Dua wartawan melayangkan keluhan terhadap pemerintah Amerika Serikat. Mereka menuduh AS memasukan namanya dalam "daftar sasaran pembunuhan"

Jurnalis Bilal Abdul Kareem saat diwawancara Risalah usai keluar dari Aleppo
Dua wartawan melayangkan keluhan terhadap pemerintah Amerika Serikat. Mereka menuduh AS memasukan namanya dalam "daftar sasaran pembunuhan".

Keluhan diajukan pada Pengadilan Distrik Kolumbia, AS pada Kamis (30/3) atas nama Ahmad Muaffaq Zaidan (warga negara ganda Pakistan-Suriah yang bekerja untuk Al-Jazeera) dan Bilal Abdul Kareem (warga AS, memberi kontribusi lepas bagi sejumlah media).

AS disebut menggunakan sistem informasi melalui program pengawasan Skynet.

Program ini kerap digunakan dalam memandu serangan pesawat tak berawak kepada mereka yang dituduh "teroris" secara sepihak.

Para penggugat menyebut AS berkonspirasi melakukan pembunuhan di luar perbatasan dan melanggar hukum internasional karena menargetkan warga sipil.

File diajukan oleh kelompok hak asasi berbasis di Inggris, Reprieve, dan firma hukum berbasis di Washington DC, Lewis Baach.

Gugatan itu meminta pengadilan menyatakan masuknya wartawan dalam daftar pembunuhan adalah perbuatan ilegal.

Lalu mengeluarkan perintah menghapus nama mereka, dan meminta AS menghentikan setiap rencana serangan terhadap penggugat.

"Kami tahu mereka menargetkan Bilal, dan kita harus menekan mereka (AS), melalui publisitas, untuk mencegah mereka melakukan hal itu", ujar Clive Stafford Smith, pendiri dan direktur Reprieve.

"Mengenai Ahmad Zaidan, kami memiliki salinan Power Point (milik AS) yang menegaskan dia masuk dalam daftar (pembunuhan). Jadi (bukti) itu cukup kuat", kata Smith. 

Kasus Abdul Kareem bahkan "lebih kuat", AS diduga menargetkannya beberapa kali sebelum isu ini muncul.

"Ada tiga percobaan serangan, mungkin lebih, yang menggunakan drone. Dan satu-satunya negara yang telah memiliki drone saat itu adalah AS", tambah Smith.
 

Skynet menggunakan teknologi metadata (seperti geolokasi dan aktivitas media sosial) untuk menandai individu yang dituding berpotensi sebagai "teroris".

Sistem menempatkan mereka dalam daftar operasi pembunuhan (juga disebut sebagai "disposisi matriks").

"Bila anda menggunakan sebuah algoritma, kedengarannya sangat hebat, tapi algoritma itu disertai bias dari orang yang membuatnya. Masalah ini juga terdapat di Skynet", kritik Smith.


Aktif meliput di Suriah
Dalam karirnya, Zaidan kerap berhubungan dengan kelompok yang masuk list teroris dunia, termasuk wawancara bersama mantan pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden dan pemimpin Jabhah Nushrah, Abu Muhammad al-Jaulani.

Pada 2015, Badan Keamanan Nasional AS menuduh Zaidan sebagai anggota al-Qaeda dan Ikhwanul Muslimin.

Sementara Bilal Abdul Kareem, menjadi salah satu wartawan independen yang melaporkan langsung dari medan pertempuran Aleppo tahun lalu bagi sejumlah media.

Ia juga telah mewawancarai anggota afiliasi al-Qaeda Suriah di wilayah oposisi.

Bilal pun sempat ikut terkepung di Aleppo timur. Januari lalu, Risalah berkesempatan mewawancarainya untuk berbagi kisah horor di Aleppo.


Dalam kasus ini, penargetan Bilal melanggar hak konstitusionalnya di bawah Amandemen keempat (larangan penyitaan bukti /data) serta Amandemen kelima (menjamin warga AS dalam proses hukum).

Gugatan telah diajukan terhadap Presiden Donald Trump, Departemen Pertahanan, Departemen Keamanan Dalam Negeri, Departemen Kehakiman, CIA, serta beberapa lembaga dan kepala
departemen yang berhubungan dengan keamanan. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.