Sejumlah isu sensitif tentang Arab Saudi dan Islam di Indonesia harusnya selesai, agar kerja sama kedua negara bisa makin mesra

Ilustrasi (Hidayatullah)
Sejumlah isu sensitif tentang Arab Saudi dan Islam di Indonesia harusnya selesai, agar kerja sama kedua negara bisa makin mesra.

Hal ini diungkap Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust. Nashirul Haq Lc MA, usai menghadiri jamuan delegasi Kementerian Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi, Dr Ahmad Jiilan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selata, Kamis (2/3) malam lalu.

“Isu wahabi, Islam Arab, dan Islam Nusantara, serta persoalan haji, tenaga kerja wanita (di Arab Saudi), hendaknya sudah clear, sehingga tidak mengganggu hubungan yang harmonis selama ini”, kata Nashirul.

Dr. Ahmad Jiilan, bersama Hidayatullah sepakat dengan konsep dakwah wasathiyah dalam bingkai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Yaitu dakwah yang mendidik dan mencerahkan umat, serta bersikap tasamuh (toleran) dalam masalah furu’ (cabang).

Pernyataan senada diulang kembali oleh Jiilan saat berbicang dengan sejumlah aktivis media dakwah.

Diantara yang hadir adalah Pembina Radio Rodja Ustadz Badrussalam, Pembina Surau TV Ustadz Muhamamd Elvi Syam, Direktur Wesal TV Ustadz Afifudin Rohaly, Sekjen Asosiasi Radio-Televisi Islam Indonesia (ARTVISI) Ustadz Diding Sobarudin dan perwakilan dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Pertemuan perwakilan Raja Salman dengan aktivis dakwah dan Ustadz

Dr. Jiilan menjelaskan, berlapang dada dalam perbedaan sesama Muslim adalah aspek penting penyebaran dakwah Islam.

Para aktivis dakwah lebih baik berlapang dada untuk saling menasehati dan tidak terjebak ke dalam fanatisme kelompok.

Salah satu wujudnya adalah membuka diri terhadap orang lain dan memperluas referensi.

“Jangan membatasi diri dengan satu atau dua ulama; satu atau dua buku saja (sebagai rujukan). Pakai juga yang lain! Sehingga ketika ada orang yang hendak mengkritik, mereka tidak mendapatkan celah”, jelasnya.

“Saya tidak menyalahkan kalian memakai Syaikh Bin Bazz, karena beliau adalah ulama umat, bukan ulama Kerajaan. Tetapi saya ingin kalian juga mengambil ulama Yaman, Mesir, Suriah, dan juga ulama Indonesia (sebagai rujukan)”, imbuhnya.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan, kata Dr. Jiilan, kaum Muslimin harus mengikuti ulama di negerinya.

“Sisi lain yang juga perlu diperhatikan, manusia itu mengikuti ulama negerinya. Seiring dengan penghormatan kalian terhadap ulama Saudi dan lainnya, kalian harus menghormati dan mengambil ilmu dari para panutan umat di Indonesia”, tegas beliau.

Sementara itu, Deputi bidang Media Kementerian Agama Arab Saudi Dr Rasyid Az-Zahrani berpendapat penyebaran dakwah dihambat oleh fenomena sebagian dai yang keras dalam bersikap.

Misalnya mudah menuduh setiap orang yang dianggap keliru sebagai ahli bid’ah. Selain mempersempit dakwah, tindakan ini ghuluw (sangat berlebihan).

“Jangan terlalu mudah menuding; ini bid’ah, itu bid’ah. Bila berlebihan, maka ini akan menjerumuskan ke dalam takfir serampangan (mengafirkan orang yang tidak berdasar)”, ujarnya.

Sempitnya pandangan sebagian dai telah membuat mereka terpecah-pecah dan tidak menyatu. Inilah yang harus dihindari.

Sehingga hendaknya semua dai dan ahli dakwah berusaha lebih lapang dada dan terbuka. (Hidayatullah/FokusIslam)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.