Dalam beberapa hari terakhir, hubungan AS-Rusia semakin menegang akibat serangan rudal AS ke Suriah

Menlu AS Rex Tillerson (Reuters)
Dalam beberapa hari terakhir, hubungan AS-Rusia semakin menegang akibat serangan rudal AS ke Suriah.

Tindakan itu dilakukan sebagai respon atas insiden serangan gas kimia di Idlib, Suriah, yang menewaskan puluhan sipil. AS yakin rezim Assad melakukan serangan.

Namun, Rusia, yang menjadi sekutu Basyar al-Assad, menolak gagasan tersebut, dengan mengklaim cerita bahwa bahan kimia berasal dari gudang senjata oposisi.

Moskow juga tidak setuju dengan serangan udara AS ke pangkalan udara militer di Homs, dengan menyebutnya melanggar hukum internasional.

Sejak itu, aksi saling tuding terjadi.

Di tengah tensi itu, AS-Rusia sepakat membentuk tim pemulihan hubungan kerja sama, setelah kunjungan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson ke Moskow, Rabu (12/4) lalu.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Kamis (13/4) mengklaim jika dua negara besar itu telah sepaham, bahwa serangan udara AS di Suriah tidak semestinya terulang.

Lavrov mengatakan, pemahaman ini "disimpulkan" berdasarkan kunjungan Tillerson.

Namun, di Washington, Departemen Luar Negeri AS menegaskan, Menlu Tillerson tidak pernah menghilangkan kemungkinan adanya serangan selanjutnya jika serangan terlarang masih terjadi.

"Menteri hanya menjelaskan bahwa saat ini tidak ada target lainnya setelah serangan rudal kemarin, tapi dia tidak menutup kemungkinan tindakan itu akan dilakukan lagi", ujar juru bicara Deplu Mark Toner dalam pernyataan.

"Dia menekankan, Rusia memiliki pengaruh pada rezim Assad, agar memastikan AS tidak perlu bertindak lagi", tegas Toner. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.