Jepang berencana mengirim kapal perangnya 'mampir' di perairan Laut China Selatan dalam rangkaian latihan militer di samudera Hindia

Sebuah helikopter mendarat di Izumo, kapal pembawa helikopter dari Japan Maritime Self Defense Force (JMSDF), di pangkalan JMSDF, Yokosuka, selatan Tokyo, Jepang (6/12/2016. REUTERS)
Jepang berencana mengirim kapal perang melewati perairan Laut China Selatan dalam rangkaian latihan angkatan laut selama tiga bulan di samudera Hindia.

Latihan dilakukan bersama India dan Amerika Serikat pada Juli mendatang.

Sumber menuturkan, kapal perang pengangkut helikopter, Izumo, akan berhenti di Singapura, Indonesia, Filipina, dan Sri Lanka.

Ini merupakan tur laut militer Jepang terbesar di kawasan sejak Perang Dunia II.

"Kapal akan kembali ke Jepang Agustus mendatang. Tujuan pelayaran ini adalah untuk menguji kapabilitas Izumo dalam misi panjang. Kapal akan berlatih dengan angkatan laut AS di LCS", tutur sumber pada Selasa (14/3), dikutip dari Reuters.

Pasca Perang Pasifik, konstitusi melarang Jepang memiliki senjata pertahanan ofensif yang bisa melakukan serangan/agresi ke negara lain.

Karena itu, kapal perang Izumo dibentuk sebagai kapal perusak, bukan kapal penyerang.

Meski demikian, pelayaran militer ini dianggap sebagai unjuk kebolehan Jepang.

Izumo memiliki panjang 249 meter. Atau sama besar dengan kapal logistik era Perang Dunia II, dan dapat membawa hingga sembilan helikopter. Menjadi kapal perang terbesar Jepang saat ini.

Kapal ini menyerupai amfibi Marinir AS, tetapi tidak memiliki dek yang cukup besar untuk meluncurkan pesawat.

Pelayaran militer Jepang bertepatan dengan meningkatnya ketegangan militer di Asia Timur, terutama perairan LCS.

Wilayah ini disengketakan antara China dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia.

China mengklaim hampir 90% wilayah perairan. Dimana Taiwan, Malaysia, Vietnam, Filipina dan Brunei juga mengklaim masing-masing bagian lautnya.

Sejumlah laporan lain, klaim China ikut memtong hak berdaulat Indonesia (Zona Ekonomi Eksklusif) di utara Natuna.

LCS memiliki sumber daya perikanan yang kaya, ditambah potensi minyak dan gas, dan dilalui $ 5 triliun perdagangan laut setiap tahun.

Meski Jepang tidak memiliki klaim di perairan itu, Tokyo memiliki sengketa laut dengan Beijing di Laut China Timur.

Jepang dan AS juga kerap melayangkan kekhawatiran terkait "kebebasan berudara dan bernavigasi" di perairan internasional itu.

Presiden AS Donald Trump berencana mengambil tindakan tegas dalam menghadapi China di LCS.

Washington memprotes keras pembangunan pulau buatan dan fasilitas militer di sana, karena dikhawatirkan membatasi kebebasan bernavigasi.

Sementara Jepang ingin mengundang Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, agar mengunjungi kapal Izumo ketika mampir di Subic Bay, sekitar 100 km barat Manila, menurut sumber.

Duterte belakangan "dekat" dengan China setelah ia kerap mengkritik kerja sama Filipina-AS. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.