Jepang modern adalah "surganya" kaum laki-laki yang ingin bersenang-senang dengan berbagai level maksiat

Ilustrasi anak-anak perempuan belasan tahun menjadi mesin uang (Foto AKB48)
Nilai mainstream Jepang adalah kedisplinan, kebersihan, kejujuran, kerja keras, integritas dan keuletan yang semuanya dipandang sesuai nilai-nilai Islam.

Tak diragukan, bangsa Jepang termasuk salah satu masyarakat di dunia dengan perekonomian dan teknologi paling maju, serta ketertiban sipil yang luar biasa.

Inilah alasan sejumlah tokoh Muslim menyebut Jepang sudah "Islami", walau di sana tak banyak orang Islam.

Namun jangan salah paham dulu, sifat Islami bukan soal keunggulan duniawi. Mayoritas orang Jepang ambigu dalam memandang Tuhan maupun agama.

Pandangan mereka tercampur antara Atheisme, klenik, Non-Theisme, Kristen, politheisme hingga kepercayaan lokal yang memuja arwah leluhur.

Atau bisa dikatakan, orang Jepang tak menganggap penting sistem kepercayaan.

Bahkan, budaya nasional lebih dianggap serius daripada agama. Nilai-nilai harga diri bisa membuat mereka memutuskan bunuh diri.

Orang Jepang juga kreatif, saking banyaknya ide liar yang diwujudkan, kadang membuat orang luar memandang sangat aneh dan menjijikkan.

Tentu saja dalam hal ini, hal-hal tersebut tak sesuai ajaran Islam. Belum lagi jika melongok ke dalam dunia malamnya.

Budaya populer dan kondisi kaum perempuan di Jepang bisa membuat Muslim geleng-geleng kepala. Tak perlu seorang Muslim, seorang warga Barat non-Muslim pun bisa keheranan.

Meski tak mewakili banyak warganya yang konservatif dengan nilai ketimuran, industri "kemulusan perempuan" di Jepang mencapai ratusan triliun per tahun, kisah mereka sudah tersohor sejak masa lalu.

Tak salah jika Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, mengangkat tokoh Maiko. Seorang wanita penghibur asal Jepang yang menularkan penyakit kelamin pada Robert Mellema.

Jepang modern adalah "surganya" kaum laki-laki yang ingin bersenang-senang dengan berbagai level maksiat.

Gambar daging telanjang hingga gadis-gadis sekolah "kawaii" dijual bebas di toko-toko majalah.

Jika Muslimah wajib menutup aurat kecuali wajah dan telapak tangan, maka "aurat" perempuan di dalam industri Jepang, secara radikal (maaf) hanya alat kelamin yang disensor secara legal oleh pemerintah.

Remaja putri menjamur ingin mencari uang dengan cara tak biasa. Orang asing bisa "muntah" melihat budaya pop ini.

Para gadis sekolah "menjual dirinya" sebagai idola di teater musik, kafe, restoran, hingga pacar sewaan. Ada bermacam "service" (non seksual) yang ditawarkan untuk menyenangkan pelanggannya.

Di waktu malam, sekelompok gadis berpakaian sekolah ini berkumpul di panggung, lalu menari secara berjama'ah diiringi lagu tertentu.

Penontonnya bukanlah remaja laki-laki sepantaran, tapi laki-laki dewasa sampai bapak-bapak setengah baya yang masih memiliki fantasinya.

Tiap penggemar memiliki gadis favorit. Ada uang lebih yang harus dikeluarkan agar bisa bersentuhan atau berfoto langsung seusai pertunjukan.

Banyak zona abu-abu dalam hukum Jepang terkait gadis sekolahan.

Berbeda dengan hukum Islam yang mengharamkan hal seperti ini, atau nilai Barat yang menganggapnya eksploitasi anak kecil.

ABG tanggung yang terjebak dalam gemerlap kota besar sangat rentan pada perdagangan manusia tanpa bisa mereka sadari sendiri.

Surga para peraba
Remaja perempuan juga sangat rentan pelecahan seksual di moda transportasi umum, khususnya kereta bawah tanah.

Moda transportasi tersebut adalah salah satu pilihan utama masyarakat Jepang untuk berpergian, sehingga tak jarang penumpang berdiri berdesakan.

Situasi ini rupanya digunakan para lelaki melakukan aksi pelecehan terhadap gadis muda.

Annette Ekin di situs Al-Jazeera melaporkan, gadis berseragam menjadi sasaran utama para pelaku kejahatan.

Tanaka Ogawa (36) pertama kali mengalami pelecahan seksual saat berumur sepuluh tahun.

Ia merasa syok dan sakit secara fisik. Kejadian tersebut semakin sering menimpa dirinya ketika menjadi murid SMA.

Namun, ia merasa takut mengungkapkan kemarahan kepada pelaku yang berumur lebih tua, karena dalam budaya Jepang hal tersebut dianggap tidak sopan.

Ia juga tidak ingin menarik perhatian, sementara orang tuanya tidak pernah mempedulikan tentang hal ini.

“Saat saya SMA, semua gadis sepertinya (pernah) menjadi korban”, ujar Ogawa.

Banyak wanita Jepang mengaku berhenti mendapat pelecehan ketika lulus sekolah tinggi dan tidak lagi mengenakan seragam.

"(Ini) tidak pernah terjadi (lagi) saat saya tidak lagi pakai seragam", ujar Kotomi Araki (20), seorang mahasiswa sarjana ekonomi, yang pernah mengalami pelecehan seksual.

Ketika ditanya tentang persepsi anak sekolah, Araki mengacu pada pola yang disebut "Kawaii".

"Mereka (pria Jepang) menyukai gadis yang lucu, masih murni, muda. itulah yang (mereka) pikir menarik secara seksual", ujar seorang pria Jepang berumur 38 tahun.

Di distrik pinggiran lampu merah tersedia gadis muda “sebagai menu hiburan”. Manga pornografi di pun kerap menampilkan gambar siswi sekolah dan dapat dijual bebas.

Baru pada 2014, pornografi anak di bawah umur termasuk dalam tindakan kriminal.

Menurut Hiroko Goto, profesor hukum pidana di Universitas Chiba, dan wakil presiden NGO HAM Jepang, banyak orang tidak menganggap “meraba” sebagai sebuah kejahatan.

"(Untuk) masyarakat luas, itu bukan masalah besar, ada standar ganda (antara) sudut pandang korban dan sudut pandang sosial", katanya.

Menurut Ogawa, masyarakat merasa tindakan “meraba” sebagai sesuatu yang terjadi begitu saja.

Kejahatan ini diremehkan dengan dianggap hanya sebagai "gangguan".

"Yang mengejutkan adalah, saya tidak menyadari apa yang saya alami ini adalah kejadian tidak senonoh", kata Ogawa.

Salah satu masalah lainnya adalah perbedaan pengertian tentang “meraba” (bahasa Inggris : groping).

Pada umumnya, “meraba” diperseppsi dilakukan di luar pakaian dan termasuk kejahatan kecil, dengan hukuman 6 bulan penjara atau denda $ 4500.

Namun, menurut Yayoi Matsunaga (51), banyak gadis mengalami pelecehan yang lebih jauh.

“(Beberapa tindakan itu) dapat dikatakan sebagai pemerkosaan”, ujarnya.

Polisi seharusnya dapat mengidentifikasi kejahatan itu dengan Pasal 176 KUHP, dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Tapi hanya sebagian kecil dari total kasus yang dilaporkan menggunakan pasal ini.

Pasal 177 memang membawa hukuman yang lebih berat, tapi definisi hukumnya sangat sempit dan hanya menganggap pemerkosaan melalui hubungan seksual.

Matsunaga dan putrinya mulai aktif dalam mengkampanyekan penolakan terhadap aksi ini. Ia membuat Groping Prevention Activities Center berbasis di Osaka.

Ia menyarankan para gadis menggunakan pin dengan pesan seperti “Meraba adalah tindakan kejahatan”, dan melatih mereka agar berani mengatakan “tidak” kepada para pelaku.

Bahkan, bagi wanita yang lebih dewasa, berbicaara tentangnya juga sama sulitnya.

Tahun lalu, kementerian tenaga kerja Jepang merilis temuan studi yang menyatakan, sepertiga dari 10.000 responden perempuan berusia 25 sampai 44, pernah dilecehkan secara seksual di tempat kerja.

Hanya kurang dari 40 persen wanita yang mengambil tindakan untuk mengatasinya.

"Masyarakat Jepang sangat patriarkal", ujar Goto.

Pemikiran ini berakar dalam ajaran Konfusius dari China dan tersebar luas setelah berakhirnya era kekaisaran Meiji pada tahun 1912.

"(Ada) keyakinan bahwa pria harus unggul dari wanita", imbuhnya.

Jepang jaman pra-modern sebenarnya tidak patriarki, menurut Emiko Ochiai, seorang sosiolog dan sejarawan di Universitas Kyoto.

"Pada masa kuno, Jepang memiliki raja perempuan, tetapi menjadi jarang di periode berikutnya. Di periode abad pertengahan, ada prajurit atau Jenderal perempuan, ,kata Ochiai.

"Konfusianisme mempengaruhi penurunan status perempuan (di Jepang)", katanya.

Ideologi yang disebarkan lewat cerita populer dan drama "diperkuat dalam proses modernisasi di bawah pengaruh Barat".

Bagi gadis-gadis sekolah yang bekerja memberi jasa penghilang penat, diraba artinya tambahan uang. Mungkin lebih dari itu, tergantung level moral.

Transaksi paling parah yang terjadi adalah hubungan seksual.

Sebetulnya hal seperti ini tak hanya ada di Jepang, melainkan ada di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dimana pelacur ABG menjadi rahasia umum.

Angka kelahiran rendah
Jepang pernah mengalami "kesuksesan populasi" pada masa setelah mereka porak-poranda akibat perang dunia 2.

Masa itu telah lewat. Dengan tingginya harapan hidup, membuat Jepang kini menjadi sebuah negara yang banyak memiliki manula.

Tapi masalah utamanya adalah penurunan populasi. Jumlah bayi yang lahir dari rahim wanita-wanita Jepang terus menurun. Tingkat kelahiran atau kesuburan < 2 anak. Rerata 1,3 anak per perempuan.

Lama-kelamaan perekonomian ikut terancam. Jumlah umur tak produktif (manula), sementara regenerasi usia produktif cenderung menurun.

Kejayaan industri hiburan Jepang yang menjajakan kecantikan dan kemulusan kaum wanita justru berbanding terbalik dengan angka kelahiran.

Ada banyak alasan tak memiliki anak, bukan hanya itu, ada banyak alasan seseorang tak mau menikah.

Sejumlah orang sangat individualistik, memilih melajang karena fantasi-fantasinya sudah terpuaskan lewat hiburan yang tersedia. Gadis kawaii sewaan, istri virtual hingga boneka seks.

Lainnya karena alasan tak mau repot, hingga karena alasan mengejar karir.

Gejala-gejala ini sudah umum bermunculan di masyarakat urban dunia dengan tingkat stres tinggi akibat pekerjaan.

Jepang dan Islam
Tak bisa dipungkiri ada nilai-nilai Jepang yang bersesuaian dengan ajaran Islam, bahkan bangsa itu telah sukses mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang Jepang mungkin tak terlalu peduli jika budaya mereka dinilai salah dari sudut pandang Islam.

Sementara agama Islam dengan pilar-pilarnya sendiri harus dilaksanakan pengikutnya.

Muslim pun hanya bisa tertawa jika aturan tak boleh bersentuan dengan lawan jenis sampai menikah, membuat orang Jepang keheranan.

Satu hal yang pasti, orang Jepang disalahkan atas anjloknya populasi ikan Paus dan Tuna biru di samudera Pasifik hingga Antartika.

Sumber: Al-Jazeera, Vicenews, CNN
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.