Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri memperingatkan negaranya sudah mencapai "titik batas" dengan menampung lebih dari satu juta pengungsi Suriah

Warga mengendarai sepeda motor meninggalkan daerah sekeliling bendungan Sungai Efrat, timur kota Raqqa, Suriah, Kamis (30/3/2017). (REUTERS)

Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri memperingatkan negaranya sudah mencapai "titik batas" dengan menampung lebih dari satu juta pengungsi Suriah.

Hariri menyerukan dukungan dan investasi dari komunitas internasional.

Pernyataan Hariri datang saat badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) menyebut lebih dari enam juta warga Suriah telah meninggalkan negaranya sejak perang meletus pada 2011.

Dari jumlah tersebut, Lebanon menampung lebih dari satu juta warga Suriah, atau sekitar seperempat penduduknya yang berjumlah empat juta.

"Masalah ini sudah mencapai titik puncak bagi kami di Lebanon. Kami ingin komunitas internasional mendengarkan kami dan memahami bahwa Lebanon sedang menghadapi krisis", kata Hariri kepada media asing di Beirut, jelang konferensi internasional mengenai masa depan Suriah pasca konflik yang akan diadakan Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Brussel, 5 April.

Politisi Sunni ini mengatakan akan mengajukan permintaan investasi internasional agar memperbaiki infrastruktur, termasuk sekolah, jalan, lingkungan dan keamanan di Lebanon selam konferensi tersebut.

Ia juga mengusulkan komunitas internasional berkomitmen memberikan 10-12 ribu dolar AS kepada setiap pengungsi (di Lebanon) untuk lima sampai tujuh tahun.

Hariri khawatir krisis pengungsi akan menjalar ke tingkat sosial karena adanya "ketegangan besar" antara warga Lebanon dan Suriah di sebagian besar komunitas.

"Saya mengkhawatirkan gejolak sipil", katanya, dikutip kantor berita AFP.

Menurutnya, arus pengungsi Suriah di Lebanon membuat sumber daya ekonomi negara itu makin mepet.

Dalam sistem pendidikan, ruang-ruang kelas jadi makin penuh. Jumlah murid bertambah dua kali lipat dalam enam tahun agar mengakomodasi pendidikan anak-anak Suriah.

Tidak seperti pengungsi Palestina yang tinggal di kamp-kamp yang dikelola PBB, pengungsi Suriah di Lebanon tinggal di kamp-kamp mandiri.

"Beberapa mengatakan kami harus punya kamp pengungsi di Lebanon, saya bilang Lebanon sudah menjadi satu kamp pengungsi besar", kata Hariri.

Lebanon sendiri infrastrukturnya hancur selama perang 15 tahun yang berakhir tahun 1990, kini sedang berjuang menghadapi endemi korupsi dan utang publik yang mencapai 140 persen PDB.

Politik negara ini dibagi berdasar kekuasaan sektarian, yaitu Muslim Sunni, Kristen Maronit dan Syi'ah Imamiyah.

Dahulu rezim Assad melakukan intervensi militer dalam perang sipil Lebanon. Kini, milisi Syi'ah Hezbollah terjun dalam perang Suriah untuk membantu Assad. (Antaranews/rslh)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.