Warga Turki di Jerman mulai memberikan pilihan suara untuk referendum perubahan konstitusi Turki

Pemungutan suara untuk referendum di konsulat di Berlin, Jerman
Pemungutan suara dilangsungkan di entitas-entitas diplomatik Turki yang ada di Jerman.

Pemungutan suara untuk referendum di konsulat di Berlin, Jerman
Warga Turki di Jerman mulai memberikan pilihan suara untuk referendum perubahan konstitusi Turki, pada Senin (27/3)

Jerman memiliki 3 juta warga dengan latar belakang wilayah Turki, termasuk 800.000 etnis Kurdi.

Sekitar 1,41 juta diantaranya merupakan warga negara Turki yang berhak memberikan suara. Pemungutan suara dilakukan di 13 konsulat Ankara di seluruh Jerman.

Pemungutan suara di Jerman berlangsung dari 27 Maret hingga 9 April. Kotak suara akan disegel dan diterbangkan ke Ankara pada 16 April, ketika pemungutan suara diadakan di Turki.

Di Perancis, terdapat lebih dari 318.000 warga Turki yang berhak memilih. Di Belanda terdapat sekitar 245.600 warga Turki.

Austria, Belgia, Inggris dan Swiss juga memiliki komunitas Turki yang cukup besar.

Beberapa pendukung partai oposisi Turki pro-Kurdi, Partai Demokrat Rakyat (HDP), dalam waktu yang sama menggelar aksi protes di konsulat Turki, Berlin.

Mereka menulis: "6 juta pemilih dari HDP tidak terwakili di kotak suara"

Beberapa anggota parlemen dari HDP telah ditangkap di Turki dengan tuduhan terkait kelompok teroris PKK.

Kritikus itu khawatir, penentang Erdogan di Jerman tidak memberikan suara, karena alasan menghindari "risiko keluarga mereka di tanah air".

Pemungutan suara ini juga yang membuat hubungan Turki dan Eropa menegang.

Jerman dan Belanda sempat melarang pejabat Turki melakukan kampanye di negara mereka.

Erdogan merespon dengan menuduh para pemimpin Eropa melaksanakan "metode Nazi".

Kontitusi Turki akan diubah menjadi sistem presidensial. Jika rakyat setuju (memilih "Ya" untuk referendum) maka jabatan Perdana Menteri dihapuskan.

Menurut Erdogan, sistem baru negara dapat mencegah ketidakstabilan, terutama dalam menghadapi ancaman teroris.

Namun, para penentangnya, khawatir sistem ini memberikan kekuasaan yang besar pada Erdogan. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.