Sejak Januari hingga Maret, 521 orang tenggelam ketika menyeberangi perairan Mediterania dari Afrika utara

5 mayat ditemukan di lepas pantai libya (AlJazeera)
Dua perahu karet ditemukan di lepas pantai Libya pada Kamis (23/3). Dikhawatirkan, sekitar 250 orang telah tenggelam di laut Mediterania.

Laura Lanuza, juru bicara Proactiva Open Arms Spanyol mengatakan, LSM menemukan lima mayat mengambang pada dekat dinghies, 30 km lepas pantai Libya.

Menurutnya, kapal yang ditemukan dapat membawa 120-140 orang.

"Kami pikir, perahu ini sebelumnya penuh dengan penumpang", ujar Lanuza,

Lanuza mengatakan, mayat yang ditemukan adalah laki-laki Afrika berusia antara 16 hingga 25. Mereka tenggelam selama 24 jam sebelum ditemukan di perairan utara pelabuhan Libya, Sabrata.

Juru bicara penjaga pantai Italia mengkonfirmasi penemuan lima mayat tersebut. Saat ini mayat di tempatkan di perahu penyelamat

Migran dan pengungsi dari Libya yang menggunakan kapal bertambah dalam beberapa bulan terakhir, meskipun laut musim dingin cukup berbahaya.

Lebih banyak pengungsi yang meninggal di Mediterania selama awal 2017, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2016, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Dari 1 Januari - 9 Maret tahun ini, setidaknya 521 orang tenggelam ketika menyeberangi perairan. Tahun lalu, diperkirakan 471 orang meninggal.

Sekitar 5.000 kematian tercatat selama 2016.

Lebih dari 6.000 orang telah diselamatkan dari rute Mediterania dalam beberapa hari terakhir, menurut IOM, pada Selasa. Tahun ini, 16.248 migran tiba di Italia, naik dari 13.825 pada tahun lalu.

Bulan lalu, para pemimpin Eropa menandatangani rencana kontroversial membantu membendung arus migran Afrika ke Eropa.

Uni Eropa akan memberikan $ 215 juta kepada pemerintah Libya untuk meningkatkan upaya mencegah pelarian.

Uni Eropa juga akan memberikan dukungan dengan mendirikan kamp-kamp di Libya dan repatriasi para pengungsi yang ingin kembali ke negara asal.

Rencana ini dikritik oleh beberapa kelompok kemanusiaan. Para pemimpin dianggap melupakan nilai-nilai kemanusiaan dan kondisi rapuh di Libya.

Sejak perjanjian dibuat, konsultasi telah berlangsung antara pemerintah Libya, wakil menteri dalam negeri Italia, dan negara Eropa lainnya.

Hari Senin, pemimpin pemerintahan Libya dukungan PBB Fayez Serraj meminta tambahan $ 864 juta untuk bidang militer, penyelamatan, dan peralatan darurat agar dapat membendung migrasi ilegal Libya ke Eropa. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.