Warga yang berhasil melarikan diri mengatakan, hampir tidak ada makanan selain tepung dicampur air dan biji-bijian gandum yang direbus

Salah satu pasien anak yang menderita kekurangan gizi di RS milik Medecins Sans Frontieres (MSF), Qayyara, Irak (6/4/2017. Reuters)
Baru-baru ini, telah dibuka sebuah bangsal spesialis penanganan anak-anak kekurangan gizi dari Mosul yang kian meningkat. Mayoritas pasien berusia kurang dari enam bulan.

Kebanyakan pasien anak ini lahir ketika pasukan Irak memutus jalur suplai dari Mosul ke arah Suriah agar mengepung militan ISIS di dalam kota.

Namun strategi itu turut menyebabkan warga sipil kekurangan makanan.

"Biasanya krisis kekurangan gizi terjadi di Afrika, bukan di negara seperti ini",, ujar dokter anak Rosanna Meneghetti di rumah sakit milik Medecins Sans Frontieres (MSF) di Qayyara, 60 km selatan Mosul.

"Kami tidak mengantisipasi hal ini", lanjutnya.

Jumlah kasus yang tercatat masih di bawah level kritis, tetapi petugas tetap menyoroti kesulitan warga sipil karena tersandera oleh militan.

Pasukan Irak, dengan dukungan koalisi pimpinan AS, berhasil merebut sebagian Mosul. Mereka masih berupaya mengusir militan dari beberapa distrik di barat, termasuk Kota Tua.

Warga yang berhasil melarikan diri mengatakan, hampir tidak ada makanan selain tepung dicampur air dan biji-bijian gandum yang direbus.

Di bangsal perawatan, tim dokter memonitor kemajuan berat bayi, memberi makan pasta kacang khusus secara bertahap agar membiasakan mereka makan.

Beberapa pasien anak terkena penyakit lain terkait kekurangan gizi, akibat sistem kekebalan tubuhnya melemah sehingga membuat mereka rentan.

"Ini hal baru di Irak", ujar koordinator proyek MSF Isabelle Legal.

"Sebagian besar dokter (Irak) tidak pernah melihat ini (kasus malnutrisi)", imbuhnya.

Menurut Legal, salah satu masalah ialah kurangnya tradisi menyusui oleh ibu-ibu Irak. Bayi biasanya diberi susu formula, yang saat ini tidak bisa ditemukan di Mosul.

Namun, para ibu pun sulit menyusui karena ketegangan fisik dan emosional di daerah perang.

"Para ibu sangat stres dan tidak dapat menemukan makanan bagi dirinya sendiri sehingga tidak dapat menghasilkan banyak susu", ujar Meneghetti.

Seorang ibu dari Mosul merasa tidak memiliki pilihan selain memberi air gula, yogurt, atau campuran tepung dengan air kepada bayinya.

"Semua ini karena ISIS", ujar ibu yang lain.

Bangsal anak terlihat sudah penuh. Dua pasien harus berbagi satu tempat tidur.

Bahkan , sebagian besar bagian untuk perempuan digunakan merawat anak yang cedera akibat dampak perang, seperti rusaknya anggota badan, luka bakar, atau terkena pecahan bom.

Seorang gadis bernama Dua Nawaf menderita luka bakar di kepala dan tangan dalam serangan udara koalisi AS di distrik Jadida bulan lalu. Serangan itu menewaskan lebih dari 100 orang, termasuk kedua orang tuanya.

"Keluarganya mengatakan kepada saya, bahwa dia memiliki beberapa masalah, terutama saat malam hari. Jadi kami juga memberikan (pemulihan) kesehatan mental untuknya", ujar Meneghetti.

Beberapa bayi dirujuk ke RS karena pernapasan, seperti bronchiolitis dan radang paru-paru.

Kebanyakan pasien ini berasal dari kamp pengungsi. Kondisi sempit memungkinkan virus menyebar.

Dua pasien menderita asfiksia lahir, terjadi akibat otak bayi dan organ lainnya tidak mendapat cukup oksigen 'sebelum, selama atau sesaat' setelah lahir.

Meneghetti menjelaskan, kemungkinan ibu mereka pun membutuhkan bantuan melahirkan, tapi tidak dapat mencapai rumah sakit sehingga melahirkan di rumah. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.