Gara-gara putri Ameera al-Taweel tidak menutup aurat, Kerajaan Saudi disoroti masyarakat Indonesia. Tapi bagaimana sebenarnya aturan jilbab dan perempuan di wilayah negeri itu?

Aturan berpakaian menutup aurat bagi perempuan berlaku untuk semua perempuan, termasuk yang bukan Islam
Kedatangan Raja Salman menjadi berita besar di Indonesia. Hal-hal kecil yang dianggap berkaitan dengan Kerajaan bersyariat Islam itu ikut diulas oleh masyarakat.

Salah satunya adalah kenampakan "putri" Saudi yang membuka aurat ketika berada di luar negeri.

Nama yang dimaksud adalah Amira al-Tawil, mantan istri keponakan Raja Salman, pangeran al-Waled bin Talal.

Dalam foto-fotonya yang beredar, Amira memang terlihat "berpakaian sekuler", tidak seperti cara wanita Muslimah berpakaian di Saudi.

Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang kebenaran arti jilbab dan penerapan hukum Islam di Arab Saudi, terutama dalam mengatur aurat wanita.

Bahkan mantan ketua MK, Mahfud MD ikut berkomentar tentang hal ini.

"youtu.be/QlNoxVFTszc Ini puteri Ameera, anaknya Raja Salman. Tidak pakai hijab kok tak dipersoalkan? Kalau disini dikafir2kan loh", tulis Mahfud lewat akun Twitternya @mohmahfudmd.

Netizen kemudian meluruskan karena Mahmud dianggap menyebar hoax. Amira bukanlah putri Raja Salman. Ia juga bukan anggota klan al-Saud.

Dokumentasi Amira yang tidak berjilbab terjadi di luar negeri, ia ditampilkan sangat lancar berbahasa Inggris karena menempuh pendidikan di AS.

Namun di Arab Saudi, hampir tidak mungkin bagi wanita keluar ruangan dengan menyingkap auratnya.

Tahun 2012 lalu, sebuah acara Televisi di Jepang mengadakan liputan kehidupan sehari-hari di Arab Saudi yang sangat ketat mengatur cara berpakaian wanita, termasuk wanita asing (non-Islam).

Acara itu dipandu oleh mr. Akira Ikegami, seorang jurnalis Jepang yang memiliki perhatian terkait dunia Islam dan Arab.

Ikegami ditemani Haruka Christine, perempuan Jepang, yang akan menjadi contoh. Haruka diminta memakai abaya dan penutup kepala terlebih dahulu baru bisa jalan-jalan di luar.

"Haruka, kamu tidak bisa muncul dengan penampilan seperti ini di sini", kata Ikegami, yang menjelaskan aturan kesopanan berpakaian.

Mereka kemudian muncul di pinggir jalan kota Riyadh. Haruka sudah memakai abaya dan kepalanya berkerudung meski tidak rapat.

Mr. Ikegami menjelaskan, para perempuan Saudi dikawal oleh anggota keluarganya (mahram) ketika keluar rumah

Termasuk urusan menyetir mobil yang mengantar mereka menggunakan supir khusus, karena mengemudi sendiri dianggap berbahaya bagi perempuan.

Wanita yang melanggar dan mengendarai mobil bisa dihukum oleh Kerajaan.

Mr. Ikegami dan Haruka mendengar azan
Ketika suara azan berkumandang, toko-toko langsung ditutup dan para pedagang menuju masjid untuk shalat berjama'ah.

Di sebuah supermarket, keduanya hanya sendirian tanpa penjaga dan pembeli karena saat itu sedang waktu shalat.

Mereka juga melihat-lihat barang-barang yang dijual di toko-toko Saudi. Dimana semua makanan dijamin halal. Sementara di toko video/film, sampul yang menunjukkan aurat atau simbol agama lain disensor.

Untuk urusan perbelanjaan, terdapat kasir yang dipisah antara laki-laki dan perempuan.

"Ini pertama kalinya saya melihat yang seperti ini", kata Haruka, menunjukkan kekontrasan dengan budaya di negaranya.

Sementara untuk restoran atau tempat makan, pengelola menyiap tempat khusus keluarga. Tempat tersebut tertutup sehingga perempuan bisa makan tanpa terlihat dari luar. Berbeda dengan ruang umum yang hanya ditempati laki-laki.

Meski demikian, ditemui sejumlah wanita asing (diplomat) yang tidak mengenakan jilbab di restoran itu.

Berikut video lengkap kehidupan sehari-hari di Arab saudi dari sudut pandang TV Jepang:


Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.