"Inilah yang harus kita hindarkan. Jangan sampai dicampuradukkan antar politik dan agama. Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik", kata Jokowi

Menag Lukman Saifudin bersama Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Barus Sumatera Utara berpesan agar rakyat Indonesia tidak mencampuradukkan antara politik dengan agama.

Oleh banyak pihak, pesan ini dinilai tidak pas karena dianggap bermaksud memisahkan antara agama dan politik atau sekulerisme.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memandang pernyaatan Jokowi tidak dalam konteks sekulerisasi.

Menurutnya, konteks yang dimaksudkan Presiden adalah ingin memisahkan antara adanya motif dan ekses buruk dari aktivitas politik dengan proses dan tujuan mulia dari agama.

"Hemat saya, Presiden ingin menegaskan bahwa tak boleh mencampuradukkan antara adanya yang buruk dari proses dan tujuan berpolitik dengan yang baik dari proses dan tujuan beragama", terang Lukman di Jakarta, Minggu (26/3), dikutip dari situs Kemenag.

Menag yakin, Jokowi menyadari betul realitas bangsa Indonesia yang religius, yang warganya selalu melandaskan diri dengan nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan kemasyarakatannya.

Apalagi, lanjut Menag, pernyataan Presiden itu juga diiringi dengan pesan bahwa perbedaan adalah anugerah Allah bagi Indonesia yang harus dijaga.

Sebelumnya Jokowi menyinggung tentang pemisahan agama politik terkait upaya mencegah gesekan antar umat beragama.

"Memang gesekan kecil-kecil kita ini karena pilkada, karena pilgub, pilihan bupati, pilihan walikota, inilah yang harus kita hindarkan", kata Presiden saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Sumatera Utara.

Karena rentan gesekan itulah, ia meminta tidak ada pihak yang mencampuradukkan politik dan agama.

"Inilah yang harus kita hindarkan. Jangan sampai dicampuradukkan antar politik dan agama. Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik", kata Jokowi.

Jokowi berpesan kepada masyarakat untuk menghindari konflik horizontal, seperti antarsuku atau antaragama.

Menurutnya, keberagaman suku, agama, dan bahasa, kata Kepala Negara, justru harus jadi kekuatan NKRI. (Kemenag/Kompas/Antara/JPNN)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.