Sekitar 10 anggota Taliban menyamar dengan seragam dan mengendarai kendaraan militer

Tentara Afghanistan di depan pangkalan militer yang diserang Taliban. (Reuters)
Presiden Afghanitan Ashraf Ghani mengumumkan hari Minggu (23/4) sebagai hari berkabung nasional setelah lebih dari 100 prajuritnya tewas diserang Taliban hari Jum'at (21/4) lalu.

Ghani menilai, serangan itu sebagai "tindakan pengecut".

Para tentara di pangkalan militer Shaheen di dekat Mazar-e Sharif di utara Afghanistan diserang sekitar 10 pejuang Taliban yang menyamar dengan seragam dan mengendarai kendaraan militer.

Mereka ditembaki saat sedang makan setelah shalat Jum'at. Kebanyakan tentara sedang tak bersenjata.

Kementerian Pertahanan, seperti dilansir Reuters, menyebutkan korban tewas lebih dari 100 orang. Tapi CNN, melalui sumbernya, menyatakan korban tewas mencapai 140 orang.

Menurut juru bicara militer Afghanistan, Abdul Qahar Araam, penyerang berseragam memasuki pangkalan menggunakan kendaraan, lalu langsung melepas tembakan dan melempar granat.

Tembakan itu disusul ledakan di salah satu gerbang masuk ke pangkalan. Setelah enam jam baku tembak, serangan pun berakhir.

Dari pihak penyerang, setidaknya 5 orang tewas dan satu orang ditangkap.

“Situasinya sangat kacau dan saya tak tahu harus melakukan apa.. Ada letusan senjata api dan ledakan di mana-mana”, kata seorang tentara yang terluka, kepada Reuters.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, pada Sabtu (22/4), menyebut serangan sebagai balasan atas pembunuhan seorang komandan Taliban di utara Afghanistan.

Quari Tayib, seorang komandan Taliban, tewas dalam serangan udara Amerika Serikat 17 April lalu.

Taliban sendiri mengklaim korban tewas di pangkalan itu mencapai 500 orang, termasuk perwira-perwira senior.

Empat penyerang adalah simpatisan Taliban yang pernah bergabung sebagai tentara pemerintah.

Pangkalan Shaheen adalah markas pusat Korps ke-29 Tentara Nasional Afghanistan. Korps ini bertanggung jawab bagi kawasan utara negara, termasuk Kunduz, provinsi yang menjadi tempat pertempuran tersengit beberapa waktu terakhir.

Seperti diketahui, Taliban yang pernah berkuasa antara 1995-2001, berbalik menjadi kelompok pemberontak yang melawan pemerintah Kabul pasca invasi AS.

Selain pertempuran terbuka memperebutkan wilayah, Taliban juga kerap melancarkan serangan ke pusat-pusat keamanan.

Sementara pemerintah dan AS terus menggempur posisi Taliban dari udara.

Aksi jual beli serangan ini menyebabkan peningkatan korban sipil sejak 2015. (CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.