Rezim Komunis ingin menerapkan konsep "identitas China" terhadap etnis-etnis minoritas Islam

Ilustrasi Muslim di China (Al-Jazeera)
Partai Komunis China semakin menunjukan sikap keras terhadap Islam. Para pejabat senior membuat tudingan berulang kali tentang "ekstremisme" global yang masuk ke negaranya, serta keharusan melindungi identitas tradisional China.

Shaerheti Ahan, pejabat partai di Xinjiang pada Minggu (12/2) memperingatkan para pemimpin politik di Beijing bahwa "situasi anti-teror internasional" mendestabilisasi kondisi China.

Xinjiang merupakan daerah dominan Muslim etnis Uighur yang bertahun-tahun ditekan rezim Komunis dengan alasan "separatisme" dan "ekstremisme".

Tahun lalu, Presiden Xi Jinping meminta partai Komunis menerapkan "karakter China" kepada etnis atau agama minoritas.

Pemimpin daerah Xinjiang juga melakukan langkah-langkah pengawasan dan patroli polisi, dengan alasan ancaman kekerasan yang dituding pada kelompok Muslim.

Beberapa Ulama masih tidak yakin mengenai isu masuknya kelompok bersenjata internasional ke wilayah China.

Sentimen anti-Islam mulai terkuak setelah harian China Selatan melaporkaan semakin populernya seruan anti-Islam yang menyasar kaum muda Muslim China.

Pejabat dari daerah otonomi Ningxia Hui, dengan mayoritas populasi etnis Hui (Muslim), menyeru hal yang sama tentang bahaya "ekstremisme Islam".

Dalam pertemuan wilayah, Sekretaris Partai Komunis Ningxia, Li Jianguo membuat perbandingan dari kebijakan Presiden AS Donald Trump untuk menjelaskan maksudnya.

"ISIS dan ekstremis Islam mendorong jihad, teror, kekerasan. Inilah sebabnya mengapa Trump menargetkan Muslim dalam (aturan) larangan kunjungan (ke AS)", kata Li.

"Kebijakan anti-Muslim bukan tentang kepentingan AS atau stabilitas, ini tentang mencegah ekstremisme agama agar tidak masuk ke dalam budaya Amerika", lanjutnya.
Wu Shimin, mantan pejabat urusan etnis di Ningxia, menyerukan penguatan ideologi di wilayah tersebut agar "mempertahankan identitas China" bagi penduduk Hui.

Etnis ini merupakam keturunan pedagang Muslim berabad-abad lalu di Jalur Sutra.

"Akar dari Hui adalah China", kata Wu.

"Untuk membahas kesadaran religius, pertama kita harus membahas kesadaran (tentang) China. Untuk membahas perasaan minoritas, pertama kita harus membahas perasaan orang-orang China", katanya.

Mohammed al-Sudairi, mahasiswa doktoral di Universitas Hongkong dan ahli Islam China, menilai komentar-komentar pejabat Komunis mencerminkan sikap anti-Islam yang mulai digulirkan sejak beberapa waktu lalu.

"Islam dipandang sebagai masalah dalam masyarakat China", kata al-Sudairi.

"Xi Jinping cukup cemas tentang hilangnya kontrol negara atas agama ketika menduduki jabatan. Sehingga ia melakukan intervensi. Saya tidak berpikir hal ini akan menjadi (pendekatan yang) lembut", kritiknya.

Di Xinjiang, ratusan orang tewas selama beberapa tahun terakhir akibat rangkaian kekerasan. Sikap pemerintah "mengeras" sejalan dengan operasi keamanan.

Menurut Beijing, daerah itu menghadapi ancaman separatis dari pejuang Uighur yang dituding terkait al-Qaeda dan ISIS. Namun bukti atas klaim tersebut masih tidak jelas.

ISIS baru merilis sebuah video akhir Februari lalu terkait militan Uighur yang dilatih di Irak dan bersumpah menyerang China.

Jum'at lalu (10/2), Xi bertemu dengan para pejabat Xinjiang.

Ia menugaskan agar menjaga stabilitas dengan mendirikan metaforis dari "tembok besar besi", semacam respon represif militer seperti protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen tahun 1989. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.