"Operasi Euphrate Shield telah berhasil dan selesai. Operasi berikutnya akan memiliki nama yang berbeda", ujar PM Turki

Perdana Menteri Turki Binali Yildrim (Reuters)
Turki telah mengakhiri operasi militer "Euphrate Shield" di Suriah, menurut Perdana Menteri Binali Yildirim pada Rabu (29/3).

"Operasi Euphrate Shield telah berhasil dan selesai. Operasi berikutnya akan memiliki nama yang berbeda", ujar Yildirim dalam sebuah wawancara.

Operasi tersebut diluncurkan sejak Agustus 2016. Turki mengirim pasukan, tank dan pesawat tempur untuk membantu kelompok oposisi Free Syrian Army (FSA).

Tujuannya untuk memukul mundur militan ISIS dari perbatasan.

Selama operasi, Turki berhasil mengambil alih kota perbatasan Jarablus di sungai Efrat, memukul mundur militan ISIS sejauh 100 km dari perbatasan.

Operasi kemudian pindah hingga ke al-Bab. Yildirim mengatakan, daerah ini "sepenuhnya telah diambil alih".

Saat ini, tentara Turki masih ditempatkan di daerah aman sepanjang perbatasan. Jumlah pasukan yang terlibat dalam operasi belum diungkap.

Tujuan lain dari operasi adalah mencegah kemajuan milisi YPG Kurdi di persimpangan sungai Efrat ke arah barat, karena dapat menghubungkan tiga kantong utama Kurdi di Suriah utara.

Turki memandang YPG sebagai perpanjangan dari kelompok militan PKK yang melakukan pemberontakan di tenggara Turki sejak tahun 1984.

PKK dianggap sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Turki sedang mencari celah agar memiliki peran militer dalam operasi Raqqah,

"ibukota" ISIS di Suriah. Namun, Amerika Serikat sudah memasukkan YPG dalam peserta operasi itu. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.