yang juga bekerja sama dengan Golden Future Foundation, telah menggelar aksi dakwah blusukan ke daerah pinggiran sejak beberapa bulan lalu.

Menerjunkan sejumlah relawan dari kalangan mahasiswa atau pemuda/pemudi Muslim sekitaran Jakarta. Blusukan menyisiri kantong-kantong Muslim marjinal.

Ada kisah yang menginspirasi di balik foto salah satu kegiatan dakwah lapangan para santri BIK, Ahad (2/4) lalu.


Salah seorang relawati tangguh BIK berasal dari Cengkareng, berkeliling mengajari anak jalanan. Mulai dari Gambir, Senen, lanjut ke Klender dan berakhir di Rawabebek, tanpa transpor.

Isnaeni Tri Junia (bercadar), menceritakan ibu yang ada di hadapannya adalah seorang jama'ah binaan di mushala stasiun Gambir.

Seorang wanita tuna rungu dan tuna wicara (tuli dan bisu) itu tetap bersemangat belajar mengaji, wudhu dan shalat. Ia selalu menunggu para relawan yang akan datang ke mushala.

Suatu ketika, hanya dirinya sendiri yang menunggu, sementara adik-adik binaan lain telah dibawa pergi relawan agama tertentu ke tempat ibadah mereka.

Meski bisu dan tuli, tapi wanita ini terus berusaha mengaji walau lidahnya yang tak mungkin keluar bunyi huruf jelas.

Isnaeni mengajarinya mengaji dengan bahasa isyarat, tapi ia mengalami kesulitan karena bercadar, sementara orang tuna rungu hanya bisa melihat gerak bibir.

Akhirnya Isnaeni berkorban, ia membuka cadarnya sementara di sana ada banyak laki-laki. Kegiatan belajar mengaji bisa berjalan dengan bahasa isyarat.

Hanya Allah 'lah yang tahu dan menilai apa yang diucapkan oleh sang ibu.

Jika pekan berikut sang ibu kembali hadir mengaji, semoga bisa ditelusuri bagaimana sisi kehidupannya selama ini.

Untuk terlibat dalam program dakwah jalanan BIK, hubungi Ustadz Anshari Taslim (081384232723)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.