Bagi pengungsi wanita Rohingya, harapan hadir dari anak-anak yang baru lahir. Keluarga laki-laki mereka telah tewas atau hilang

Asmot Ara (18) memegang putrinya yang berusia tujuh hari di dalam penampungan Balukhali, kamp pengungsi di Cox Bazar, Bangladesh. (8/2/2017. REUTERS)
Bagi pengungsi wanita Rohingya, harapan hadir dari anak-anaknya yang baru lahir.

"Beberapa bulan yang lalu militer datang ke desa kami dan terus menembakkan senjata", ujar Amina (30), salah satu pengungsi.

Saat diwawancara oleh Reuters, ia memeluk putrinya yang berumur 16 hari, bernama Sumaiya.

"Anda lihat, kami masih bisa hidup hanya karena Allah Maha Pengasih", tambah Amina.

"Mereka menangkap paman dan adik saya, kami tidak tahu mereka masih hidup atau sudah meninggal", lanjutnya.

Amina adalah satu dari sekitar 75.000 pengungsi yang berhasil melewati ladang saat kabur dari tindakan keras militer Myanmar, dan menuju Bangladesh.

Beberapa pengungsi kelaparan selama berminggu-minggu, sementara yang lain harus memberikan semua sisa hartanya untuk membayar penyelundup manusia.

Namun, banyak pula yang gagal menyeberang karena kapalnya tenggelam atau ditembak pasukan keamanan Myanmar saat perjalanan.

Pengungsi wanita yang selamat ini menghadapi tantangan besar, yaitu menjaga bayinya agar terus hidup.

Kamp sering kekurangan fasilitas medis dan air, menyebabkan pekerja lembaga bantuan khawatir pada wabah penyakit seperti kolera.

"Orang-orang tinggal dalam keadaan sulit. Kebanyakan tidak memiliki akses kesehatan dan tidak makanan", ujar Azmat Ulla, pejabat dari Federasi Internasional Palang Merah di Bangladesh.

Banyak wanita harus berjuang sendiri mencari uang. Kerabat laki-lakinya hilang.

Selain itu, mereka mengandalkan bantuan dari Program Pangan Dunia dan lembaga lainnya. Yang membuat klinik maupun pemberian bantuan.

Minara Begum (22), menceritakan kisah saat ia melarikan diri dari desa Nasha Phuru, bersama suaminya, ibu mertua, dan anaknya yang baru berusia satu bulan, Ayub.

"Anak saya tidak mendapatkan cukup ASI karena saya tidak mengkonsumsi makanan bergizi. Saya harus membeli susu bubuk, meskipun tidak begitu baik bagi anak saya", ceritanya.

Rehana Begum (25) yang baru saja melahirkan seorang putri juga bercerita mengenai pengalamannya melarikan diri.

"Kami berada di rumah, tiba-tiba militer datang ke desa dan mulai menembak", ujar Rehana. Ia melarikan diri desa dari Jambuinna, Myanmar, tiga bulan lalu.

"Ketika mendengar suara tembakan, kami segera pergi ke saudara lain. Kami berjalan selama empat jam tanpa makanan dan air agar mencapai perbatasan. Kami harus membayar $18 untuk broker penyebrangan", lanjutnya.

"Mereka ingin mengirim kami kembali, tapi kemudian terdengar suara tembakan dari arah Myanmar. Para penjaga (Bangladesh) melepaskan kami. Mereka mengatakan: 'Tetaplah di Bangladesh dan selamatkan nyawa kalian'...", kenang Rehana.

Banyak wanita mengaku terjadi pemerkosaan oleh tentara Myanmar.

Seorang pejabat dari sebuah badan bantuan besar bahkan mengklaim sudah meyalurkan lebih dari 660 "penanganan" bagi korban penyiksaan.

Ditambah konseling untuk 200 perempuan yang menderita trauma setelah menyaksikan pembunuhan keluarganya.

Sementara itu, sekelompok perempuan dalam jumlah besar terlihat putus asa. Mereka berada di sepanjang jalan, mengemis dari mobil yang lewat, hingga larut malam. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.