Relawan White Helmet dengan perlindungan seadanya, mencoba membersihkan warga menggunakan air untuk mengurangi kontaminasi

Anak-anak berguguran dalam perjalanan
Lebih dari 300 warga Khan Syaikhun, Idlib, terdampak langsung serangan gas kimia yang diduga kuat diluncurkan rezim Assad.

Laporan angka kematian terus melonjak hingga 100 orang, menurut sumber medis lokal.

Fasilitas medis di kota Khan Syaikhun pada hari serangan juga turut digempur sehingga nyaris lumpuh.

Hal ini membuat para korban yang masih hidup terpaksa dipindahkan ke RS lain di provinsi Idlib, atau dibawa ke Turki.

Turki kirim petugas medis dan penanganan gas kimia beserta ambulans evakuasi
Pagi itu, Selasa (4/4), Khan Syaikhun dihajar serangan udara berulang seperti biasa. Selama bertahun-tahun kota ini jadi sasaran karena dikontrol oleh kelompok oposisi Sunni.

Gempuran menyasar area pemukiman warga sipil. Ternyata diantara bom itu ada yang mengandung senjata kimia.

Tim penyelamat White Helmet bergegas terjun ke titik-titik serangan. Di lokasi telah nampak tanda-tanda gas kimia meracuni warga.

Puluhan korban yang terkontaminasi telah meninggal atau sekarat. Lainnya ada yang pingsan atau mengalami gejala keracunan akut.

Relawan White Helmet dengan perlindungan seadanya, mencoba membersihkan warga menggunakan air untuk mengurangi kontaminasi.

Mereka yang kehilangan kesadaran segera dikirim ke rumah sakit terdekat kota tetangga, seperti Ma'arat Nu'man, Kafr Nabl dan Haas.

Sejumlah korban lain segera dilarikan ke negara tetangga, Turki. Namun, sebagian darinya akhirnya meregang nyawa dalam perjalanan.

Gambar yang dirilis aktivis media lokal menunjukkan anak-anak yang terkontaminasi telah dimasukkan ke kantong mayat.

Awalnya 20 korban jiwa, lalu 30 dan naik menjadi 50. Laporan terbaru telah menyebut 60 korban, bahkan yang terburuk mencapai 100 nyawa hilang.

Berbagai negara menyatakan kecaman atas serangan biadab yang melanggar hukum internasional ini, dengan pelakunya hampir pasti adalah militer rezim Assad.

Amerika Serikat percaya, gas mematikan Sarin kembali digunakan dalam pembantaian di Khan Syaikhun.

Tapi seperti biasa, rezim Assad menyatakan "membantah melakukan serangan kimia". Rusia sebagai sekutu Assad mengumumkan propaganda, bahwa "tak ada operasi serangan udara di Idlib".

Sedangkan Menteri Luar Negeri Perancis menilai serangan kimia ini dilakukan untuk mengetes posisi pemerintahan baru AS menyikapi rezim Assad di Suriah.

"Ini adalah tes. Itu sebabnya Perancis mengulangi pesan, terutama kepada AS agar memperjelas posisi mereka", kata Jean-Marc Ayrault. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.