Pada awalnya, warga Suriah optimis Assad akan tumbang dengan cepat. Tapi ketika kekerasan digunakan, sementara dunia diam..

Sejak Maret 2011, sekitar setengah juta warga Suriah tewas akibat perang, dan lebih dari setengah penduduk tercecer mengungsi.

Perang Suriah memiliki konsekuensi jauh lebih luas, mempengaruhi jutaan nyawa. Ratusan ribu keluarga berpindah ke penjuru benua, serta banyak yang hilang di laut.

Tapi di luar masalah angka, kehidupan sudah berubah selamanya.

Tiga pengungsi Suriah melakukan wawancara dengan Al-Jazeera mengenai hari-hari awal revolusi, dan apa terjadi sejak saat itu.

Sumber pertama, Diala Brisly, mengingat awal mula aksi protes 2011 sebagai sebuah harapan.

Menurutnya, rezim telah banyak melakukan penahanan dan penyiksaan terhadap orang-orang yang berbeda pendapat.

"Kami berpikir, jika kami melakukan aksi protes, dan rezim membalas dengan kekerasan, PBB dan semua orang akan mengatakan bahwa Assad adalah kriminal. Tapi kami terkejut, tidak ada yang peduli. Media asing tetap menyebutnya pertikaian sektarian, saya tidak paham apa yang mereka bicarakan", ujarnya.

Brisely pernah mencoba mengumpulkan obat untuk didistribusikan saat kekerasan. Namun ia berhenti, pasukan keamanan mulai menangkapi orang-orang yang melakukan itu dengan tuduhan "membantu teroris".

"Saya kehilangan harapan di hari saya memutuskan meninggalkan Suriah", ujar Briesly yang kini tinggal di Perancis.

Sebelumnya, ia pernah mengungsi ke Istanbul. Ia menjadi depresi karena rasa bersalah meninggalkan orang-orang di Suriah.

Briesly memilih mencari suaka di Perancis karena membutuhkan stabilitas kehidupan.

"Saya diberikan jaminan 10 tahun perlindungan. Saya masih mengirim mural (semacam lukisan dinding) ke kamp pengungsian di Lebanon, dan saya membantu White Helmet menyiapkan buku pendidikan anak-anak, tentang ranjau darat. 95% dari pekerjaan yang saya lakukan masih terfokus soal Suriah", ujar Briesly, seorang seniman dari Damaskus.

Mohammad Shbeeb
Mohammad Shbeeb, warga Aleppo, menyebut revolusi hanyalah sebuah khayalan sebelum tahun 2011.

Harapan muncul ketika revolusi Mesir berhasil menggulingkan Presiden Hosni Mubarak.

"Kondisi di Suriah buruk. Pendidikan kurang, dan universitas kami tidak bisa bersaing dengan universitas di dunia. Keluarga Assad menguasai segalanya. Kami tidak memiliki kebebasan atau ruang melakukan apa yang kami inginkan, atau bahkan untuk mengatakan yang kami mau", ujar Shbeeb.

Aksi protes di Aleppo pertama kali terjadi pada 18 Maret, setelah berita rezim menangkapi dan menyiksa anak-anak tersebar ke penjuru negeri.

Shbeeb percaya, mereka akan meraih kemenangan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Sayangnya, kenyataan tidak seperti itu.

"Kami hanya mencari kebebasan, harga diri, dan hak kami", ujarnya.

Ia makin kehilangan harapan saat rezim mulai melakukan tindakan keras terhadap aksi protes yang berjalan damai, namun dunia tetap diam.

Menurutnya, rezim juga melancarkan serangan kimia di Ghouta pada 2013, membunuh ribuan orang.

"Sulit menggambarkan perasaan bahwa saya terpaksa pergi (dari Aleppo). Saya merasa kehilangan jiwa, seolah seluruh dunia melawan saya dan revolusi. Saya merasa sakit, seperti kehilangan diriku sendiri. Benar-benar menyakitkan", ujar Shbeeb yang kini tinggal di Idlib.

Rafif Jouejati
Berbeda dengan Rafif Jouejati, seorang warga Suriah-Amerika. Ia tidak berada di tanah kelahirannya saat revolusi terjadi.

Jouejeti tidak aktif dalam komunitas Suriah-Amerika sebelum revolusi terjadi. Namun, setelah Maret 2011. Ia aktif menyuarakan pertentangan melawan Assad dan seluruh tabiat buruk rezimnya: korupsi, tirani, dan kediktatoran.

Awalnya, Jouejati merasa takut terlibat kampanye karena masih memiliki kerabat di Damaskus.

Jouejeti memulai aksinya sebagai penerjemah berita untuk LCC. Secara bertahap, ia mulai mengambil lebih banyak tanggung jawab dengan mendukung oposisi sekuler, atau kelompok non-kombatan.

Ia bekerja dengan tim yang besar untuk mengembangkan Piagam Kemerdekaan Suriah, sebuah pernyataan dari keinginan rakyat Suriah untuk masa depan negara.

Saat ini ia menulis buku tentang tujuan utama revolusi, yaitu kebebasan, harga diri, dan demokrasi.

Keluarga Assad menerapkan hukum darurat selama puluhan tahun. Menangkapi siapapun yang dicurigai.

Di awal revolusi, berbagai elemen masyarakat bersatu dalam aksi demo damai. Rezim menanggapi dengan represif. Sniper dan mortar mulai digunakan. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.