Setelah menyebar berita Dr. Zakir Naik terkait ISIS, pelawak Ernest meminta maaf

Dr. Zakir Naik
Umat Islam Indonesia antusias menyambut Dr. Zakir Naik yang akan menggelar safari dakwah di Indonesia akhir Maret. Namun di sisi lain, ada penentangan atas kedatangan dai fenomenal asal India.

Kegembiraan bisa terlihat di media sosial kedatangannya pekan lalu. Yaitu di Facebook dan Twitter.

Kedatangan Dr. Zakir Naik yang bertepatan dengan kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi dianggap berkah tersendiri bagi Indonesia.

Dr. Zakir berkunjung beberapa hari untuk meninjau persiapan safari dakwah itu.

Namun polemik kemudian muncul setelah "pelawak" Ernest Prakasa menyerang pertemuan Zakir Naik dengan wapres JK.

Menurut Ernest, dai yang berlogat bahasa Inggris ala India itu adalah sosok yang "mendanai ISIS".

"JK dgn hangat menjamu Zakir Naik, org yg terang2an mendanai ISIS. Sulit dipahami", tulis Ernest dalam postingannya di Twitter.

Komentar Ernest ini memicu lebih banyak kecaman daripada pujian.

Beberapa orang yang mendukung mengatakan, Zakir Naik adalah "ulama radikal yang harus dilarang masuk ke Indonesia".

Sementara beberapa netizen mengajak Ernest hadir di acara Zakir Naik, agar membuktikan apakah benar ia radikal.

Ernest Prakasa mengutip sumber pemberitaan media India November lalu soal Zakir Naik.

Dalam situs berita NDTV disebutkan, yayasan yang dipimpin Zakir Naik, Yayasan Riset Islam atau IRF, telah memberikan dana beasiswa pendidikan bagi simpatisan ISIS.

Badan Penyidik Nasional India atau NIA menyebut IRF memberikan beasiswa sebesar 80 ribu rupee atau sekitar Rp 16 juta di bulan Oktober 2015 kepada sosok bernama Abu Anas.

Pria itu kemudian ditangkap pada Januari 2016 karena berencana berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.

Akibatnya, kepolisian menggeledah IRF dan menyita rekaman-rekaman ceramah umum Zakir Naik, termasuk dokumen-dokumen properti dan investasi, pendanaan dari dalam maupun luar negeri.

Pemerintah India membekukan IRF selama lima tahun dengan tuduhan aktivitas ilegal.

Zakir Naik juga menjadi sorotan pemerintah India setelah kepolisian Bangladesh menuding ceramahnya memicu paham terorisme dalam penyerangan di kafe Dhaka, Juli 2016, yang menewaskan 20 orang.

Sedangkan dalam wawancara dengan Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di Indonesia, Zakir Naik menjawab tudingan dirinya radikal.

"Dua tahun lalu (2 Maret 2015), saya menerima penghargaan tertinggi dari Pemerintah Saudi 'King Faisal Award', semacam Nobel Prize dalam dunia Islam untuk pelayanan kepada Islam. Apakah mungkin, Kerajaan Saudi Arabia yang memiliki intelijen negara memberi penghargaan tertinggi kepada seorang teroris?", kata Dr. Zakir.

"Saya juga menerima penghargaan tertinggi kedua Penguasa Dubai dari keluarga al-Makhtoum. Apakah mungkin Penguasa Dubai yang juga memiliki intelijen negara, memberi penghargaan tertinggi kepada seorang teroris. Itu pun tidak mungkin. Itu semua itu hanya propaganda negatif saja", ujarnya.

"Tiga tahun yang lalu, saya juga menerima penghargaan tertinggi dari Kerajaan Malaysia, apakah intelijen negara tidak tahu kalau ada seorang teroris diberi penghargaan. Itu mustahil. Saya banyak menerima undangan dari Kepala Negara Islam di seluruh dunia, apakah mungkin mereka mau mengundang dan bertemu dengan seorang teroris? Baru kali ini ada seorang penerima penghargaan sebagai orang yang tertuduh (teroris). Orang itu hanya Zakir Naik", ia mempertanyakan.

Dr. Zakir Naik sendiri berpendapat bahwa negerinya yang dikuasai sayap kanan Hindu (BJP), membuat kebijakan yang merugikan Islam.

Apalagi terhadap dirinya yang banyak memualafkan pengikut Hindu melalui acara-acara ceramah terbuka dan diskusi, sampai debat sengit.

"Tapi, pemerintah India yang sekarang tidak senang apa yang saya lakukan. Apalagi, sudah puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang Hindu India yang masuk Islam", katanya.

Panen kecaman, Ernest "melempem" dan minta maaf
Ernest akhirnya meminta maaf soal status kontroversinya lewat akun Instagramnya, Senin (6/3).

Berbagai protes membuatnya merenung, bagaimana jika berita di media tentang isu Dr. Zakir Naik dan ISIS itu tidak benar. Itu artinya ia telah menyebar fitnah.

"Dengan tulus tanpa tekanan dari pihak mana pun saya ingin minta maaf, semoga ini jadi pelajaran bagi saya untuk lebih hati2 dalam menerima informasi di media", tulis Ernest.

Ernest juga mengaku pasrah dan tak mempermasalahkan para netizen yang sudah menganggapnya anti Islam.

"Saya lahir hingga remaja di lingkungan Betawi Muslim & mereka tidak pernah mempermasalahkan agama saya. Saya sering dibully krn Cina, tp tidak pernah dibully krn Kristen. Jadi apa dasar saya untuk membenci Islam?", tambahnya.

"Sekali lagi, saya mohon maaf, dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Dimaafkan atau tidak, saya serahkan pada teman2 sendiri", pungkasnya. (Kumparan/Brilio)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.