Demonstrasi anti korupsi di pemerintahan Vladimir Putin meluas di jantung kota Moskow. Mereka memprotes dugaan korupsi sekutu Putin, PM Dmitry Medvedev

Demo anti korupsi di Moskow
Demonstrasi anti korupsi di pemerintahan Vladimir Putin meluas di jantung kota Moskow, Minggu (26/3).

Ribuan orang turun ke jalan. Polisi menanggapinya dengan tindakan keras. Ratusan orang ditangkap, termasuk tokoh oposisi terkenal, Alexey Navalny.

Seperti diberitakan CNN, Navalny meminta pengunjuk rasa melanjutkan aksinya, meski penangkapan terus terjadi.

“Hari ini kita mendiskusikan (dan mengutuk) korupsi, bukan penangkapan. Saya ditangkap, lantas mengapa? Tak masalah”, ujarnya di akun Twitter.

Tak hanya di Moskow, demonstrasi serupa direncanakan di 100 kota di seluruh Rusia. Tapi pihak keamanan meresponsnya dengan keras.

Menurut catatan kelompok hak asasi Rusia, OVD-Info, lebih dari 700 orang ditangkap. Sedang menurut kantor berita Ria Novosti, 500 orang diciduk polisi.

Secara umum, demonstrasi itu berjalan aman meski polisi mengerahkan banyak petugas anti huru-hara.

Mereka mengapit demonstran, sementara polisi tak berseragam beredar diantara demonstran.

Demonstrasi besar-besaran ini adalah bagian dari kampanye yang disebut “He is not your Dimon”. Ini adalah kata kecil untuk Dmitry, yang merujuk pada nama Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev.

Navalny menuduh Medvedev membangun kerajaan properti global melalui cara korupsi.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 2 Maret, Navalny mengatakan Medvedev memiliki portofolio aset termasuk “potongan-potongan besar tanah di daerah yang paling dicari orang, yacht, apartemen di rumah-rumah tua, kompleks pertanian dan perkebunan anggur di Rusia dan luar negeri".

Navalny mengklaim, semua harta kekayakaan itu dibeli melalui "suap dari oligarki dan pinjaman bank negara".

Juru bicara sang Perdana Menteri, Natalya Timakova, kepada RIA Novosti, mengatakan tak ada gunanya mengomentari propaganda dari tokoh oposisi, yang dinilai melancarkan semacam kampanye politik melawan penguasa.

Navalny, yang terkenal juga dalam aksi anti pemerintah besar-besaran pada 2011, sudah mengumumkan rencananya mengikuti pemilihan presiden 2018.

Februari lalu di pengadilan ulangan, ia dinyatakan bersalah dalam kasus penggelapan untuk kasus yang terjadi pada 2013. Navalny telah mengajukan banding.

Sementara itu, unjuk rasa hari Minggu itu juga masih dibayang-bayangi peristiwa berdarah Kamis lalu.

Denis Voronenkov, bekas anggota legislatif Rusia yang dikenal sebagai pengkritik vokal pemerintahan Vladimir Putin, tewas ditembak di luar sebuah hotel mewah di Kiev, Ukraina. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.