Yusril mengajak umat Islam memilih kekuatan politik Islam agar lebih diakomodasi oleh pemerintahan yang memihak umat

Ketua Umum Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra (kanan). (VIVA.co.id)
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, menyerukan umat Muslim di Indonesia mendukung kekuatan politik Islam.

Dengan begitu, kepentingan-kepentingan umat bisa diperjuangkan oleh kekuatan politik yang berlandaskan Islam tersebut.

"Caranya adalah mendukung partai-partai Islam dalam pemilihan legislatif, pilkada dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden", jelas Yusril, dalam siaran persnya, Rabu (15/3).

Yusril menyoroti aksi-aksi damai umat Islam, seperti pada 4 November 2016 (411) dan 2 Desember 2016 (212) yang mengumpulkan jutaan massa.

Menurutnya, aksi-aksi damai seperti itu atau gelaran zikir akbar, tidak cukup jika tanpa langkah nyata membangun politik Islam di Indonesia.

"Adalah kontradiksi, jika umat Islam menjalankan ibadah menurut tuntunan Islam, namun dalam politik mendukung kekuatan politik sekuler, yang tak jarang bukan hanya tidak simpatik kepada Islam dan umatnya, tetapi juga bersifat anti Islam", jelas Yusril.

Mantan Menteri Kehakiman ini menegaskan, kekuatan politik Islam wajib didukung. Yaitu kekuatan politik moderat yang menempatkan Muslim pada posisi 'ummatan wasathan' (pertengahan).

"Bukan kekuatan ekstrim apa lagi yang bersifat intoleran terhadap perbedaan. Kekuatan Islam moderat ini menjunjung tinggi asas-asas Islam, etika dan moralitas Islam yang bertumpu pada prinsip keadilan bagi semua", katanya.

Pemerintah tidak memihak Islam
Menurut Yusril, contoh nyata ketidakberpihakan pada Islam terlihat dalam tiga tahun terakhir ini. Kebebasan tercipta, dan banyak yang merendahkan Islam lewat berbagai media.

Tapi Yusril melihat, tidak ada tindakan apa-apa dari pemerintah.

"Pemerintahan yang tidak simpati kepada Islam, jangan diharapkan akan bersikap adil dan mengayomi Islam dan umatnya", katanya.

Yusril mengatakan, PBB yang berazaskan Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena dukungan politik lemah.

Dua kali pemilu partai itu tidak mendapat suara signifikan yang cukup melewati ambang batas agar menempatkan wakilnya di legislatif maupun eksekutif.

Yusril menargetkan Pemilu 2019 menjadi momentum masuknya kekuatan politik Islam. Ia mengaku tengah membenahi PBB, yang dinilai sebagai Masyumi baru.

"Kalau kekuatan politik Islam semuanya tenggelam, benteng kita untuk menjaga Islam dan juga menjaga Negara Kesatuan RI akan pupuslah sudah. Kami PBB, kami Islam dan kami Nasionalis. Kami cinta agama kami dan kami cinta kepada bangsa dan negara kami", pungkasnya. (Vivanews)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.